Selasa, 20 Desember 2016

Cerpen "Celurit Warisan"



Dimuat kompas, 11 Desember 2016
Celurit Warisan
Cerpen Muna Masyari

Keesokan malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kaukosongkan. Celurit yang tidak terlalu melengkung dan matanya tidak mengilap -Justru agak coklat seperti berkarat- itu seolah tidak sabar menanti malam eksekusi.
“Celurit ini tidak akan melukai orang yang tidak bersalah.” Jelasmu suatu malam, sepulang dari balai desa. Suaramu tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Kau membasuh celurit berlumur darah dengan air rendaman kertas bertuliskan huruf-huruf hijaiyah yang tidak sempat kubaca isinya.
Kuamati jemari ringkihmu ketika mengusap mata celurit tanpa takut terluka. Bayangan sebuah tangan lepas dari batang lengannya masih menyisakan getaran pada sendi lututku. Hanya sekali tebas tangan itu terdampar ke tanah. Erangan keras penuh kesakitan mengoyak sunyi malam di antara kebungkaman warga yang rapat memagar menyaksikan eksekusi untuk lelaki yang diketahui jadi maling sapi. Ia berhasil ditangkap semalam sebelumnya di perbatasan desa saat tengah menggiring paksa sapi hasil curian milik salah seorang warga desa kita.
Selesai dibasuh, kau mengelap celurit dengan kain putih, lalu membawanya ke dalam dan menggantungnya kembali di tempat biasa.
“Dengan celurit itu, keamanan desa kita cukup aman sejak dulu. Hanya orang luar yang berani macam-macam! Itu pun tidak berlangsung lama!” lanjutmu, melangkah meninggalkan kamar.
“Kenapa tidak diserahkan pada polisi saja?” kuikuti langkahmu dengan pertanyaan bernada protes.
Kau terkekeh sebentar. “Di luar sana, uang bisa membeli apa saja. Itu sebab, mengapa leluhur kita lebih mematuhi hukum yang diajari kiainya!” dengan tenang kau duduk di kursi rotan, lalu mengeluarkan selembar kulit klobot dan sejumput tembakau dari plastik kresek hitam di atas meja. Secangkir kopi tinggal ampasnya, dikerubungi semut.
Benar. Turun-temurun keluarga kita dipercaya jadi kalebun (kepala desa), hukum pun kita yang menyetirnya.
***
Dua malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kaukosongkan.
Kupejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Aroma tubuhmu serasa membaui penciumanku. Bau keringat, minyak tanah bercampur bau tembakau yang tajam dan pekat tidak pernah hilang dari kamar ini.
Kubuka mata seraya melepas napas dengan berat. Perlahan tanganku merayapi dinding, meraih gagang celurit dan meloloskan tali gantungnya dari paku.
“Celurit ini  pemberian seorang kiai sebagai tanda jasa atas pengabdian leluhur kita pada beliau,” suaramu terngiang di telingaku.
Meraba gagang celurit ini aku seperti meraba batang lenganmu yang ringkih penuh tonjolan urat namun tetap tampak kuat. Katamu, celurit ini diyakini memiliki jiwa. Matanya akan tumpul menghadapi jiwa-raga yang suci. Begitupun sebaliknya. Belum pernah ada pendosa yang selamat dari ketajamannya.
“Sukma leluhur kita menyusup ke dalamnya setelah dia meninggal,” jelasmu, seolah bisa membaca keraguan dalam benakku saat pertama kali mendengarnya.
Setiap malam jumat manis menjelang maghrib, kau tak lupa me-nyonson-nya di atas kepulan asap dupa, tepat di ambang pintu, dengan mulut komat-kamit. Menjelang wafat pun kau berwasiat agar aku selalu menjaga dan merawat celurit warisan ini, sekaligus menjaga keamanan desa kita.
Sampai kini wasiatmu masih kulaksanakan. Akan tetapi, apakah kautahu peristiwa dua malam lalu?
“Bunuh!”
“Iya, bunuh! Dia harus dibunuh!”
“Nyawa balas nyawa!”
“Dulu Kalebun Towah (kepala desa lama) juga pernah menjatuhkan hukuman serupa! Hukuman mati bagi pembunuh!”
Malam itu lampu padam. Langit muram. Bintang dan sesabit bulan berkelindan di balik awan. Hujan terganjal sejak senja tadi. Angin berembus rendah. Hanya lampu gantung di teras yang sedikit menerangi halaman balai desa.
Aku berdiri di undakan balai desa, menatap warga yang berjejalan di halaman penuh teriakan, tuntutan. Tepat di hadapanku, cucumu membisu, tertunduk layu. Sebelah lengan bajunya robek tak karuan. Ada bercak darah di sudut bibir dan pipinya lebam-lebam. Celurit penuh darah menggantung sungsang di tangannya, hampir menyentuh tanah.
“Celurit ini  pemberian seorang kiai sebagai tanda jasa atas pengabdian leluhur kita pada beliau. Celurit ini tidak akan melukai orang yang tidak bersalah!” suaramu menyusup samar ke liang telingaku.
Di sebelahku, menantumu berdiri bisu. Bahunya berguncang halus. Entah sudah berapa kali ia mengusap mata dan lubang hidungnya dengan ujung baju. Sedu tangisnya tertindih riuh teriakan warga yang saling sahut.
“Kami harap Kalebun bertindak adil meskipun kali ini adalah anggota keluarga sendiri!”
“Benar! Hukum tidak boleh pandang kerabat!”
“Setuju! Ini penganiayaan karena lelaki itu tidak bersenjata!”
“Betul! Walaupun korbannya bukan warga desa kita, lelaki itu berhak mendapatkan keadilan!”
Suara-suara lantang saling timpal. Laki-perempuan.
Kulangkahkan kaki menuruni dua undakan balai. Di hadapan cucumu yang masih menunduk dalam, aku bertanya, “Apa benar kau yang membunuhnya?”
“Iya!” cucumu mengangguk sekali. Suaranya lirih.
“Kenapa? Apa kesalahan lelaki itu?”
“Dia menggoda Murtipah.”
Murtipah? kuulang nama itu dalam hati. Aku ingat. Dua malam sebelumnya, cucumu memang minta ijin untuk meminang anak perawan itu. Cucumu menyukainya.
“Menggoda?” mataku memicing.
“Tidak hanya itu. Tadi Murtipah pulang sendirian, karena teman-temannya menonton tanggapan saronen. Aku sengaja mengikuti Murtipah diam-diam, karena sebelumnya aku dengar lelaki itu memang selalu menggangu Murtipah dan teman-temannya sepulang dari langgar. Ternyata benar. Lelaki itu mencegat Murtipah di tikungan jalan. Tidak sekadar menggoda, ia juga menyeret Murtipah ke balik rimbun pohon singkong milik Nom Sakrah!”
“Lalu?”
“Kami terlibat perkelahian. Kami sama-sama tidak bersenjata. Tapi dia menantang, menyuruhku mengambil celurit warisan ini, karena ia tidak percaya celurit ini mampu melukainya, karena dirinya sudah memiliki ilmu kebal.”
Celurit itu memang dikenal tidak hanya di desa kita. “Kau membawa celurit itu tanpa seijinku!”
“Bukankah Eppa’ sedang menghadiri undangan di rumah pengantin yang menanggap saronen?”
Dadaku serasa dipenuhi gumpalan asap tebal. Kulit wajahku seperti diusapi ulekan cabai. Sebagai kalebun, keadilan seperti apa yang harus kutegakkan? Seandainya cucumu tidak menyukai perawan itu, barangkali aku bisa memutuskan lain.
“Bagaimana ini, Pak Kalebun?”
“Kalian sudah mendengar duduk persoalannya. Anakku telah main hakim sendiri.  Itu tidak dibenarkan!”
“Lantas keadilan apa yang akan Pak Kalebun berikan?” Murakkab, lelaki yang tadi menggiring cucumu ke halaman balai desa seperti kambing hendak dikembalakan bertanya lantang dengan muka sinis. Ada bara dendam di matanya. Barangkali karena kau pernah mengeksekusi saudaranya yang tinggal di kampung sebelah, setelah kepergok jadi maling sapi di desa ini.
“Kalian sudah tahu, jadi tidak perlu dipertanyakan lagi! Malam jum’at nanti, datanglah kemari kalau ingin menyaksikan eksekusinya!” keputusanku membuat hadirin terbungkam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah mereka masing-masing. Hanya wajah Murakkab yang tampak tersenyum puas karena ia berdiri di baris depan dengan kaki mengangkang.
Apakah keputusanku ini benar? Kuurut dada dengan mata terpejam setelah warga beranjak pulang dan mayat digotong untuk diantarkan ke sanak keluarganya.
Senjata akan makan tuan. Cucumu akan menghadapi eksekusi hukum mati besok malam, dengan celurit ini. Celurit yang leluhur kita wariskan.
***
Aku terduduk lemas ke kursi. Sedu tangis terdengar tak henti dari kamar tidurku, beradu dengan  denyit gesekan pohon bambu di belakang rumah. Sejak malam peristiwa itu, menantumu tidak memiliki pekerjaan lain kecuali menguras air mata. Ia membisu setelah sempat berdebat sengit pada malam peristiwa, sepulang dari balai. Ia beranggapan keputusanku salah. Tapi cucumu menyukai perawan itu. Ia bisa saja membunuh karena terbakar api cemburu. Apakah menurutmu keputusanku keliru?
Di atas meja di depanku, ada lipatan kain kafan, buntelan kapas, daun pandan yang sudah dikerat-kerat sepanjang lima sentimenter dan diuntai dengan benang sepanjang satu meter, serbuk dupa dan parutan cendana berwadah mangkok.
Selepas saat isya, eksekusi akan dilakukan di halaman balai desa.
***
Tubuhku tersandar lemas ke dinding dengan pandangan tak berkedip. Ke mana celurit itu? Celurit itu raib. Padahal baru tadi menjelang magrib aku me-nyonson-nya. Begitu selesai, celurit itu kuletakkan kembali ke tempatnya, dan kamar ini kukunci seperti biasa. Tidak mungkin ada orang menyusup masuk. Jendela pun masih tertutup rapat.
Tubuhku melorot kulai ke lantai seperti karung kosong. Tidak! Tidak mungkin. Apakah warisan itu lenyap dengan sendirinya?
Tidak ada yang tersisa. Di mata orang-orang aku sudah seperti pecundang yang lari dari medan perang. Jabatan kalebun pun tak berhak kupertahankan. Aku kalah. Mungkin seharusnya aku tidak menyuruh cucumu lari demi menghindari eksekusi yang telah kujatuhkan sendiri. Sekarang, raibnya celurit itu serasa melengkapi kekalahanku.
Maukah kau menemani kesendirianku? Tapi kenapa aroma tubuhmu di kamar ini juga lenyap?
***
Madura, Februari 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

cerpen "Tambang Sapi Karapan"



“Dimuat basabasi.co, 17 juni 2016

Tambang Sapi Karapan
Cerpen Muna Masyari

Bulan melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan memecah senyap malam melalui tiga spiker yang dicorongkan ke tiga penjuru arah, di halaman rumah.
Dagu Marsiyeh terangkat, Di depannya, dua pohon nyiur berjajar sejarak kira-kira tiga meter. Berdiri kaku, Marsiyeh memilin-milin tambang dengan kekalutan yang membuat dadanya turun naik. Temaram malam menyamarkan polesan kosmetik tebal di wajah perempuan muda itu. Sesekali mata Marsiyeh menatap pintalan tambang. Detik kemudian dagu Marsiyeh kembali terangkat dan pandangannya menggantung pada sebatang bambu yang diikat melintang pada dua pohon nyiur, kira-kira setinggi dua meter. Pada batang bambu itulah Suraksah, Eppak Marsiyeh, biasa mengikat sapi karapannya dengan tambang biru gelap berukuran lebih gemuk dari tambang timba sumur, yang sekarang Marsiyeh pegang.
Tadi, Marsiyeh turun dari kursi pengantin, meninggalkan panggung ludruk dengan langkah-langkah kecil gara-gara sampir ber-leres coklat-kuning emas menyulitkan gerak kakinya. Sekian pasang mata penonton tidak dihiraukan. Marsiyeh beralasan hendak buang air kecil ke belakang ketika perias pengantin mencegat langkahnya, dan Marsiyeh menolak keras diantar oleh siapapun, termasuk perias pengantin yang memaksa diri.
Marsiyeh memang ke kamar mandi. Hanya sebentar. Tidak melakukan apa-apa. Kamar mandi terletak di belakang rumah dengan bangunan terpisah dari induk rumah dan hanya diterangi lampu  lima watt. Di sebelah kamar mandi ada sumur tua, lalu kandang sapi, dan di sebelahnya lagi dua pohon nyiur berjajar, menjulang angkuh.
Di bawah pohon nyiur itulah Marsiyeh berdiri kaku menatap tambang di tangan. Tambang yang semakin menjerat ingatan Marsiyeh pada Mukassar saat memacu sapi di gelanggang karapan. Lelaki yang menjadi joki sapi karapan milik Suraksah itu memang tampak gagah dengan tubuh dibalut kaos belang hitam-putih, celana komprang hitam, dan odheng­ membelit kepalanya.
Sorak kagum bergemuruh saat Mukassar dan sepasang sapi yang dipacunya berhasil mengungguli lawan dengan selisih waktu hanya sepersekian detik. Dengan tawa bangga dan mata membinar Suraksah langsung mengepalkan tinju ke udara, bersorak bangga. Bagi Suraksah, menjawarai sayembara karapan sapi berarti semakin mengukuhkan martabat keluarganya di mata masyarakat.
Begitu kembali dari gelanggang karapan, dengan senyum bangga Suraksah memuji Mukassar yang begitu tangkas menjadi joki. Nama Mukassar pun terletup dari mulut orang-orang kampung. Apalagi saat Suraksah menggelar selamatan atas kemenangan sapinya dengan mengundang para tetangga. Para ibu dan perawan tidak sedikit yang merasa iri pada Marsiyeh, sebagai tunangan Mukassar.
hff! Marsiyeh mendesah. Benarkah ia seberuntung itu? Bayangan Mukassar berganti dengan bayangan wajah embuk yang bermata cekung dan suram. Kegagahan Mukassar di gelanggang karapan mengingatkan Marsiyeh pada sikap embuk yang selalu tampak gugup di depan eppak, dan suaranya yang selalu bergetar setiap mendapat pertanyaan keras dari eppak.
“Aku tidak ingin seperti Embuk,” desah Marsiyeh, lirih. Diamatinya tambang di tangan. Tambang yang seolah membelit kebebasan Marsiyeh sejak kecil. Terlalu banyak peraturan yang harus ia penuhi sebagai anak perempuan yang sudah ditunangkan sejak masih dalam kandungan. Tidak boleh menonton pertunjukan kecuali ditemani embuk. Tidak boleh berdandan kecuali hendak mengunjungi rumah calon mertua. Tidak boleh mengobrol dengan lelaki manapun, di jalan, di sungai, atau tempat umum, meskipun teman sekolahnya sendiri. Dan sekian peraturan yang mengikat erat di sepanjang hidup Marsiyeh selama ini. Semua demi menjunjung martabat keluarga di mata calon mertua dan masyarakat!
Begitu rumitnya jadi perempuan terikat, rutuk Marsiyeh, merasa diikat dengan tambang sapi karapan! Ia sadar, pertunangannya dilakukan di atas kepentingan harkat dan martabat Eppak-nya.
Marsiyeh menggeram dalam hati. Dagunya kembali terangkat. Bulan yang melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur tertutup awan tipis. Kelepak kelelawar menggoyangkan rerimbun daun sirsak di belakang kandang. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan melengking panjang. Di kursi pengantin, Mukassar pasti tengah senyum-senyum bahagia, pikir Marsiyeh. Marsiyeh mencengkeram tambang kian erat dengan gigi bergeretak.
Kelak, ketika usia Suraksah seperti matahari redup menjelang magrib, tambang itu pula yang kian membelit kesepian dalam kesendiriannya. Tanpa anak dan istri. Tambang biru gelap itu seperti jari-jari gurita yang membelit leher dan sekujur tubuh dengan kenangan-kenangan yang tak pernah putus, hingga membuat Suraksah sesak bernapas.
Suraksah akan teringat dengan jelas, sebulan sebelum malam pernikahan anaknya yang dimeriahi pertunjukan ludruk, Suraksah sempat berdebat sengit dengan Marsiyeh.
Sepulang dari langgar, tanpa sengaja Marsiyeh mendengar tanggal pernikahannya dengan Mukassar yang sudah ditentukan. Tanggal 15 bulan Syawal. Pernikahan akan digelar besar-besaran karena satu sapi karapan yang berhasil menjawari gubeng(1) kemarin milik Suraksah sudah ditawar 125 juta.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” dengan tangan mendekap gulungan mukena di dada Marsiyeh menyela pembicaraan Suraksah dengan Nom Sukrah
“Kau bicara apa?” Suraksah mendelik.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” ulang Marsiyeh, membalas tatapan Suraksah tanpa gentar.
“Tidak tahu diuntung! Seharusnya kau bangga memiliki suami seorang joki hebat!”
“Lebih baik menikah dengan pemuda petani biasa daripada dengan seorang joki!”
“Kurang ajar! Pada siapa kau belajar membantah? Embuk-mu tidak seperti dirimu!”
“Embuk memang selalu tunduk pada Eppak. Tidak pernah berani membantah! Selalu menuruti keinginan Eppak! Tapi Eppak Tidak pernah menghargainya! Maka itu, aku tidak ingin bernasib sama!”
Suraksah tertohok keras. Matanya kian menyala. Tulang rahangnya mengeras. Harga dirinya merasa diinjak-injak oleh putrinya sendiri. Padahal dulu, ia sama seperti Mukassar. Mertuanya merasa bangga memiliki menantu seorang joki sehebat dirinya yang berhasil menjawarai beberapa kali karapan sapi.
“Meskipun Embuk sudah terbaring sakit, Eppak tetap tidak peduli!”
“Tutup mulutmu!” bentak Suraksah, keras.
“Menjelang kematiannya pun Eppak masih lebih mementingkan sapi karapan daripada Embuk!” sambung Marsiyeh.
“Diam!”
“Bahkan Eppak tidak sempat ikut mengubur jenazahnya!”
Betapa pun geramnya Suraksah, kata-kata Marsiyeh menggiring paksa ingatan Suraksah pada peristiwa dua tahun sebelumnya. Saat itu, istrinya tergolek tak berdaya dengan kulit melepuh sekujur tubuh dan menghitam seperti bekas luka bakar. Sengal napasnya tinggal senin-kamis. Dugaan dukun yang didatangkan, katanya perempuan itu kena teluh.
“Teluhnya salah sasaran saja! Sebenarnya ditujukan pada sapi karapanmu. Pihak lawan menginginkan sapimu kalah di karapan nanti” ujar dukun waktu itu.
Setelah berhari-hari istrinya terbaring lemah tanpa sejumput nasi pun mampu ditelan, suatu pagi, istrinya dalam keadaan sekarat, dan hanya ditunggui oleh Marsiyeh. Namun Suraksah dan Mukassar tetap berangkat ke gubeng dengan sepasang sapi karapan yang sudah siap disayembarakan.
Suraksah berhasil pulang mendulang kemenangan. Namun begitu tiba di rumah, jenazah istrinya baru saja dikuburkan. Para pelayat masih banyak yang belum pulang. Sejak itu, Marsiyeh semakin membatukan hati, menolak pertunangannya dengan Mukassar.
 “Aku tetap tidak mau menikah dengannya!” nada suara Marsiyeh menekan, jelas menegaskan penolakan.
“Kau jangan macam-macam! Sekarang masuk ke kamar!” bangkit, Suraksah menuding pintu kamar. Menguap sudah kesabaran Suraksah.
Kalau saja Marsiyeh tidak segera berlari ke kamar, tamparan pedas tentu sudah mendarat di pipinya.
“Anjing!” umpat Suraksah, gusar.
Menggagalkan rencana pernikahan bagi Suraksah sama artinya meruntuhkan harga diri. Tidak hanya di mata calon besan, juga di mata orang-orang. Tidak mungkin! Kalau sapi bisa dipegang tongar-nya, maka manusia harus bisa dipegang perkataannya, batin Suraksah.
“Bagaimana?” Tanya Nom Sukrah.
“Pernikahan harus tetap tetap dilaksanakan!” ketus suara Suraksah menahan golak amarah di dadanya. Membanting pantat ke kursi.
“Bagaimana dengan Marsiyeh?” Tanya Nom Sukrah yang dari tadi diam saja menyaksikan perdebatan ayah-anak itu.
“Ah!” Suraksah mendengus gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Nanti pasti bisa menerima pernikahan itu!”
Pernikahan benar-benar digelar dengan meriah, dihibur pertunjukan ludruk pada malam harinya. Namun, di ujung malam, ketika pegelaran ludruk semakin meriah, tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan histeris dari belakang rumah.
Tambang sapi karapan yang diwariskan mertua Suraksah, dan katanya mengandung jimat, telah meloloskan Marsiyeh dari jerat harkat dan martabat yang Suraksah bangga-banggakan dengan jalan pintas dan getas.
Sejak malam pernikahan anaknya yang berujung tragis, Suraksah berusaha tegar meskipun dalam dadanya banyak memar. Lima kali ia masih mengikuti sayembara karapan sapi. Memar di dada Suraksah kian membiru manakala Mukassar menngundurkan diri dan memilih menjadi joki sapi karapan milik musuh bebuyutan Suraksah. Rumor pun membiak di masyarakat; kekalahan sapi karapan Suraksah bukan hanya karena tambang warisan mertuanya sudah tidak bertuah sejak Marsiyeh menjadikannya tali gantung saat bertindak bodoh pada malam pernikahannya, namun juga gegara minggatnya Mukassar.
***
Bulan melengkung sabit di atas pucuk batang pohon nyiur yang telah gundul. Tetabuh ludruk dan kejugan perempuan sayup-sayup terdengar di kejauhan. Entah siapa yang menanggapya.
Di bawah pohon nyiur, tempat di mana Suraksah biasa mengikat, memijat dan mengelus-elus sapi karapannya, tempat di mana hidup Marsiyeh berakhir malang, Suraksah menjajarkan empat piala presiden hasil sayembara karapan sapi. Tanpa anak, istri dan sapi karapan. Dua pohon yang menjulang angkuh itu mati perlahan sejak malam pernikahan tragis beberapa tahun silam dan menjadi arena pesta para rayap. Suraksah hanya hidup bersama kenangan-kenangan pahit tentang anak-istrinya dan masa-masa kejayaan sewaktu menjawarai gubeng. Suraksah baru memahami arti sebuah keluarga dan martabat sosial yang pernah diagung-agungkan.
Tambang sapi karapan terkalung di leher Suraksah.
***
Madura, Juni 2015


gubeng(1): puncak sayembara karapan sapi se-Madura dengan merebut piala presiden.

Minggu, 06 Desember 2015

Cerpen "Lagu Bayati"



Dimuat Tabloid Nova, 16 November 2015

Lagu Bayati
Cerpen Muna Masyari

Langkah gegas dan lebar. Lengkung celurit dalam genggaman berkilap tertimpa sinar matahari. Mata bengis seolah siap menerkam. Tulang rahang mengeras. Teriakan garang sejak dari kejauhan. Ah!
 “Matilah aku!” batin Muhdi seiring detak jantungnya yang berderap kerap. Wajah Muhdi pias membayangkan Sakiman kembali, dan ia datang beserta ayahnya, karena tidak terima atas perlakuan Muhdi baru saja.
Punggung Sakiman sudah hilang di balik tembok pagar. Begitu cepat langkah anak itu berkejaran menyeberangi halaman madrasah. Muhdi mundur, menjauhi jendela bertirai kawat berbentuk bajik-bajik yang sudah berkarat. Mengelap peluh yang berembun di dahi dengan punggung tangan. Muhdi tidak mampu memungut konsentrasi yang berkeping-keping seperti pecahan gelas dibanting. Tidak bisa berpura-pura tenang untuk lanjut mengajari murid-muridnya yang tersulap diam, seolah tersihir jadi patung beberapa jenak.
 “Sakiman pulang untuk mengadu pada Eppak-nya!”
kaler!”
“Bakal ribut!”
Keterdiaman pecah oleh desis-desis para murid yang tampak ikut cemas. Saling bisik satu sama lain. Muhdi semakin gelisah.
***
Sudah hampir sebulan Muhdi berada di desa itu, belum pernah ia bermain-main ke rumah tetangga setempat. Muhdi merasa cemas mendengar stereotype tentang orang-orang Madura yang katanya berperangai keras. Pendendam. Ke mana-mana membawa celurit. Suka bercarok dan gemar memancing keributan.
Muhdi tak lebih sebagai guru abdi dari pondok pesantren yang mendapat tugas mengabdi di daerah pedalaman Madura, tepatnya di Bujur Tenga. Tugasnya hanya mendidik, berbagi ilmu.
Pemuda berasal dari Jawa Tengah dan baru berusia duapuluh tahun itu juga Qori’ yang cukup dikenal dan sering mendapat undangan jika ada haflatul imtihan, pesta perkawinan, penyambutan kepulangan jamaah haji, dan sebagainya.
Sudah berapa medali dan rupiah Muhdi bawa pulang saat menjadi juara Qori’ di berbagai kompetisi. Suara merdu dan kemampuannya menguasai sejumlah lagu juga mengantarkan Muhdi ke berbagai acara yang diselenggarakan pemerintah di daerahnya. Pernah juga ia diundang ke acara penikahan anak bupati di tempat tinggalnya.
Sekian penghormatan sudah Muhdi terima sejak dirinya dikenal sebagai Qori’ semasih mondok. Kini, saat dirinya menjalani masa pengabdian dari tempat ia menempa ilmu, justru petaka yang menantinya.
Di sini, di tempat tugas pengabdiannya, Muhdi mengajari anak-anak Qurra’ untuk pelajaran tambahan, setiap Jumat sore. Murid-murid mulai dari kelas empat hingga kelas enam disilakan hadir kalau ingin belajar Qurro’.
Antusias murid-murid Muhdi cukup tinggi. Terbukti, yang hadir mencapai 90% dari murid sebanyak 47, meskipun murid laki lebih banyak mengganggu daripada serius belajar. Hal itu Muhdi sadari sejak pertemuan pertama. Saat mengenalkan macam-macam nama lagu; Bayati, Shaba, Hijaz, Nawahand, Rots, Jiharkah, Sikah, Sakiman, anak kelas enam, seperti menemukan sesuatu yang luar biasa dari keterangan Muhdi.
“Bayati ibunya Pusati! Bayati tukang tambal panci! Ha ha ha….” teriak Sakiman, disusul ledakan tawanya yang nyaring dan panjang, hingga matanya mengeluarkan air.
Wajah anak yang bernama Pusati memerah. Muhdi baru tahu kalau ibu Pusati bernama Bayati (dengan bunyi huruf ‘A’ diganti ‘E’ seperti menyuarakan kata ‘betul’) dan bekerja sebagai tukang tambal pantat perabot-perabot dapur yang bocor. Setiap hari, katanya, ibu Pusati yang bernama Bayati membawa gulungan lembar alumunium dan perkakas lain ke kampung-kampung. Berteriak sepanjang jalan, menawarkan jasa penambalan atau penggantian pantat panci dan perabot dapur lain.
Sejak itu, setiap ada kelas Qurra’, Pusati selalu menjadi bahan ledekan Sakiman. Sebagaiman Jumat sore itu.
“Coba Jumrati mencontohkan lagu Bayati Jawab, disusul Pusati mencontohkan Bayati Jawabul Jawab!” Muhdi menunjuk dua orang murid perempuan yang memiliki suara merdu dan napas panjang melebihi murid-murid yang lain.
Suara Jumrati dan Pusati beda karakter. Suara Jumrati lembut dan halus. Jika dipadu dengan suara Pusati yang renyah dan kadang melengking nyaring saat menaikkan nada, terdapat keunikan tersendiri. Hanya saja, Pusati harus belajar menata suara agar tidak pecah ketika sampai pada lagu Bayati Su’ud.
“Bayati! Bayati!” Sakiman mengejek Pusati sebelum anak perempuan yang duduk di bangku paling depan itu sempat menghimpun konsentrasi.
Murid laki yang lain ikut tertawa mendengar ejekan Sakiman.
“Pusati anaknya Bayati! Bayati tukang tambal panci!” tambah Sakiman.
Pusati menoleh ke belakang, ke arah Sakiman, dengan wajah merah dan mata tergenang. Bibirnya bergetar.
 “Sakiman!” tegur Muhdi setengah membentak.
Sakiman diam sebentar. Hanya sebentar. Karena, baru saja Pusati membaca ta’awwudz, tidak lama kemudian Sakiman meledek lagi dan bangkit dari tempat duduknya.
“Pusati anaknya Bayati! Bayati tukang tambal panci,” Sakiman menirukan gaya perempuan yang sedang menyunggi sesuatu dengan tangan di angkat ke atas kepala, dan ia berjalan berlenggak-lenggok. Hanya tiga langkah, namun tingkah Sakiman seperti badut yang berhasil mengocok perut orang-orang di sekelilingnya. Hanya Jumrati yang tidak tertawa, namun justru menatap geram ke arah Sakiman yang terpingkal-pingkal. Sedangkan Pusati menutup wajah ke muka meja.
“Coba Sakiman yang memberi contah Bayati Jawabul Jawab! Semua diam dan dengarkan!” kesabaran Muhdi menguap seperti kepulan asap. Muhdi menunjuk Sakiman dengan suara lantang, tatapan tajam, dan seruas bambu diarahkan lurus ke wajah anak itu dari jarak yang cukup jauh.
Semua menoleh ke arah Sakiman yang duduk di bangku paling belakang. Ada yang nyengir, menunggu suara Sakiman. Ada yang tersenyum puas mendengar perintah yang diterima Sakiman. Jumrati menatap Sakiman dengan tatapan syukur.
Semula, Sakiman tampak berwajah serius dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara. Akan tetapi….
Gigi Muhdi gemeretak dan tangannya mengepal geram. Mulai dari ayat pertama Sakiman jelas sengaja membaca ayat dengan bacaan tanpa tajwid sama sekali. Bacaan panjang sengaja dibaca pendek. Sedangkan bacaan pendek dibaca sangat panjang dan naik turun seenaknya. Bahkan melebihi panjang tiga alif. Kepalanya sampai menggeleng-geleng menahan napas dan matanya memejam rapat. Lagu Bayati Jawabul Jawab dibuat kacau sama sekali.
“Sakiman,  ke depan!” bentak Muhdi.
Sakiman menghentikan suara. Matanya terbuka. Peluh meleleh di dahinya. Melihat wajah Muhdi menyiratkan amarah, ruang kelas jadi hening. Senyap menyergap sekeliling.
“Aku bilang, ke depan! Cepat! Atau mau kuseret?” bentak Muhdi lagi.
Dengan tenang Sakiman bangkit dan melangkah ke depan kelas tanpa dosa, diiringi tatapan yang lain.
“Tadahkan tangan!” Muhdi mengangkat seruas bambu yang biasa dijadikan alat tunjuk ke papan.
Sakiman mengangkat sebelah tangan serupa pengemis.
Plak! Plak! Plak! “Jangan pernah memain-mainkan ayat Al-Qur’an!” geram Muhdi seraya memukulkan seruas bambu ke telapak tangan Sakiman tiga kali, keras.
Sakiman mengaduh dan mengibas-kibaskan tangan dengan wajah meringis kesakitan. Giginya merapat. Matanya menatap Muhdi dengan tatapan marah.
“Akan kuadukan pada Eppak!” ancam Sakiman, lalu berlari keluar.
Muhdi terkesiap sejenak, seolah baru sadar dengan apa yang baru saja dilakukan. Celaka! Pikir Muhdi.
Muhdi mendekati jendela, menatap Sakiman yang berlari cepat meninggalkan kelas. Menyeberangi halaman madrasah, lalu hilang di balik tembok pagar.
***
Langkah gegas dan lebar. Lengkung celurit dalam genggaman berkilap tertimpa sinar matahari. Mata bengis seolah siap menerkam. Tulang rahang mengeras. Teriakan garang sejak dari kejauhan.
Bayangan yang sempat melekat di kepala Muhdi kini benar-benar nyata di hadapan Muhdi. Sebelum anak-anak sempat meninggalkan halaman madrasah, dua orang muncul dari pintu pagar.  Sakiman beserta seorang lelaki bertubuh gelap, mengenakan celana komprang hitam, tanpa baju, melangkah lebar memasuki halaman. Di tangan lelaki itu, selengkung celurit berkilap tertimpa sinar matahari.
Lutut Muhdi bergetar. Beberapa murid menghentikan langkah, dan menoleh ke arah Muhdi yang urung mengunci pintu kelas demi melihat kedatangan Sakiman dan lelaki itu.
“Mana ustadnya?” pertanyaan lantang dan bernada keras membuat kunci yang tergenggam di tangan Muhdi terjatuh.
Buru-buru Muhdi memungut kunci dengan gugup.
“Dia!” sakiman menunjuk ke arah Muhdi.
Sebentar langkah lelaki itu terhenti. Mengamati Muhdi dengan tajam.
Muhdi seperti pendurhaka yang dikutuk jadi arca.
“Kau yang memukul Sakiman?” pertanyaan lantang beserta celurit diarahkan pada Muhdi.
Diam. Bibir Muhdi bergetar. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun!
“Kau tahu, hanya kami, Eppak-Embu’na yang boleh memukul Sakiman! Memangnya siapa dirimu, berani memukul anakku? Sepertinya kau orang baru di sini.”
“Dia guru tugas, Nom!” Jumrati yang tadi menghentikan langkah dan tidak langsung pulang demi melihat kedatangan Sakiman dan ayahnya, menjawab.
“Dia gurumu? Kenapa kau tidak bilang kalau gurumu yang telah memukulmu?” pertanyaan lelaki itu ditujukan pada Sakiman.
Sakiman salah tingkah.
“Salah apa kau hingga dipukul?” Sakiman dibentak.
“Sakiman meledek Pusati, karena ibunya menjadi tukang tambal panci!” Jumrati yang kembali bersuara.
“Tidak!” tiba-tiba Pusati menyanggah, “Ustad memukulnya karena Sakiman memain-mainkan bacaan Al-Qur’an!”
“Betul, Sakiman?” mata lelaki itu melotot berang.
Sakiman menunduk. Mengangguk takut.
Lelaki itu membuka sandalnya sebelah. Sandal itu digenggamnya, lalu dipukulkan ke pantat Sakiman berkali-kali. Sakiman hanya mengaduh kecil. Tidak menghindar.
***
Muhdi sedang melantunkan ayat Al-Quran dengan lagu Bayati ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk. Siapa? Muhdi bertanya-tanya dalam hati.
Setelah menyium Al-Qur’an, lalu meletakkan di atas lemari, Muhdi membuka pintu. Hatinya berdesir melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
“Saya minta maaf atas kesalahan Sakiman dan kejadian tadi sore…” lelaki yang tadi sore datang membawa celurit dan wajah garang, kini berdiri di hadapan Muhdi dengan permintaan maaf serta mengangsurkan setandan pisang.
Beberapa jenak Muhdi tidak mampu berkata apa-apa.
“Saya juga bermaksud mengundang ustad ke rumah kami nanti,”
“Dalam acara apa ya, Pak?”
Ayah Sakiman tersipu sebentar. “Acara pernikahan saya dengan Bayati, ibunya Pusati,” menjawab malu-malu.
“Oh,” Muhdi menahan senyum dalam hati. Di balik wajah sangar lelaki di depannya, rupanya tersimpan wajah lugu. Bahkan terkesan lucu kalau sedang malu-malu.
***
Madura, Februari 2015