Minggu, 25 Januari 2015

Cerpen "Tanah Wakaf"



Dimuat Pikiran Rakyat, 25 Januari 2015

Tanah Wakaf
Cerpen Muna Masyari

“Kau jangan sembarangan! Tanah masjid ini semula memang tanah Ji Dulla, Kaeh(1)-mu, tapi sudah diwakafkan untuk didirikan masjid!” Sarkap menuding berang ke wajah Sapiih.
Sapiih tersenyum tenang. Bahkan terkesan sinis, ibarat petarung yang sudah memiliki keyakinan bakal menggenggam sebuah kemenangan.
“Pikir-pikirlah dulu, Piih! Masjid ini bukan hanya tempat salat, namun juga tempat belajar mengaji. Kita sama-sama pernah belajar mengaji di sini. Hampir tiap malam menginap, menimba air sebelum subuh untuk mengisi bak mandi, melakukan bersih-bersih setiap jumat pagi. Apa kau lupa?” Munajid yang dalam tiga tahun terakhir sering membantu Keh Burahwi mengajari anak-anak mengaji ikut nimbrung.
“Sudah bertahun-tahun masjid ini dibangun. Kau tidak bisa merampas tanahnya seenak hatimu!” Muksar tak kalah gusar. Muksar mendapat amanah memegang uang masjid  hasil dari kotak amal yang diletakkan di sudut ruang utama masjid.
Suasana semakin tegang. Kalebun, tetua kampung, tokoh masyarakat dan pengurus masjid yang berkumpul di serambi masjid itu tidak menyangka kalau Sapiih mengundang mereka di tempat itu hanya untuk menyatakan dirinya akan mengambil tanah masjid, tanah yang sudah diwakafkan. Sayang sekali, Keh Burahwi sedang sakit hingga tidak bisa hadir di pertemuan itu.
“Aku punya kuasa untuk mengambil tanah ini, karena sertifikatnya masih atas nama Kaeh. Tidak ada ahli waris selain aku setelah Eppak(2) meninggal.” seraya menunjukkan map biru pudar, kalimat Sapiih ibarat ketukan palu hakim.
Semua terbungkam bisu. Mereka bertukar pandang sebentar. Kalebun(4) hanya diam tanpa menyela. Sapiih benar, dengan memegang surat sertifikat tanah yang sudah didirikan masjid bertahun-tahun silam, Sapiih bisa merampasnya kapan pun ia mau.
Muksar menggeretakkan gigi. Sementara Sarkap menatap Sapiih dengan mata garang.
 “Dulu, aku masih anak-anak dan belum tahu riwayat tanah ini,” sambung Sapiih, “bahkan, Eppak tidak bercerita apa-apa. Baru sepulang dari Jogja aku tahu kalau masjid ini berdiri di atas tanah Kaeh. Tanah yang seharusnya diwariskan ke Eppak dan….”
“Tapi Kaeh-mu dulu sudah mewakafkannya!” pangkas Sarkap keras.
“Siapa yang jadi saksi waktu tanah ini diwakafkan?” Sapiih menatap orang-orang yang ada di serambi itu bergantian, “Kalau memang ada yang bisa memberikan kesaksian, barangkali aku masih akan memertimbangkan lagi untuk membongkar masjid ini,”
Saksi? Semua saling pandang. Lagi.
***
Dulu, Ji Dulla, kaeh Sapiih, dikenal paling kaya di kampungnya. Ji Dulla sukses jadi pengusaha grusuk(3) setelah sebelumnya ia menjadi tangan kepercayaan orang Tionghoa sebagai tukang sortir di gudang tembakaunya.
Sejak jadi pengusaha grusuk, Ji Dulla banyak mempekerjakan orang-orang di kampungnya, terutama para perempuan, dan kekayaan Ji Dulla semakin melimpah. Sebelum ada orang kampung yang mampu menunaikan ibadah haji, Ji Dulla dan istrinya sudah mampu pergi ke tanah suci. Saat itu, perjalanan ke tanah haram masih menggunakan kapal laut dan menghabiskan waktu hingga 4 bulan pergi-pulang.
Tidak ada perempuan bergelang kaki perak di kampung itu kecuali istri Ji Dulla. Tidak ada perempuan yang mengenakan kebaya dari kain beludru selain istri Ji Dulla. Tidak ada yang mampu membelikan tusuk konde emas buat istrinya kecuali Ji Dulla. Tanah Ji Dulla tersebar di mana-mana. Sebagian diwakafkan jadi tempat penguburan, tempat mendirikan masjid, dan tempat dibangunnya waduk (tempat penimbunan air demi mengantisipasi kekeringan dini kala musim kemarau). Hanya orang-orang tertentu yang sempat menyaksikan saat Ji Dulla menyatakan sebagian tanahnya diwakafkan.
“Tidak ada yang bisa jadi saksi atas wakafnya tanah masjid ini,” desah Sarkap, mendongak menatap langit-langit serambi masjid yang terbuat dari seng dan sudah mulai berkarat.
“Iya. Hampir tidak ada orang sepuh yang bisa ditanyai. Semua sudah meninggal. Kalaupun ada, seperti Ki Samulla, sudah pikun, tidak bisa ditanyai apa pun!” sahut Muksar, gundah.
Di serambi masjid bagian samping, suara anak-anak mengaji tertindih riuh anak-anak lain yang sedang belajar salat. Setiap malam jumat seperti malam ini, anak-anak yang sudah cukup besar mengaji Yasin serempak, dipimpin Keh Burahwi, sementara yang masih kecil belajar salat pada Munajid. Sesekali suara Munajid mengungguli suara anak-anak saat pembacaan Qunnut dan Tahyatal akhir. Rupanya, anak-anak belum menghapal bacaan-bacaan itu.
“Sapiih benar-benar gila!” umpat Sarkap.
“Kelakuan sarjana pengangguran memang sering tidak masuk akal!” timpal Muksar.
“Ya, iya! Coba pikir! Mau pegang cangkul, tentu malu karena sudah sekolah tinggi-tinggi hingga ke luar Madura, pulangnya masak masih menggarap tegal! Tidak ada bedanya dengan yang putus sekolah kalau begitu. Akhirnya, ya mengorek-korek harta warisan yang sebenarnya sudah diwakafkan!”
“Kalau masjid ini jadi dibongkar, tentu harus membangun masjid baru di tempat lain,”
“Darimana kita akan mendapatkan dana untuk membangun masjid baru?” Tanya Sarkap.
“Minta sumbangan pada orang-orang yang bekerja di Malaysia. Bukankah banyak orang-orang sini yang bekerja di sana? Saudaramu juga kan?”
“Iya. Dua Saudaraku ada di Malaysia. Satu di Kalimantan!”
“Nah! Nanti kau bisa minta saudara-saudaramu untuk menghubungi yang lain!”
Sarkap terdiam sejenak, lalu mengangguk-angguk.
***
Orang-orang kampung hanya mampu menatap geram ketika sejumlah kuli bangunan dari kampung tetangga suruhan Sapiih ramai-ramai membongkar bangunan masjid. Kubah, genting, kayu-kayu besar dan kecil sudah diturunkan. Teriakan demi teriakan saling memberi instruksi satu sama lain. Debu mengepul ketika dinding masjid pun mulai dirobohkan.
“Sapiih memang sinting! Gila!” umpat seorang ibu menyunggi ember dan menenteng cerek seraya meludah jijik menatap para pembongkar masjid. Tidak ada Sapiih di antara para kuli itu.
Di belakang ibu yang baru saja mengumpat, mendadak segerombolan anak menghambur memungut puing-puing kaca yang berserakan tak karuan di antara puing-puing genting dan patahan batu bata. Mereka sempat ribut saling rebut.
“Pulang! Pulang kalian! Jangan main di sini! Cepat pergi” ibu yang tadi meludah menghardik anak-anak sambil mengarahkan ranting kering yang dipungutnya di pinggir jalan.
Segera anak-anak berlari pergi menjauh. Si ibu melempar ranting sembarangan, lalu mengambil ember dan cerek yang tadi diletakkan di tepi jalan. Ia melanjutkan perjalanan sambil menggerutu tak jelas.
Bagi sebagian warga yang memiliki keluarga bekerja di luar Madura, hanya mampu menahan berang dalam hati tanpa berani menunjukkan sikap geram. Mereka merasa sungkan pada Sapiih, sebab, setiap kali ada telepon atau kiriman uang dari tanah seberang, jatuh pada keluarga Sapiih. Di kampung itu, belum banyak orang memiliki pesawat telepon maupun rekening bank.
***
Di serambi masjid, Munajid duduk menyepuh sepi. Tidak terdengar riuh anak-anak mengaji atau belajar salat. Masjid lengang dan terkesan angker karena lampu di dalam dimatikan demi menghemat listrik. Pemuda itu menatap jauh ke depan. Samar-samar telinga Munajid menangkap nyanyian “Goyang Dumang” yang sedang booming. Tentu bersumber dari bangunan berlampu terang-benderang di depan sana. Dari konter Sapiih yang hampir tiap malam ditongkrongi orang; muda-tua.
Konter Sapiih yang dibangun di atas tanah wakaf dan reruntuhan masjid itu nyaris tak pernah sepi. Meskipun masjid baru telah dibangun lebih megah dari sebelumnya, tidak semakmur dulu. Orang-orang lebih suka duduk-duduk di depan konter Sapiih daripada pergi ke masjid. Anak-anak lebih gemar main playstation di konter Sapiih daripada pergi mengaji. Dengan menyisihkan uang jajan, mereka bisa main game berjam-jam.
Bagi Munajid, rasanya baru kemarin Sarkap mengumpat keras waktu Sapiih merampas tanah wakaf. Tadi siang, lelaki itu justru memamerkan ponsel dan lagu “Goyang Dumang” pada Munajid. Katanya, ia baru saja dikirimi empat ponsel oleh saudaranya di Malaysia. Masing-masing untuk istrinya, anaknya, ayahnya, dan dirinya sendiri.
“Aku banyak ngisi lagu-lagu baru di konter Sapiih!” ujar Sarkap bangga.
Munajid hanya menanggapi dengan senyum kecil.
Rata-rata, orang yang memiliki sanak keluarga bekerja di luar Madura sudah memegang telepon genggam, dan konter Sapiih kian ramai dari orang-orang yang datang hendak mengisi pulsa dan lagu dangdut.
***
Madura, November 2014

Cerpen "Kucing Bunting"



Dimuat Radar Surabaya, 25 Januari 2015

Kucing Bunting
Cerpen Muna Masyari
Setiap kali menatap perut kucing-kucing bunting dan puting susunya yang merah muda itu, kepalaku tiba-tiba berisi karung beras, rafia dan jurang curam bekas galian batu bata di belakang dapur yang di dalamnya berisi segala macam sampah dan tampak gelap menyeramkan kalau dilihat dari atas.
***
Sejak kecil hingga sekarang aku tidak suka pada kucing. Bedanya, dulu aku tidak menyukai kucing karena suka menggesek-gesekkan tubuhnya ke betisku yang masih basah selesai mandi. Kucing-kucing itu juga suka tidur di atas bantalku. Kadang diam-diam menelusup ke balik selimutku saat aku tidur. Yang membuatku sulit mengampuninya, pernah seekor kucing bunting malah seenaknya melahirkan di lemari pakaianku. Di atas lipatan-lipatan baju yang diacak-acaknya terlebih dahulu. Seragam sekolahku jadi kotor. Saat aku berteriak murka, mengamuk dan memukuli kucing betina yang tengah mengeloni tiga anak kembarnya yang baru saja dilahirkan dengan sapu lidi, Nyaeh justru menyalahkanku.
“Kenapa lemarinya tidak ditutup? Kau memang kebiasaan, tidak pernah menutup lemari! Jadi kucing itu bisa masuk dan beranak di dalam!”
Seperti api disirami minyak tanah, kemarahanku kian berkobar. Kutatap kucing itu lekat-lekat dengan gigi gemeretak. Ia seolah mengerti kemarahanku. Tatapanku semakin tajam. Ia merapatkan pelukannya pada kucing-kucing yang baru dilahirkan seolah tidak ingin melepasnya, mengkhawatirkan keselamatannya. Padahal, baru sebentar  beranjak besar, kucing betina itu tentu akan meninggalkan anak-anaknya. Lalu ia kawin lagi. Bunting lagi. Kawin lagi. Bunting lagi.
Kebencianku pada kucing bunting semakin berkarat sejak kejadian itu. Saat hendak makan, dan kucing-kucing itu mengeong ribut menghampiriku, kusepak mereka satu per satu, dan perlakuanku pun mengundang teguran keras dari Nyaeh.
“Anak perempuan jangan suka menyepak kucing. Apalagi kucing hamil. Bisa-bisa kau kena tulah kesulitan saat hendak melahirkan nanti!” Nyaeh memandangku dengan tatapan tak suka.
Aku diam tak peduli.
“Selain hewan kesayangan nabi, tulah kucing juga sangat besar!” seraya menyendokkan nasi ke piringku,  Nyaeh terus menasihati.
Aku masih diam dan kucing-kucing  itu terus mengeong. Ada lima ekor kucing betina dan empat anak kucing lainnya. Dua kucing betina sedang bunting. Seingatku, sudah beberapa kali keduanya bunting dan melahirkan di rumah ini. Anak-anaknya ada yang tinggal di rumah ini, sebagian lagi entah ditinggal di mana.
“Kau tahu, kenapa motor Sarkap sering tertabrak?” Pembelaan Nyaeh terhadap kucing-kucingnya masih berlanjut sebagaimana biasa.
Aku tak menyahut.
“Karena ia dan sepeda motornya pernah menabrak kucing hingga mati, lalu kucing mati itu dibiarkan terkapar begitu saja di tengah jalan. Itu sebab, mengapa sepeda motor Sarkap menjadi kendaraan sial,  selalu tertabrak!” Jelas Nyaeh, tanpa kutanggapi.
Belum lama ini Sarkap dan sepeda motornya tertabrak dengan sesama sepeda motor di depan pasar hingga musuhnya tewas di tempat dan kendaraannya bonyok berat. Bukan sekali itu saja Sarkap tertabrak. Malah sangat sering seingatku. Anehnya, sepeda motor Sarkap sendiri tidak kenapa-napa. Kadang hanya lecet dan rusak ringan. Sementara musuhnya selalu bernasib nahas.
“Apa semua kendaraan yang pernah menabrak kucing akan menjadi kendaraaan sial?” aku bertanya setengah hati, merasa bahwa cerita Nyaeh tentang tulah kucing terlalu berlebihan. Mengada-ada. Berangkali supaya aku sedikit lebih ramah pada kucing-kucing itu.
“Tidak! Asal kucing yang ditabrak dibungkus dengan pakaian yang dikenakan si pengendara, lalu dikubur laiaknya jenazah manusia.”
Setelah mengangsurkan sepiring nasi ke hadapanku, Nyaeh sibuk memberi makan kucing-kucing yang mengeong rebut dari tadi. Khusus kucing bunting, porsinya lebih besar.
“Ikannya mana, Nyeh?” tanyaku, melihat sepiring nasi tanpa ikan.
“Kepala ikan tongkolnya habis kukasih ke kucing lainnya. Jadi ikanmu kukasih ke kucing bunting ini! Kasihan kalau mereka tidak makan,” jawab Nyaeh, tenang.
Mataku tajam menatap Nyaeh yang sedang menunggui dua kucing bunting yang sedang melahap ikanku dengan nikmat. Khusus kucing bunting, perhatian Nyaeh memang berlebihan. Nyaeh menungguinya selama kucing itu makan, khawatir diganggu yang lain.
“Tidak bisa begitu! Lalu aku makan dengan apa?” aku protes keras.
 “Kau bisa makan dengan krupuk, sayur dan sambal, sementara kucing tidak akan makan tanpa ikan,”
“Ia bisa menangkap tikus atau cicak!” ketusku.
“Tidak cuma perempuan hamil, kucing pun tentu tidak leluasa bergerak cepat untuk menangkap tikus kalau sedang bunting,”
Huh! Percuma mendebat Nyaeh. Kutatap sepiring nasi, krupuk singkong, sayur kelor dan sambal terasi tanpa selera. Kekesalan menyuruhku beranjak pergi tanpa makan. Namun perut melerai dan memaksaku memakan apa adanya.
Sejumput demi sejumput nasi kusuapkan ke mulut, dan menelannya dengan paksa. Memeram dongkol. Sambil makan, kulirik dua kucing bunting yang sedang Nyaeh tunggui. Kepalanya tidak mendongak sama sekali. Sesekali Nyaeh membelai-belai punggung keduanya. Anehnya, kucing-kucing itu memiliki naluri tajam. Buktinya, mereka diam saja saat dibelai Nyaeh. Beda ketika menghampiriku. Sekali kujulurkan tangan, kuku-kukunya langsung mencakar.
Aku selalu merasa Nyaeh lebih memerhatikan kucing daripada aku. Kucing-kucing itu seenaknya berkeliaran dan beranak-pinak di rumah ini tanpa pernah Nyaeh marahi meskipun kadang mencuri ikan yang lupa ditaruh di rak.
“Bukan salah kucing, tapi kelalaian kita. Anggap saja itu rejekinya, bukan rejeki kita,” Nyaeh tak pernah kehabisan kata pembelaan meskipun ikannya habis dicuri. Padahal, Nyaeh sudah memberi jatah khusus. Tiap ke pasar Nyaeh tak pernah lupa membelikan beberapa kepala ikan tongkol untuk kucing-kucing itu.
Tiap kali melirik kucing bunting itu, kepalaku tiba-tiba berisi karung beras, rafia dan jurang curam bekas galian batu bata di belakang dapur yang di dalamnya berisi segala macam sampah dan tampak gelap menyeramkan kalau dilihat dari atas. Kalau kuringkus mereka, lalu membuangnya ke dasar jurang, tentu Nyaeh tidak akan tahu, dan kasih sayangnya tidak akan terbagi lagi. Utuh untukku. Selama ini, hanya Nyaeh yang menyayangiku.
Kata Nyaeh, Kaeh sudah lama meninggal jauh sebelum aku lahir. Kaeh meninggal akibat tertindih tumpukan batu bata yang ditimbunnya di tepi jurang bekas galian di belakang dapur. Karena trauma, Nyaeh melarang Eppak meneruskan pekerjaan Kaeh. Karena tidak memiliki pekerjaan tetap, Eppak merantau ke Kalimantan, menjual sate. Di sana, Eppak akhirnya meninggal setelah tiga hari kena demam berdarah, tanpa sempat melihatku yang baru sebulan lahir ke dunia. Lalu Embuk?
***
Langkahku terpatri di ambang pintu. Kulihat Nyaeh sedang bicara serius dengan seorang tamu.
Perempuan itu! Ia datang setelah sekian lama menghilang. Perutnya membuncit. Entah kehamilannya yang keberapa dan hasil perkawinannya dengan siapa.
Seingatku, ini ketiga kalinya ia datang kemari. Pertama, saat usiaku sudah sebelas tahun, dua hari setelah kucing bunting melahirkan dalam lemari pakaianku dan aku belum mengenal dirinya. Ia datang dengan perut membuncit dan menggandeng seorang bocah penuh ingus. Ia membawakanku satu setel baju baru berbahan kain kasar. Setelah ia pergi, barulah Nyaeh menjelaskan siapa dirinya.
Kata Nyaeh, ia meninggalkanku sewaktu kecil karena menikah lagi dengan lelaki lain, setelah terdengar kabar bahwa Eppak meninggal di Kalimantan dan jenazahnya tidak bisa dipulangkan karena terkendala biaya.
Aku tercenung beberapa saat mendengar penjelasan Nyaeh. Selanjutnya, baju baru yang diberikan kugulung sembarangan, lalu kulempar keluar jendela.
“Aku tak butuh itu!” teriakku kasar, lalu bergelung dalam selimut.
Kedatangan kedua kalinya, sehari menjelang lebaran. Masih dengan perut buncit. Hari itu, ia membawakan kami se-rembak bajik. Ketika pulang, Nyaeh membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Ia mengandung dengan suaminya yang baru,”
Kini ia datang lagi, setelah kudengar beberapa kali berganti suami. Masih dengan perut membuncit. Melihatnya, kepalaku tiba-tiba berisi karung beras, rafia dan jurang curam bekas galian batu bata di belakang dapur yang di dalamnya berisi segala macam sampah dan tampak gelap menyeramkan kalau dilihat dari atas.  Namun, setiap kali pikiran buruk itu terlintas, nasihat Nyaeh terngiang-ngiang di telinga. Tulah perempuan itu tentu sangat besar, sebesar tulah kucing. Memang tidak bisa kupungkiri, dialah yang membedakan alasan ketidaksukaanku pada kucing bunting sewaktu aku kecil dan dewasa ini.
***
Madura, Januari 2015

Minggu, 14 Desember 2014

Cerpen "Kembang Pengantin"



Dimuat Nova, edisi tgl 12-18 Desember 2014

Kembang Pengantin
Cerpen Muna Masyari
Hahaha, seolah tidak ada yang lebih malang bagi perawan selain jadi perawan tua, perawan senja. Seolah tidak ada yang lebih meresahkan bagi seorang ibu kecuali memiliki anak perawan yang mengulur usia lajang.
“Jangan suka duduk di ambang pintu! Nanti lelaki yang hendak melamarmu kembali di tengah jalan dan kau jadi perawan tua!”
“Jangan malas-malasan pagi-pagi. Seorang mertua tidak suka jika anak menantunya malas-malasan pagi-pagi. Sapu halaman! Cuci piring di dapur! Kecuali kau ingin jadi perawan tua!”
“Letakkan pisang itu! Anak perawan tidak boleh makan pisang sangkal. Nanti kau jadi perawan tua!”
Demikian teguran yang kerap dijejalkan ibu ke telingaku. Hahaha… ups! Aku lupa, anak perawan juga dilarang tertawa lebar apalagi terbahak-bahak! Selain menyerupai tawa setan, kata ibu, itu tidak baik bagi perawan. Bagi perawan! Lalu bagaimana dengan bujang?
***
Namaku Aspuyeni. Umurku sekarang delapan belas tahun lebih dua bulan sebelas hari. Aku lahir pada bulan Rabiul Awal tanggal 7 dini hari, saat hujan mengguyur deras dan angin berderu-deru, mengamuk liar di kampung kami.
Menurut cerita ibu, kelahiranku bersamaan dengan robohnya rumah pegun peninggalan buyut akibat diterjang angin dan hujan. Sejak nenek meninggal, rumah itu sudah tidak ditempati namun selalu dibakari kemenyan setiap malam jumat. Kata ibu, setiap malam jumat arwah sesepuh pulang menengok rumah dan putu-nya.
Di usiaku yang kedelapan belas tahun lebih dua bulan sebelas hari sekarang ini, kecemasan ibu semakin membuncah karena aku belum juga menikah.
“Sudah kubilang, jangan suka duduk di ambang pintu!” ibu yang baru pulang dari pangantan menyeretku ke dalam dengan kepala masih menyunggi ember lorek berwarna hijau.
Hampir saja jarum di tangan tertusuk ke jariku.
“Aku bawa sesuatu untukmu,” ibu merogoh ke balik baju setelah menurunkan ember berisi nasi mengepul di kepalanya lalu diletakkan di atas lincak. Napas ibu memburu. Peluh meleleh di pelipis dan lehernya.
“Bawa apa?” tanyaku pura-pura. Aku sudah bisa menebak apa yang dibawa ibu.
 “Ini kembang pengantin yang kuminta pada Sarjeni. Sematkan kembang ini di rambutmu agar lekas menemukan jodoh!” ujar ibu, mengangsurkan roncean kembang melati yang masih wangi-segar.
Hahaha, aku tertawa dalam hati. Benar kan? Entah sudah berapa kali ibu membawakan kembang pengantin untukku. Uhuk, uhuk… aku pura-pura terbatuk.
“Tentu kau masih ingat,” ibu menarikku untuk duduk di bangku kayu yang berdenyit saat diduduki, “Suideh dilamar Sarkap setelah Sarkap melihat rambut Suideh disemat kembang pengantin milik sepupunya yang baru saja menikah. Sekarang mereka sudah punya anak dua,”
Aku kembali menjahit kancing yang belum selesai tadi. Membiarkan ibu terus berbicara tanpa kusela. Diam lebih baik daripada menyela pembicaraan orangtua, demikian pesan ibu yang selalu jadi penasihat itu.
 “Sarinten juga begitu. Ia menikah setelah ibunya mengambilkan kembang pengantin di pernikahan Ramlah. Saat itu usia Sarinten delapanbelas tahun. Sama seperti kamu sekarang,”
Kepalaku mendongak setelah menggigit benang hingga putus. Kancing yang kemarin lepas sudah terjahit rapi.
“Iya, usiaku baru delapanbelas tahun. Seharusnya ibu tidak perlu mengambilkan kembang pengantin untukku. Kembang pengantin itu seharusnya ibu berikan pada Sakduh. Ia lebih pantas menerimanya karena sudah hampir kepala empat belum kawin juga,” alisku terangkat dengan senyum terulas.
“Hus! Delapanbelas tahun bukan muda lagi! Kau tahu, perawan seperti buah siwalan, beda dengan anak bujang,” ibu mendelik.
“Mengapa perawan dan bujang dibedakan?” kejarku, menyematkan jarum ke gulungan benang karena jahitanku sudah selesai.
“Karena perawan dilamar, bukan melamar. Sebaliknya dengan bujang. Bujang bisa menikah kapan saja dan memilih siapa pun perawan yang diinginkannya!”
“Kalau begitu, biar nanti aku yang melamar kalau tidak seorang pun yang datang melamar. jadi ibu tidak perlu cemas lagi,” mataku mengerling genit, sekadar untuk menunjukkan kalau di usiaku yang kedelapan belas tahun ini aku masih baik-baik saja.
“Kau jangan macam-macam! Mana ada perempuan melamar lelaki? Cepat pakai kembang pengantin ini!” ibu menyergah ketus sambil mengangsurkan kembang pengantin di tangannya. kembang yang dinilai keramat karena baru saja dipakai oleh sang pengantin.
Aku menerimanya, “Apa ibu yakin dengan kembang pengantin bisa segera mendatangkan jodoh?” Tanyaku, tersenyum geli dalam hati.
“Tentu saja! Dari dulu, kembang pengantin jadi penolak sangkal bagi perawan!” tegas ibu seolah begitu ingin membenamkan keyakinan ke lubuk hatiku.
Hahaha, aku menyembunyikan tawa dalam dada dan meletakkan kembang pengantin di muka meja. “Iya, nanti akan kupakai,” kataku enteng.
Ibu menghela napas meredam gusar. Kata ‘nanti’ memadamkan semangatnya yang tadi sempat berkobar.
Sepi menyulam waktu beberapa jenak. Ibu memerhatikanku, gerak-gerikku yang sedang melipat baju dan meletakkannya di lemari
“Mungkin karena kelahiranmu bersamaan dengan robohnya rumah pegun hingga kau selalu menolak kepercayaan orang-orang dulu,” lirih ibu tiba-tiba. Suaranya terdengar letih.
Aku menoleh. Menatap ibu. Ibu meraih ember di atas lincak, lalu dibawanya ke dapur.
***
Ibu tidak lagi memaksaku menyemat kembang pengantin di rambut. Namun bukan berarti ibu memupus asa. Tiap kali ada anak tetangga menikah, samar-samar hidungku mencium aroma melati di kamar. Saat kucari, kadang aku menemukan roncean melati di bawah bantal, dalam lipatan baju di lemari, bahkan pernah dalam lipatan celana dalam. Mataku hingga basah karena tertawa saat dalam lipatan celana dalam yang hendak kukenakan terdapat roncean kembang melati yang mulai kecoklatan.
Tiap melihat ibu duduk-duduk menung di beranda, aku merasa ibu tengah menunggu calon menantu yang hendak melamarku. Namun, hingga usiaku kepala tiga, harapan ibu bagai kabut pagi di musim panas.
“Mungkin karena kembang pengantinnya tidak dipakai,” ujar Bi’ Mar, tetangga sebelah yang tengah mengobrol lirih dengan ibu di dapur.
“Mungkin juga!” desah ibu.
 “Kenapa Puyeni tidak mau memakainya?”
“Entahlah! Kau tahu sendiri, ia tidak bisa dipaksa. Tidak memercayainya. Aku yakin, karena kelahirannya bersamaan dengan robohnya rumah pegun hingga ia selalu menginkari kepercayaan orang-orang dulu,”
Diam-diam aku mendengar obrolan mereka saat hendak mengambil sapu lidi yang bersandar ke dinding dapur.
Aku memaklumi kegundahan ibu. Di kampung ini, aku mulai menjadi cermin besar yang memantulkan gambar nasib perawan paling malang.
“Jangan suka duduk di ambang pintu! Nanti lelaki yang hendak melamarmu kembali di tengah jalan dan kau jadi perawan tua seperti Aspuyeni!”
“Jangan malas-malasan pagi-pagi. Seorang mertua tidak suka jika anak menantunya malas-malasan pagi-pagi. Sapu halaman! Cuci piring di dapur! Kecuali kau ingin jadi perawan tua seperti Aspuyeni!”
“Jangan makan pisang sangkal. Nanti kau jadi perawan tua seperti Aspuyeni!”
Demikian peringatan yang kerap dijejalkan para ibu ke telinga anak perawannya, seakan takdir memang mengikat para perawan dengan rantai-rantai peraturan yang harus dipatuhi kalau tidak ingin jadi perawan tua. Sepertiku. Belum pernah kudengar seorang ibu menegur anak bujangnya karena duduk di ambang pintu, tidur selepas subuh, atau makan pisang sangkal.
***
Penghulu dan para undangan yang tidak seberapa sudah pulang. Tinggal kami bertiga. Di antara kerut-kerut wajah yang sudah menyerupai daun pisang kering, kulihat senyum damai di sudut bibir ibu. Ibu menatapku dan Sakduh bergantian. Baru kali ini aku melihat tatapan ibu yang begitu bening.
Hari ini hari pernikahanku dengan Sakduh; lelaki yang kulamar seminggu lalu. Sesuai keinginanku sejak dulu, aku menikah di usiaku yang ke-37 tahun, ketika teman-teman sebaya yang dulu menikah di usia belia sudah ada yang bermenantu. Angka 3 dan 7 adalah bulan dan tanggal kelahiranku.
Aku tidak perlu menunggu dilamar, karena dalam pernikahan ini aku sendiri yang melamar lelaki pilihanku, Sakduh, lelaki ringkih bertangan sebelah dan kesehariannya lebih banyak dihabiskan di masjid.
“Aku lega, akhirnya kau menikah juga, Puyeni!” lirih ibu dengan pandangan bertudung pelangi.
Aku tersenyum seperti anak kecil menerima pujian karena baru naik kelas. Sebentar  aku masuk ke kamar, dan keluar lagi dengan roncean-roncean kembang melati yang sudah mengering.
“Lihatlah, aku masih menyimpan kembang pengantin yang ibu berikan padaku dan yang kutemukan di bawah bantal, dalam lipatan baju, dan….” Kalimatku terpotong oleh ketukan pintu dari luar.
Tok, tok, tok….
Sakduh bangkit dan membuka pintu. Seorang ibu menyeruak masuk dengan langkah dan tatapan ragu. Si ibu itu menatapku  dan sesekali tatapannya mengarah ke sanggulku. Pasti ia hendak meminta kembang pengantin untuk anak perawannya. Padahal, aku menolak saat perias pengantin tadi hendak menyematkan roncean kembang melati di sanggulku dengan alasan yang sangat sederhana.
“Kau boleh menyamatkan kembang melati di sanggulku, kalau memang nanti akan ada seorang ibu yang hendak meminta kembang itu untuk anak bujangnya,”
***
Madura, November 2014