Minggu, 02 Juli 2017

cerpen "Perempuan Pengusung Keranda"

Dimuat Padang Ekspres, 18 Juni 2017
Perempuan Pengusung Keranda
Cerpen Muna Masyari

“Apa kau tidak ingin ikut mengusungnya? Sebentar lagi jenazah akan diberangkatkan. Keluarlah!” setelah terdengar derik pintu. Suara perempuan tua itu mengusik kesendirianmu.
Riuh di luar menerobos masuk. Suara orang-orang membaca salawat, teriakan memerintah, obrolan nyaring hingga tangisan anak kecil. Aroma dupa ikut menyeruduk penciumanmu. Berbaur dengan wangi pandan dan aneka kembang.
Kau tidak menoleh atau menyahut. Kepalamu yang mulai ditumbuhi helai-helai rambut  perak melongo keluar jendela.
Matahari tergelincir dari ubun-ubun langit. Cahayanya beriak-riak di sela helai-helai janur yang menari tertiup angin seperti kilau bintang mengintip pada malam tanggal belia.
Tatapan matamu yang mendung melesat, menukik pada sebatang jalan di depan sana. Kau melihat sepuluh pengusung keranda berarak pelan di batang jalan itu, menuju area pekuburan yang berjarak separuh kilometer dari rumahmu. Di belakang para pengusung keranda yang berambut digelung dengan sampir separuh betis itu, anak-anak dan ibu-ibu sepuh menyusul lamban seraya tak henti melafalkan kalimat tauhid. Dzikir-dzikir terucap senada seirama. Lirih namun riuh. Beberapa ibu muda sibuk mendiamkan bayinya yang rewel dengan menepuk-tepuk pantatnya. Ada yang sambil menyusui. Di antara iring-iringan itu, tidak satu pun terlihat yang namanya lelaki kecuali anak-anak dibawah umur 12 tahun. Bahkan, kau melihat dirimu sendiri di antara para pengusung keranda itu.
Gorden bermotif bunga dengan rumbai-rumbai cantik bertepi renda segera kautarik hingga menutupi lubang jendela. Tubuhmu berbalik. Pelan kelopak matamu yang sembab menyembunyikan manik mata yang berselaput kelabu.
“Aku selalu berharap dia nanti yang mengusungku, bukan sebaliknya,” lirih dan parau suaramu sedikit bergetar. Mendung di matamu pecah menjadi butiran-butiran bening yang berlompatan perlahan.
Perempuan sepuh yang berdiri di depanmu membisu.
***
Entah sejak kapan kampung itu dinamai Kampong Bini’, kampung perempuan. Sepanjang hidup, kampung tempatmu menyusun hari dan menatanya dalam ingatan, sudah demikian namanya; kampong bini’. Sebuah kampung, di mana lahan-lahan tandus berbatu seolah menggoreskan kutukan pada setiap kening lelaki; menjadi perantau ke negeri orang. Sebuah kampung yang hanya dihuni anak-anak dan kaum perempuan yang sudah menapak usia paruhbaya hingga lanjut usia.
Rumah-rumah besar dihuni nenek-nenek yang mengurus cucu-cucu bandelnya dengan payah serta segelintir ibu hamil tua dan yang baru melahirkan.
Kampong Bini’. Tidak terdengar suara azan berkumandang meskipun sudah masuk waktu salat. Masjid menua dan mulai doyong terpagut usia. Tidak ada Jamiyah tahlil yang lumrah digelar setiap malam jumat. Buah-buah kelapa berjatuhan kering tanpa ada yang memetiknya.
Pemuda yang sudah merasa memiliki cukup tenaga memilih jadi pengais ringgit di negeri seberang daripada menggarap lahan tandus penumpul harapan. Ladang mandul terdiam kaku, membiarkan musim-musim hinggap silih berganti di rahimnya.
Di salah satu rumah besar berlantai keramik hijau daun, kau membatik sepi dengan goresan-goresan kegundahan yang tak pernah menemukan tepi. Kau takut hidupmu akan habis digerogoti sunyi. Ketakuan yang merajai. Bagimu, tidak ada kematian yang lebih mengerikan daripada kematian yang disebabkan oleh kesepian itu sendiri.
“Sepi itu seperti lintah,” lirihmu, tiap kali matamu sulit dikatupkan, dan gesekan pelepah janur di luar sana seperti bunyi langkah anak lelakimu yang datang diam-diam.
Sepanjang malam kau menunggu ketukan pintu. Suara anakmu menguluk salam. Namun kokok ayam membuyarkan bunyi langkah itu, pada pertengahan malam. Kokok ayam saling sahut. Nyaring dari kandang tetangga sebelah dan yang terdengar samar, di kejauhan sana. Sesekali diselingi bunyi kelepak sayapnya. Memang tidak berapa lama. Kokok ayam menghilang. Gesekan pelepah janur terdengar lagi seperti bunyi langkah anak lelakimu yang datang diam-diam. Kaupun menunggu ketukan pintu lagi. Suara anakmu menguluk salam. Hingga di penghujung malam.
“Sepi itu memang seperti lintah,” lirihmu, ketika lagi-lagi, kokok ayam menindih harapan.
Kaupun beranjak bangun sebelum sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela.
Akan tetapi, tidak seperti harapan-harapan sebelumnya, ketukan pintu tiba-tiba sungguh terdengar nyata. Menusuk gendang telinga. Langkahmu terpaku di ambang pintu. Kepalamu ditelengkan hingga sebelah telingamu sedikit terangkat. Tidak salah. Ketukan pintu berulang beradu dengan cericit burung dan kokok ayam. Bukan hayalan.
“Sebentar,” tanganmu gugup saat memutar anak kunci.
Seorang perempuan dengan gelung rambut berantakan dan napas sengal berdiri cemas di ambang pintu.
“Ada telepon dari Malasia! Anakmu…”
***
Sudah lama kau ingin berhenti jadi pengusung keranda. Mengusung keranda hanya semakin membuatmu merasa dikerubungi lintah. Pada malam setelah ada orang meninggal dan kau ikut mengusung keranda jenazahnya ke pekuburan, lintah-lintah itu semakin kuat menghisap darahmu. Membuatmu sulit memejam mata. Hingga begitu matahari rekah, dan mendapati wajahmu di cermin tampak mengapas, kau tahu, lintah-lintah itu telah banyak menghisap darahmu semalam.
Kau selalu berharap peran perempuan pangusung keranda diganti oleh para lelaki. Paling tidak, lelaki dan anakmu menggantikan peran dirimu. Kau berharap mereka segera pulang. Mengabdi di kampung halaman. Akan tetapi, harapanmu seperti selembar tapis diempas angin ketika pagi itu kau menerima kabar bahwa anakmu terjatuh dari lantai tujuh hingga tubuhnya remuk tanpa nyawa.
“Sudah kubilang, kau jangan membawanya pergi. Tapi kau tetap membawanya. Kalau sudah begini, bagaimana?” jerit tangismu tak tertahan saat menerima telepon dari lelakimu di seberang sana.
Semula, lelakimu bersiteguh memakamkan sang anak di sana. Namun kau tetap menuntut jazadnya dipulangkan ke Indonesia, ke Madura, ke Kampong Bini’, ke rumahmu. Selain bisa diziarahi tiap waktu jika dikuburkan di sini, kau juga ingin meleburkan rindu yang sudah menggumpal di dada selama tujuh tahun.
Yah! Sudah tujuh tahun lamanya anak itu tidak pulang. Tidak pernah menjenguk kampung halaman sejak pergi saat baru berusia empatbelas tahun. Iya, ia pergi saat kau baru mulai mengajarinya memegang gagang cangkul dan linggis. Saat itu, tiba-tiba lelakimu pulang dari tanah seberang, tak sekadar melepas rindu setelah merantau selama lima tahun. Dia pulang untuk merenggut sang anak dari pelukan kampung halaman. Dari pelukanmu.
“Bekerja apa dia kalau tetap tinggal di kampung ini?” kedua mata lelakimu membulat lebar saat kau mengajukan keberatan.
“Akan kuajari menggarap ladang,”
“Apa yang bisa diharapkan dari ladang kita? Kau pikir rumah sebesar ini dibangun dari hasil ladang tandus itu?”
Kau menunduk, memilin ujung kebaya.
“Memangnya kau mau anak dan cucu kita nanti makan batu?” lelakimu bertanya sengit.
Cuping hidungmu berubah merah jambu dan bergerak-gerak. Bibirmu bergetar halus.
“Akan jadi apa dia kalau tetap tinggal di sini? Aku mengajaknya bukan untuk bersenang-senang. Tapi kerja! Cari uang, supaya ia jadi orang!”
Bahumu ikut berguncang halus. Setitik air jatuh ke punggung tanganmu.
“Puah!” tangan lelakimu memukul bahu kursi keras. “Apa untungnya kau menangis seperti ini? Malasia tidak jauh. Saat lebaran ia  bisa pulang!”
Kau menggigit bibir hingga mengapas. Kau tidak ingin harta, rumah besar. Kau hanya ingin anakmu selalu ada di sisimu. Kau akan mengajarinya azan, menggali kuburan, mengusung keranda, me-nalqin orang meninggal. Kau tidak ingin anakmu ikut-ikutan mengais ringgit di negeri orang. Untuk apa membangun rumah besar kalau setiap dindingnya berlapis kesunyian yang begitu tebal, dan lintah-lintah kesepian beranak-pinak di dalamnya?
Akan tetapi, lelakimu tetap bersikukuh membawanya pergi. Sejak itu, lintah kesepian semakin berpesta di rumahmu. Menghisap darah. Apalagi sejak terdengar kabar anakmu mengalami kecelakaan, penungguan jazad bagimu adalah dera yang tiada jera.
Lintah-lintah itu seolah meliuk-liuk girang begitu jazad anakmu tiba di kampung halaman, di rumahmu, dengan diringi raungan ambulans yang seperti jerit tangis kesakitan. Yang lebih membuat dadamu terasa terpanggang, lelakimu tidak bisa ikut pulang karena harus menunggui istri mudanya yang sebentar lagi tiba waktunya melahirkan.
***
Burung-burung berseliweran mencari sarang. Bayang-bayang pohon kelapa yang tadi rebah-buram di batang jalan kian mengabur.
Anak-anak dan ibu-ibu sepuh mengiringi para pangusung keranda, berjalan lamban seraya tak henti melafalkan kalimat tauhid. Dzikir-dzikir terucap senada seirama. Lirih namun riuh, seperti kidung duka yang ditabuh dari kedalaman palung hati yang begitu nganga dan curam.
Di antara para pengusung keranda, kau berjalan paling depan di sayap kanan. Sejak baru mengangkat gagang keranda tadi, lututmu terasa bergetar. Keranda terasa lebih berat dari biasanya. Telapak kakimu terasa lengket di tanah. Namun kau tetap menegangkan urat demi menghimpun kekuatan agar mampu mengusung keranda anakmu ke pekuburan.
***
Madura, akhir Maret 2015





Kamis, 04 Mei 2017

cerpen "Zoutregie"


Dimuat Suara NTB, 29 April 2017
Zoutregie
Cerpen Muna Masyari

“Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini semua? Pasti ada yang mengadukan!” Muraksah mendengus geram mendapati garam-garamnya sudah berserakan di halaman. Wajah Muraksah semakin tampak gelap. Matanya memerah. Otot lehernya mengeras. Sengal napasnya seperti dengus sapi yang baru saja dikarap.
“Ke mana orang-orang itu sekarang? Apa mereka sudah lama pergi?” Muraksah bertanya berang seraya menyepak keranjang yang sudah dirusak berat. Hampir saja keranjang tak berbentuk yang melayang cepat itu mengenai wajah istrinya yang kebetulan langsung mengangkat wajah mendengar pertanyaan Muraksah.
Istri Muraksah tidak menyahut. Kembali menunduk, memungut butiran demi butiran garam yang tidak menyentuh tanah dan memasukkannya ke kantong plastik kresek. Garam yang menumpuk disendok bagian atas dengan kedua belah tangannya.
Matahari di atas ubun-ubun menyengat bengis, sebengis mata Muraksah yang meletupkan amarah, memerah.
“Sudah, biarkan saja garam-garam itu!” bentak Muraksah melihat apa yang dilakukan istrinya.
Siapa yang telah berkhianat? Remuk, Muksar, Sukmo, atau Murajid? Mata Muraksah menatap pedas ke jalan, menebak-nebak sendiri siapa yang telah mengadu. Menyerang dengan saling berhadapan jauh lebih terhormat daripada bertabiat khianat.
Lalu siapa di antara keempat orang yang bertabiat khianat? Hanya mereka yang tahu kalau Muraksah menyembunyikan sebagian garamnya di rumah.
Hubungan Muraksah dengan Remuk belakangan memang cukup runyam gara-gara persoalan aliran air laut yang membelok ke tambak Muraksah. Remuk menuduh Muraksah sengaja melakukannya. Tentu saja Muraksah tidak terima mendapat tuduhan tak beralasan itu. Debat sengit pun tak bisa dihindari.
Dengan Muksar, kemarin Muraksah juga sempat bersitegang gara-gara upah. Kenapa pula kuli angkut itu meminta upah pada Muraksah lebih tinggi daripada yang lain hingga membuat Muraksah merasa dibedakan? Pengecualian bukan sekadar menimbulkan rasa ketidakadilan dan kecemburuan, tapi juga penghinaan!
Kalau Sukmo, rasanya tidak mungkin. Sudah berkali-kali Muraksah membantu lelaki penyakitan itu mengeruk garamnya saat panen. Membantu mengangkutnya ke tepian ketika sulit mendapatkan kuli angkut.
Lalu, apakah Murajid yang mengadukan pada orang-orang pemerintah? Ya, bisa saja lelaki itu mengadukan kalau Muraksah diam-diam menyisihkan garam-garamnya untuk dijual keluar, demi melampiaskan kekesalan.
“Kurang ajar!” kembali Muraksah mengumpat geram. Membanting puntung rokoknya ke tanah. Cuih! Lalu meludah.
Sudah berkali-kali Murajid datang menagih hutang yang kemarin dijadikan modal oleh Muraksah. Berkali-kali pula Muraksah meminta waktu karena garam-garam yang disisihkan untuk menghindari penjualan paksa ke gudang belum bisa dibawa keluar. pengawasan di segala tempat sangat ketat. Muraksah tidak mau dihukum berat gara-gara melanggar peraturan pemerintah yang telah ditetapkan sepihak. Muraksah berjanji akan tetap melunasi hutangnya. Tentu setelah ada kesempatan menjual garam itu keluar. Namun, kedatangan Murajid yang terakhir kemarin membuat Muraksah mendidihkan darah karena dianggap sengaja mengulur waktu. Sudahlah ia menanggung malu karena belum mampu melunasi, masih ditimpuki tuduhan yang bukan-bukan.
Cuih! Muraksah meludah. Lagi. Matanya kembali terantuk pada ketekunan istrinya yang tengah memanggang punggung demi memungut butiran-butiran garam di atas tanah.
“Masuk kau Mar! Biarkan garam itu!”
Mendapat bentakan keras kedua kalinya, istri Muraksah segera bangkit dan menenteng plastik kreseknya yang hampir penuh ke dalam rumah. Bisu.
***
Ketika menginjak halaman rumah Murajid, Muraksah disambut dingin oleh lelaki yang tengah duduk-duduk di atas langgar dengan santainya.
“Apa kau sudah punya uang untuk membayar hutang-hutangmu hingga berani kemari?” satu sudut bibir Murajid terangkat. Sebelah matanya memicing menatap kedatangan Muraksah dengan tatapan menghina. Membersitkan ketakyakinan.
Asap mengepul tipis dari ujung rokok yang terapit di sela-sela jari Murajid. Cincin bermata batu kecokelatan melingkar besar di jari tengahnya.
Muraksah menatap Murajid dengan tatapan seperti mata celurit yang baru diasah. Langkah Muraksah terhenti. Lelaki itu berdiri tegak di halaman, menghadap langgar.
“Sudah kukatakan, hutangku pasti kubayar meskipun hingga sekarang aku belum punya uang. Pantang bagiku menginkari janji!”
“Lalu?” kedua alis Murajid terangkat. Senyum sinis menyembul dari balik kumis tebalnya.
“Kau tahu sendiri, harga beli di gudang sangat rendah. Dengan harga semurah itu, tidak mungkin kukembalikan modal padamu. Makanya, aku menyisihkan beberapa keranjang untuk kujual ke luar. Tapi ternyata ada yang mengadukan hingga rumahku diobrak-ambrik tadi dan garam-garamku ditabur ke halaman. Kalau kau yang terbukti telah mengadukannya, maka kau harus membayarnya dengan nyawamu!” Muraksah menyelesaikan kalimatnya sambil menuding Murajid dengan celurit terhunus. Kemudian, lelaki bertubuh gelap itu berbalik pergi. Langkahnya lebar. Bajunya yang tak berkancing dan celana komprangnya dikibas-kibaskan angin.
Pandangan Murajid mengikuti punggung Muraksah yang menjauh dengan alis terangkat dan ceruk mata melebar. Kemudian tawanya pecah hingga ia terbatuk-batuk.
***
Langkah Muraksah gegas menyusuri jalan setepak yang terpanggang matahari.  Berkali-kali Muraksah bersalipan dengan perempuan-perempuan menyunggi sekeranjang garam untuk ditimbang ke gudang. Aroma asin tercium dari tubuh mereka.
Rumah Remuk yang baru didatangi Muraksah tampak sepi. Pintu-pintu tertutup rapat.  Muksar juga sedang tidak di rumah ketika Muraksah mendatangi rumah kuli satu yang menyebalkan itu. Hanya istrinya yang keluar dari dapur, memberitahukan kalau Muksar tidak ada. Terpaksa Muraksah pulang membawa darah didih bergolak di tubuhnya.
Siapa sebenarnya yang telah menikam dari belakang? Muksar, Sukmo, Remuk, atau Murajid? Dasar pengecut! Anjing!
Sesampai di rumah, Muraksah melihat garam-garam yang tadi bertaburan di halaman sudah jauh berkurang, meskipun sisa-sisa butiran masih berkilauan ditingkahi sinar matahari. Muraksah tidak menemukan istrinya di halaman, di dalam rumah, maupun di dapur. Dipanggil tiga kali dengan teriakan nyaring, tak kunjung ada sahutan. Muraksah juga tidak melihat plastik kresek berisi garam yang tadi dipegang Mar, istrinya.
Setelah yakin istrinya tidak ada di rumah, Muraksah berdiri di ambang pintu, menatap jauh ke jalan dengan mata nanar.
***
Gerbang gudang dilalulalangi perempuan-perempuan yang masuk-keluar, datang menyunggi dan pulang menenteng keranjang kosong. Dua penjaga tampak bersiaga di kanan-kiri gerbang.
Dari jarak yang tidak seberapa jauh, lama Muraksah memerhatikan perempuan-perempuan yang keluar dari lubang berpintu kayu itu dengan tatapan awas; mencari sosok istrinya. Muraksah yakin istrinya membawa butiran-butiran garam yang tadi dipungutnya ke gudang, lalu bayarannya tentu akan dibelanjakan ke warung.
Puah!
Hampir satu jam Muraksah menunggu. Lelaki itu mendengus gusar karena yang ditunggu tak juga terlihat. Dengan kesal akhirnya Muraksah mendekati gerbang.
“Mau ke mana? Hanya penimbang garam yang dibolehkan masuk,” seorang petugas jaga mencegat Muraksah yang hendak masuk.
“Aku mencari istriku!”
“Sebaiknya tunggu di luar,”
“Dari tadi aku sudah menunggu! Apa sampean tidak melihat berapa lama aku menunggu?” Muraksah menatap petugas dengan mata runcing, lalu melangkah maju mendekati gerbang. Melongokkan kepala ke dalam.
Halaman gudang tampak luas. Sejumlah perempuan berdiri kepanasan, antre di dekat keranjang masing-masing menunggu garamnya ditimbang. Empat lelaki sedang sibuk mengangkat dan menurunkan garam dari timbangan, sementara yang satu lagi menyeimbangkan berat ukuran.
Perhatian Muraksah tiba-tiba terantuk pada sesosok tubuh berpenampilan rapi yang tengah berbincang di sudut halaman dengan seseorang yang tidak asing lagi di mata Muraksah.
Lama Muraksah memerhatikan dua lelaki di sudut halaman itu. Dahi Muraksah semakin berlipat-lipat seperti daun pisang kering. Dada Muraksah tiba-tiba turun-naik dan cuping hidungnya mengembang saat dua lelaki yang diperhatikan dari tadi melakukan serah-terima sepucuk amplop.
“Kurang ajar! Pengkhianat!” Muraksah mengumpat geram dalam hati. Tangannya yang kasar mengepal keras hingga urat-urat di punggung tangannya tampak jelas mengular. Gigi Muraksah mengertap.
Cuih! Muraksah meludah ke tanah, lalu berbalik pergi.
***
Di tikungan jalan menuju rumah Sukmo, Muraksah mondar-mandir dari tadi dengan wajah tegang. Muraksah tak habis pikir atas dasar apa Sukmo mengkhianati dirinya. Selama ini, Muraksah selalu membantu pekerjaan Sukmo di tambak. Menantu Keh Samulla itu tidak bisa melakukan perkerjaan-pekerjaan berat. Kebetulan lahan tambaknya berdampingan dengan tambak Muraksah. Kalau pekerjaan Muraksah selesai lebih dulu, ia senantiasa berbagi tenaga dengan Sukmo yang bertubuh ringkih dan asmanya sering kumat kalau terlalu sering melakukan pekerjaan berat. Kadang Muraksah juga berbagi sarapan atau kopi hangat yang dikirim istrinya.
Bersama Sukmo, Muraksah juga merasa punya teman senasib karena sama-sama belum mampu mengembalikan pinjaman modal dan sama-sama mendapat tekanan keras dari Murajid.
Dasar tidak tahu diri! Geram Muraksah berkali-kali mengumpat dalam hati. Muraksah paling benci perbuatan yang menikam diam-diam dari belakang. Bagi orang Madura, menyerang dengan saling berhadapan jauh lebih terhormat daripada bertabiat khianat.
Cuih! Potong saja kelaminnya kalau ingin jadi pengecut! Anjing! Muraksah meludah lagi. Tangannya sudah gatal. Sebentar ia meraba sesuatu yang menyembul dari balik bajunya. Sementara yang ditunggu tak kunjung datang.
Matahari menyengat bengis, sebengis mata Muraksah yang meletupkan amarah. Lelaki itu mendengus keras, menatap nyalang ke jalan setapak di depannya, berharap tubuh Sukmo segera muncul untuk menyambut ajalnya.
***
Madura, Agustus 2013


Catatan:
*Zoutregie: monopoli garam yang lebih ketat diperkenalkan pemerintah di Madura pada masa pemerintahan peralihan Inggris (1811-1816).

*cerpen ini terisnpirasi dari buku “Garam, Kekerasan dan Aduan Sapi” karya Huub De Jonge.

Minggu, 26 Maret 2017

Cerpen "Pelukis Pasir Jumiyang"



Dimuat Riau Pos 26 Maret 2017

Pelukis Pasir Jumiyang
Cerpen Muna Masyari

Seharusnya  Anda tahu, seseorang yang meyakini mitos kadang sama yakinnya akan keberadaan Tuhan!
***
“Pantai terkutuk!”
Dengan umpatan penuh nada tekanan perempuan itu menggores-goreskan ranting kering di tangannya. Gerakannya semrawut hingga dua goresan berbentuk lingkaran sebesar kepala bayi di permukaan pasir putih itu tertindih garis-garis lidi yang malang-melintang berserabutan.
Langit merah bersulam awan putih -serupa sisik ikan- di langit barat. Matahari seperti bola raksasa terpanggang; merah membara, dan menukik perlahan. Debur ombak berebutan mengecup tepian pantai, menyisakan buih-buih dan sampah yang semula terombang-ambing riang di permukaan laut. Burung-burung kecil berseliweran di angkasa serupa orang panik tengah melerai petaka.
Perempuan itu terus saja meggoreskan ranting keringnya ke pasir. Setiap goresan seolah mengandung curamnya kebencian, penyesalan atau entah. Dari mulutnya berloncatan umpatan-umpatan geram; “pantai terkutuk!”
Embusam angin memain-mainkan rambutnya yang dibiarkan tergerai sepunggung.
***
Senja membias kemerahan di langit barat. Angin berembus basah. Anda tahu? Sebelum Anda datang, saya memang sering melihat perempuan itu ada di sana, duduk menekuk punggung di atas pasir . Seperti kemarin. Kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Ah, entah sudah berapa lama ia rajin ke pantai Jumiyang ini.
Bagi kami, ia perempuan aneh yang datang dari entah. Tidak ada yang mengenalinya di sini. Barangkali berasal dari desa tetangga dekat atau dari sebuah tempat nan jauh di sana. Saya dan warga di sini sama sekali tidak berani menanyakannya. Tidak berani mengusiknya. Kami hanya menganggapnya sebagai perempuan aneh.
Sejak tiga pekan lalu, lima pekan  lalu, atau dua bulan lalu –saya tidak ingat dengan pasti- setiap senja menapak saya melihatnya di sana dengan ranting kering di tangannya; khusuk melukis pasir. Baju yang dikenakan tidak pernah berganti; baju merah bermotif bunga-bunga. Rambutnya dibiarkan tergerai dan diacak-acak angin. Ia baru beranjak pulang setelah azan magrib berkumandang di kejauhan. Pernah, setelah berpaling pulang, diam-diam saya mendatangi bekas tempatnya. Di sana, samar-samar terlihat dua goresan berbentuk lingkaran yang tertindih garis-garis lidi berserabutan.
Beragam dugaan tercetus di antara kami, sesama petani rumput laut.
“Mungkin anaknya meninggal akibat tenggelam saat berwisata ke pantai ini,”
“Barangkali ia perempuan tidak waras yang kesasar. Lihat rambutnya yang dibiarkan begitu saja! Persis orang gila!”
“Kukira ia perawan tua yang stres menunggu kekasihnya pulang dari tanah rantau!” sela Muraksah seraya melirik perempuan yang sedang khusyuk mencorat-coret pasir dengan ranting, agak jauh dari tempat kami mengikat rumput laut.
Tentu Anda tahu, perempuan mana yang tidak risau menyandang status perawan tua?
“Kenapa tidak menikah dengan lelaki lain saja kalau memang demikian?” timpal saya.
“Mana aku tahu,” Muraksah mengangkat bahu, mementahkan praduganya sendiri. Sementara tangannya mengikat rumput-rumput laut dengan cermat dan cekatan.
Diam-diam saya melirik Marsiyem. “dengan saya misalnya,” batin saya, tertawa geli. Tentu saja tidak saya suarakan. Alamat kiamat kalau sampai terdengar di telinga Marsiyem!
Hampir dua puluh tahun usia pernikahan saya dengan Marsiyem tanpa dikaruniai anak membuat Marsiyem mudah tersinggung. Jika mendengar ada lelaki beristri dua, mulut Marsiyem langsung nyinyir seperti kambing berperut kempis.
Tahukah Anda, seberapa risau jika seorang istri tidak kunjung memiliki keturunan? Sepertinya sekian kali lebih berlipat dari kerisauan seorang suami. Boleh jadi kerisauannya melebihi ketakutan pada kematian.
“Barangkali ia ingin melukis wajah dirinya dan lelaki itu di sana,” tebak saya.
“Mungkin juga! Sepertinya ia cukup cantik, hehehe,” setengah berbisik.kepala Muraksah dimiringkan ke saya.
“Kenapa selalu perempuan itu yang dibicarakan? Tidak ada yang lain?” cetus Marsiyem. Nadanya seketus saat mendengar harga rumput laut turun tajam. Rupanya Marsiyem sempat mendengar bisikan Muraksah.
Saya dan Muraksah saling lirik, lalu sama-sama menyembunyikan senyum geli di balik kumis.
***
Pantas. Sudah tiga senja saya tidak melihat perempuan itu. Seperti ada sesuatu yang kurang di pantai ini. Entah sejak kapan ia menjadi bagian dari pantai Jumiyang ini hingga ketiadaannya terasa memberi kekosongan. Barangkali karena kehadirannya kerap menjadi menu perbincangan di antara kami; sesama petani rumput laut yang sedang mengikat hasil-hasil tani di sebuah bangunan renta tak bersekat.
Terakhir saya mendatangi tempatnya –setelah ia pulang-, tergambar dua lingkaran di atas pasir tanpa garis-garis semrawut seperti biasanya. Di antara dua lingkaran itu hanya dibatasi satu garis vertikal, seperti lukisan dua mata besar dan segaris batang hidung.
Sejak itu, kami tidak pernah melihatnya lagi. Ia tidak pernah mengunjungi pantai ini. Entah ke mana.
Matahari tinggal sepotong dengan warna merah terbakar. Deru ombak  membentur karang. Punggung-punggung sudah menjauh meninggalkan pantai. Meninggalkan saya bersama bayangan diri yang kian buram.
Saya berdiri menghadap laut. Laut Jumiyang yang baru saja mencumbu petaka. Pandangan saya menebar ke sepanjang pantai, lalu terpaku di tempat perempuan itu biasa duduk menekuk punggung dengan ranting di tangannya; melukis pasir. Tempat itu kosong.
Pelan saya langkahkan kaki menuju ke sana. Azan magrib mulai berkumandang di kejauhan. Samar-samar.
Langkah saya terhenti. Lukisan dua lingkaran dan sebuah garis vertikal telah hilang disapu ombak. Pelan saya menjongkok, mengambil segenggam pasir basah. Menatapnya lama. Terngiang kutukan perempuan itu di telinga saya; pantai terkutuk!
Ah, perempuan aneh…. Saya mendesah. Angin mengempas wajah saya dengan kasar.
 “Maaf,”
Saya tersentak dan buru-buru membalikkan badan. Segenggam pasir lepas berhamburan dari genggaman saya. Seorang lelaki tanpa saya kenal telah berdiri tak jauh di belakang saya. Remang petang menyamarkan rupa wajahnya. Rambutnya dimain-mainkan angin yang berembus kencang. Anda. Ya, itulah Anda.
Mata saya memicing menilik wajah Anda lebih jelas. Memang tidak saya kenal sebelumnya.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?” tawar saya sedikit gugup.
“Saya sedang mencari seorang perempuan. Saya dengar ia sering kemari. Barangkali bapak pernah melihatnya?” ada cemas dari nada suara Anda.
“Perempuan? Berapa usianya?” alis saya bertaut, menajamkan mata, ingin mengenali wajah Anda lebih jelas.
“Sekitar 33 tahun, sering berbaju merah bunga-bunga dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja,”
“Oh!” seru saya seperti orang yang sebentar lagi akan berhasil memecahkan teka-teki misteri. Lalu tiba-tiba saya tercekat mengingat perempuan itu. Serasa tercekik.
“Iya, saya pernah melihatnya,” suara saya begitu lirih. Sangat lirih dan hampir tidak terdengar oleh telinga saya sendiri.
“Bapak pernah melihatnya?” langkah Anda maju setindak dengan wajah disorongkan ke hadapan saya.
Saya tak segera menjawab.
“Saya dengar ia memang sering kemari,” lanjut Anda, terkesan tidak sabar menunggu jawaban saya.
Saya menggangguk-angguk membenarkan. Lalu mengatur napas perlahan seperti hambusan asap tungku yang nyaris mati. Kemudian, saya ceritakan kehadiran perempuan pada setiap senja itu di pantai ini. Saya ceritakan pula praduga di antara kami tentangnya.
“Apakah tadi ia juga kemari lagi?” ada getar-getar harapan di nada suara Anda.
Saya mengggeleng lemah. Anda mendesah panjang, lalu memutar tubuh menghadap laut, membuang pandangan ke permukaan laut.
Riak ombak meriap-riap, berkilau-kilau.
“Dia istri saya,” pandangan Anda dialihkan ke wajah saya sejenak. Suara yang nyaris ditelan bacaan salawat dari kejauhan setelah kumandang azan.
“Istri?” ulang saya, meragukan pendengaran.
“Ya. Hampir lima belas tahun kami menikah tanpa dikaruniai anak. Kehidupan rumah tangga kami seperti masakan hambar belakangan ini,” berhenti sejenak.
Saya diam menyimak.
 “Suatu hari, saya mengajaknya kemari karena dari dulu dia suka sekali pada pantai. Niat saya hanya untuk menyegarkan pikirannya,”
Saya mengangguk-angguk, membiarkan Anda terus bercerita.
“Tapi sejak itu justru pertengkaran mulai mewarnai rumah tangga kami. Ia menuduh saya sengaja mengajaknya kemari sebagai perantara perceraian?”
“Perceraian?” kening saya mengerut.
“Iya!” jawaban Anda disertai anggukan tegas, kembali menatap saya. “Dia sangat yakin kalau hubungan sepasang kekasih atau suami-istri yang berkunjung ke pantai Jumiyang ini akan mengalami perceraian pada akhirnya.”
“Oh, rupanya ia percaya hal itu,”
Mitos yang masih banyak orang meyakininya. Masih lekat dan melekati pantai ini.
“Iya. Setiap hari ia permasalahkan itu karena saya mengajaknya kemari! Ia yakin, sewaktu-waktu saya akan menceraikannya. Padahal niat saya tidak seperti itu!”
Desah napas Anda seperti mengandung gumpalan beban yang menyesakkan.
Saya seperti layang-layang putus yang tampak bingung harus menukik di mana. Bagaiman saya akan memulai bercerita tentang perempuan senja itu?
Anda tahu? Sebelum kedatangan Anda kemari, warga dikejutkan oleh penemuan mayat yang terdampar di pantai ini. Sesosok mayat perempuan yang sudah membengkak dan menguar aroma bangkai. Beberapa bagian tubuhnya lebam-lebam dan lecet-lecet penuh luka. Tidak ada selembar benang pun melekat di tubuhnya. Dugaan kami sementara, kemungkinan ia melarungkan diri ke laut.
Semula kami bingung, mau diapakan mayat itu? Namun Muraksah akhirnya mengusulkan supaya dibawa ke rumah Ketua RT. Baru saja warga ramai-ramai membawanya ke sana. Hanya sekian menit sebelum kedatangan Anda.
Ia, si perempuan senja, telah menceraikan dirinya dari Anda, dari hidup, dari dunia ini. Mitos tentang pantai Jumiyang ini ternyata begitu lekat menempel di dinding kepalanya.
Apakah Anda juga percaya pada mitos itu? Kalau saya, tentu saja tidak! Buktinya, hampir tiap hari saya kemari bersama istri, nyatanya perkawinan kami aman-aman saja meski tanpa anak. Memang, justru kepercayaan yang sering menyeret seseorang pada suatu kenyataan!
***

Madura, Maret 2014

Selasa, 20 Desember 2016

Cerpen "Celurit Warisan"



Dimuat kompas, 11 Desember 2016
Celurit Warisan
Cerpen Muna Masyari

Keesokan malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kaukosongkan. Celurit yang tidak terlalu melengkung dan matanya tidak mengilap -Justru agak coklat seperti berkarat- itu seolah tidak sabar menanti malam eksekusi.
“Celurit ini tidak akan melukai orang yang tidak bersalah.” Jelasmu suatu malam, sepulang dari balai desa. Suaramu tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Kau membasuh celurit berlumur darah dengan air rendaman kertas bertuliskan huruf-huruf hijaiyah yang tidak sempat kubaca isinya.
Kuamati jemari ringkihmu ketika mengusap mata celurit tanpa takut terluka. Bayangan sebuah tangan lepas dari batang lengannya masih menyisakan getaran pada sendi lututku. Hanya sekali tebas tangan itu terdampar ke tanah. Erangan keras penuh kesakitan mengoyak sunyi malam di antara kebungkaman warga yang rapat memagar menyaksikan eksekusi untuk lelaki yang diketahui jadi maling sapi. Ia berhasil ditangkap semalam sebelumnya di perbatasan desa saat tengah menggiring paksa sapi hasil curian milik salah seorang warga desa kita.
Selesai dibasuh, kau mengelap celurit dengan kain putih, lalu membawanya ke dalam dan menggantungnya kembali di tempat biasa.
“Dengan celurit itu, keamanan desa kita cukup aman sejak dulu. Hanya orang luar yang berani macam-macam! Itu pun tidak berlangsung lama!” lanjutmu, melangkah meninggalkan kamar.
“Kenapa tidak diserahkan pada polisi saja?” kuikuti langkahmu dengan pertanyaan bernada protes.
Kau terkekeh sebentar. “Di luar sana, uang bisa membeli apa saja. Itu sebab, mengapa leluhur kita lebih mematuhi hukum yang diajari kiainya!” dengan tenang kau duduk di kursi rotan, lalu mengeluarkan selembar kulit klobot dan sejumput tembakau dari plastik kresek hitam di atas meja. Secangkir kopi tinggal ampasnya, dikerubungi semut.
Benar. Turun-temurun keluarga kita dipercaya jadi kalebun (kepala desa), hukum pun kita yang menyetirnya.
***
Dua malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kaukosongkan.
Kupejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Aroma tubuhmu serasa membaui penciumanku. Bau keringat, minyak tanah bercampur bau tembakau yang tajam dan pekat tidak pernah hilang dari kamar ini.
Kubuka mata seraya melepas napas dengan berat. Perlahan tanganku merayapi dinding, meraih gagang celurit dan meloloskan tali gantungnya dari paku.
“Celurit ini  pemberian seorang kiai sebagai tanda jasa atas pengabdian leluhur kita pada beliau,” suaramu terngiang di telingaku.
Meraba gagang celurit ini aku seperti meraba batang lenganmu yang ringkih penuh tonjolan urat namun tetap tampak kuat. Katamu, celurit ini diyakini memiliki jiwa. Matanya akan tumpul menghadapi jiwa-raga yang suci. Begitupun sebaliknya. Belum pernah ada pendosa yang selamat dari ketajamannya.
“Sukma leluhur kita menyusup ke dalamnya setelah dia meninggal,” jelasmu, seolah bisa membaca keraguan dalam benakku saat pertama kali mendengarnya.
Setiap malam jumat manis menjelang maghrib, kau tak lupa me-nyonson-nya di atas kepulan asap dupa, tepat di ambang pintu, dengan mulut komat-kamit. Menjelang wafat pun kau berwasiat agar aku selalu menjaga dan merawat celurit warisan ini, sekaligus menjaga keamanan desa kita.
Sampai kini wasiatmu masih kulaksanakan. Akan tetapi, apakah kautahu peristiwa dua malam lalu?
“Bunuh!”
“Iya, bunuh! Dia harus dibunuh!”
“Nyawa balas nyawa!”
“Dulu Kalebun Towah (kepala desa lama) juga pernah menjatuhkan hukuman serupa! Hukuman mati bagi pembunuh!”
Malam itu lampu padam. Langit muram. Bintang dan sesabit bulan berkelindan di balik awan. Hujan terganjal sejak senja tadi. Angin berembus rendah. Hanya lampu gantung di teras yang sedikit menerangi halaman balai desa.
Aku berdiri di undakan balai desa, menatap warga yang berjejalan di halaman penuh teriakan, tuntutan. Tepat di hadapanku, cucumu membisu, tertunduk layu. Sebelah lengan bajunya robek tak karuan. Ada bercak darah di sudut bibir dan pipinya lebam-lebam. Celurit penuh darah menggantung sungsang di tangannya, hampir menyentuh tanah.
“Celurit ini  pemberian seorang kiai sebagai tanda jasa atas pengabdian leluhur kita pada beliau. Celurit ini tidak akan melukai orang yang tidak bersalah!” suaramu menyusup samar ke liang telingaku.
Di sebelahku, menantumu berdiri bisu. Bahunya berguncang halus. Entah sudah berapa kali ia mengusap mata dan lubang hidungnya dengan ujung baju. Sedu tangisnya tertindih riuh teriakan warga yang saling sahut.
“Kami harap Kalebun bertindak adil meskipun kali ini adalah anggota keluarga sendiri!”
“Benar! Hukum tidak boleh pandang kerabat!”
“Setuju! Ini penganiayaan karena lelaki itu tidak bersenjata!”
“Betul! Walaupun korbannya bukan warga desa kita, lelaki itu berhak mendapatkan keadilan!”
Suara-suara lantang saling timpal. Laki-perempuan.
Kulangkahkan kaki menuruni dua undakan balai. Di hadapan cucumu yang masih menunduk dalam, aku bertanya, “Apa benar kau yang membunuhnya?”
“Iya!” cucumu mengangguk sekali. Suaranya lirih.
“Kenapa? Apa kesalahan lelaki itu?”
“Dia menggoda Murtipah.”
Murtipah? kuulang nama itu dalam hati. Aku ingat. Dua malam sebelumnya, cucumu memang minta ijin untuk meminang anak perawan itu. Cucumu menyukainya.
“Menggoda?” mataku memicing.
“Tidak hanya itu. Tadi Murtipah pulang sendirian, karena teman-temannya menonton tanggapan saronen. Aku sengaja mengikuti Murtipah diam-diam, karena sebelumnya aku dengar lelaki itu memang selalu menggangu Murtipah dan teman-temannya sepulang dari langgar. Ternyata benar. Lelaki itu mencegat Murtipah di tikungan jalan. Tidak sekadar menggoda, ia juga menyeret Murtipah ke balik rimbun pohon singkong milik Nom Sakrah!”
“Lalu?”
“Kami terlibat perkelahian. Kami sama-sama tidak bersenjata. Tapi dia menantang, menyuruhku mengambil celurit warisan ini, karena ia tidak percaya celurit ini mampu melukainya, karena dirinya sudah memiliki ilmu kebal.”
Celurit itu memang dikenal tidak hanya di desa kita. “Kau membawa celurit itu tanpa seijinku!”
“Bukankah Eppa’ sedang menghadiri undangan di rumah pengantin yang menanggap saronen?”
Dadaku serasa dipenuhi gumpalan asap tebal. Kulit wajahku seperti diusapi ulekan cabai. Sebagai kalebun, keadilan seperti apa yang harus kutegakkan? Seandainya cucumu tidak menyukai perawan itu, barangkali aku bisa memutuskan lain.
“Bagaimana ini, Pak Kalebun?”
“Kalian sudah mendengar duduk persoalannya. Anakku telah main hakim sendiri.  Itu tidak dibenarkan!”
“Lantas keadilan apa yang akan Pak Kalebun berikan?” Murakkab, lelaki yang tadi menggiring cucumu ke halaman balai desa seperti kambing hendak dikembalakan bertanya lantang dengan muka sinis. Ada bara dendam di matanya. Barangkali karena kau pernah mengeksekusi saudaranya yang tinggal di kampung sebelah, setelah kepergok jadi maling sapi di desa ini.
“Kalian sudah tahu, jadi tidak perlu dipertanyakan lagi! Malam jum’at nanti, datanglah kemari kalau ingin menyaksikan eksekusinya!” keputusanku membuat hadirin terbungkam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah mereka masing-masing. Hanya wajah Murakkab yang tampak tersenyum puas karena ia berdiri di baris depan dengan kaki mengangkang.
Apakah keputusanku ini benar? Kuurut dada dengan mata terpejam setelah warga beranjak pulang dan mayat digotong untuk diantarkan ke sanak keluarganya.
Senjata akan makan tuan. Cucumu akan menghadapi eksekusi hukum mati besok malam, dengan celurit ini. Celurit yang leluhur kita wariskan.
***
Aku terduduk lemas ke kursi. Sedu tangis terdengar tak henti dari kamar tidurku, beradu dengan  denyit gesekan pohon bambu di belakang rumah. Sejak malam peristiwa itu, menantumu tidak memiliki pekerjaan lain kecuali menguras air mata. Ia membisu setelah sempat berdebat sengit pada malam peristiwa, sepulang dari balai. Ia beranggapan keputusanku salah. Tapi cucumu menyukai perawan itu. Ia bisa saja membunuh karena terbakar api cemburu. Apakah menurutmu keputusanku keliru?
Di atas meja di depanku, ada lipatan kain kafan, buntelan kapas, daun pandan yang sudah dikerat-kerat sepanjang lima sentimenter dan diuntai dengan benang sepanjang satu meter, serbuk dupa dan parutan cendana berwadah mangkok.
Selepas saat isya, eksekusi akan dilakukan di halaman balai desa.
***
Tubuhku tersandar lemas ke dinding dengan pandangan tak berkedip. Ke mana celurit itu? Celurit itu raib. Padahal baru tadi menjelang magrib aku me-nyonson-nya. Begitu selesai, celurit itu kuletakkan kembali ke tempatnya, dan kamar ini kukunci seperti biasa. Tidak mungkin ada orang menyusup masuk. Jendela pun masih tertutup rapat.
Tubuhku melorot kulai ke lantai seperti karung kosong. Tidak! Tidak mungkin. Apakah warisan itu lenyap dengan sendirinya?
Tidak ada yang tersisa. Di mata orang-orang aku sudah seperti pecundang yang lari dari medan perang. Jabatan kalebun pun tak berhak kupertahankan. Aku kalah. Mungkin seharusnya aku tidak menyuruh cucumu lari demi menghindari eksekusi yang telah kujatuhkan sendiri. Sekarang, raibnya celurit itu serasa melengkapi kekalahanku.
Maukah kau menemani kesendirianku? Tapi kenapa aroma tubuhmu di kamar ini juga lenyap?
***
Madura, Februari 2016