Kamis, 04 Agustus 2016

cerpen "Tambang Sapi Karapan"



“Dimuat basabasi.co, 17 juni 2016

Tambang Sapi Karapan
Cerpen Muna Masyari

Bulan melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan memecah senyap malam melalui tiga spiker yang dicorongkan ke tiga penjuru arah, di halaman rumah.
Dagu Marsiyeh terangkat, Di depannya, dua pohon nyiur berjajar sejarak kira-kira tiga meter. Berdiri kaku, Marsiyeh memilin-milin tambang dengan kekalutan yang membuat dadanya turun naik. Temaram malam menyamarkan polesan kosmetik tebal di wajah perempuan muda itu. Sesekali mata Marsiyeh menatap pintalan tambang. Detik kemudian dagu Marsiyeh kembali terangkat dan pandangannya menggantung pada sebatang bambu yang diikat melintang pada dua pohon nyiur, kira-kira setinggi dua meter. Pada batang bambu itulah Suraksah, Eppak Marsiyeh, biasa mengikat sapi karapannya dengan tambang biru gelap berukuran lebih gemuk dari tambang timba sumur, yang sekarang Marsiyeh pegang.
Tadi, Marsiyeh turun dari kursi pengantin, meninggalkan panggung ludruk dengan langkah-langkah kecil gara-gara sampir ber-leres coklat-kuning emas menyulitkan gerak kakinya. Sekian pasang mata penonton tidak dihiraukan. Marsiyeh beralasan hendak buang air kecil ke belakang ketika perias pengantin mencegat langkahnya, dan Marsiyeh menolak keras diantar oleh siapapun, termasuk perias pengantin yang memaksa diri.
Marsiyeh memang ke kamar mandi. Hanya sebentar. Tidak melakukan apa-apa. Kamar mandi terletak di belakang rumah dengan bangunan terpisah dari induk rumah dan hanya diterangi lampu  lima watt. Di sebelah kamar mandi ada sumur tua, lalu kandang sapi, dan di sebelahnya lagi dua pohon nyiur berjajar, menjulang angkuh.
Di bawah pohon nyiur itulah Marsiyeh berdiri kaku menatap tambang di tangan. Tambang yang semakin menjerat ingatan Marsiyeh pada Mukassar saat memacu sapi di gelanggang karapan. Lelaki yang menjadi joki sapi karapan milik Suraksah itu memang tampak gagah dengan tubuh dibalut kaos belang hitam-putih, celana komprang hitam, dan odheng­ membelit kepalanya.
Sorak kagum bergemuruh saat Mukassar dan sepasang sapi yang dipacunya berhasil mengungguli lawan dengan selisih waktu hanya sepersekian detik. Dengan tawa bangga dan mata membinar Suraksah langsung mengepalkan tinju ke udara, bersorak bangga. Bagi Suraksah, menjawarai sayembara karapan sapi berarti semakin mengukuhkan martabat keluarganya di mata masyarakat.
Begitu kembali dari gelanggang karapan, dengan senyum bangga Suraksah memuji Mukassar yang begitu tangkas menjadi joki. Nama Mukassar pun terletup dari mulut orang-orang kampung. Apalagi saat Suraksah menggelar selamatan atas kemenangan sapinya dengan mengundang para tetangga. Para ibu dan perawan tidak sedikit yang merasa iri pada Marsiyeh, sebagai tunangan Mukassar.
hff! Marsiyeh mendesah. Benarkah ia seberuntung itu? Bayangan Mukassar berganti dengan bayangan wajah embuk yang bermata cekung dan suram. Kegagahan Mukassar di gelanggang karapan mengingatkan Marsiyeh pada sikap embuk yang selalu tampak gugup di depan eppak, dan suaranya yang selalu bergetar setiap mendapat pertanyaan keras dari eppak.
“Aku tidak ingin seperti Embuk,” desah Marsiyeh, lirih. Diamatinya tambang di tangan. Tambang yang seolah membelit kebebasan Marsiyeh sejak kecil. Terlalu banyak peraturan yang harus ia penuhi sebagai anak perempuan yang sudah ditunangkan sejak masih dalam kandungan. Tidak boleh menonton pertunjukan kecuali ditemani embuk. Tidak boleh berdandan kecuali hendak mengunjungi rumah calon mertua. Tidak boleh mengobrol dengan lelaki manapun, di jalan, di sungai, atau tempat umum, meskipun teman sekolahnya sendiri. Dan sekian peraturan yang mengikat erat di sepanjang hidup Marsiyeh selama ini. Semua demi menjunjung martabat keluarga di mata calon mertua dan masyarakat!
Begitu rumitnya jadi perempuan terikat, rutuk Marsiyeh, merasa diikat dengan tambang sapi karapan! Ia sadar, pertunangannya dilakukan di atas kepentingan harkat dan martabat Eppak-nya.
Marsiyeh menggeram dalam hati. Dagunya kembali terangkat. Bulan yang melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur tertutup awan tipis. Kelepak kelelawar menggoyangkan rerimbun daun sirsak di belakang kandang. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan melengking panjang. Di kursi pengantin, Mukassar pasti tengah senyum-senyum bahagia, pikir Marsiyeh. Marsiyeh mencengkeram tambang kian erat dengan gigi bergeretak.
Kelak, ketika usia Suraksah seperti matahari redup menjelang magrib, tambang itu pula yang kian membelit kesepian dalam kesendiriannya. Tanpa anak dan istri. Tambang biru gelap itu seperti jari-jari gurita yang membelit leher dan sekujur tubuh dengan kenangan-kenangan yang tak pernah putus, hingga membuat Suraksah sesak bernapas.
Suraksah akan teringat dengan jelas, sebulan sebelum malam pernikahan anaknya yang dimeriahi pertunjukan ludruk, Suraksah sempat berdebat sengit dengan Marsiyeh.
Sepulang dari langgar, tanpa sengaja Marsiyeh mendengar tanggal pernikahannya dengan Mukassar yang sudah ditentukan. Tanggal 15 bulan Syawal. Pernikahan akan digelar besar-besaran karena satu sapi karapan yang berhasil menjawari gubeng(1) kemarin milik Suraksah sudah ditawar 125 juta.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” dengan tangan mendekap gulungan mukena di dada Marsiyeh menyela pembicaraan Suraksah dengan Nom Sukrah
“Kau bicara apa?” Suraksah mendelik.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” ulang Marsiyeh, membalas tatapan Suraksah tanpa gentar.
“Tidak tahu diuntung! Seharusnya kau bangga memiliki suami seorang joki hebat!”
“Lebih baik menikah dengan pemuda petani biasa daripada dengan seorang joki!”
“Kurang ajar! Pada siapa kau belajar membantah? Embuk-mu tidak seperti dirimu!”
“Embuk memang selalu tunduk pada Eppak. Tidak pernah berani membantah! Selalu menuruti keinginan Eppak! Tapi Eppak Tidak pernah menghargainya! Maka itu, aku tidak ingin bernasib sama!”
Suraksah tertohok keras. Matanya kian menyala. Tulang rahangnya mengeras. Harga dirinya merasa diinjak-injak oleh putrinya sendiri. Padahal dulu, ia sama seperti Mukassar. Mertuanya merasa bangga memiliki menantu seorang joki sehebat dirinya yang berhasil menjawarai beberapa kali karapan sapi.
“Meskipun Embuk sudah terbaring sakit, Eppak tetap tidak peduli!”
“Tutup mulutmu!” bentak Suraksah, keras.
“Menjelang kematiannya pun Eppak masih lebih mementingkan sapi karapan daripada Embuk!” sambung Marsiyeh.
“Diam!”
“Bahkan Eppak tidak sempat ikut mengubur jenazahnya!”
Betapa pun geramnya Suraksah, kata-kata Marsiyeh menggiring paksa ingatan Suraksah pada peristiwa dua tahun sebelumnya. Saat itu, istrinya tergolek tak berdaya dengan kulit melepuh sekujur tubuh dan menghitam seperti bekas luka bakar. Sengal napasnya tinggal senin-kamis. Dugaan dukun yang didatangkan, katanya perempuan itu kena teluh.
“Teluhnya salah sasaran saja! Sebenarnya ditujukan pada sapi karapanmu. Pihak lawan menginginkan sapimu kalah di karapan nanti” ujar dukun waktu itu.
Setelah berhari-hari istrinya terbaring lemah tanpa sejumput nasi pun mampu ditelan, suatu pagi, istrinya dalam keadaan sekarat, dan hanya ditunggui oleh Marsiyeh. Namun Suraksah dan Mukassar tetap berangkat ke gubeng dengan sepasang sapi karapan yang sudah siap disayembarakan.
Suraksah berhasil pulang mendulang kemenangan. Namun begitu tiba di rumah, jenazah istrinya baru saja dikuburkan. Para pelayat masih banyak yang belum pulang. Sejak itu, Marsiyeh semakin membatukan hati, menolak pertunangannya dengan Mukassar.
 “Aku tetap tidak mau menikah dengannya!” nada suara Marsiyeh menekan, jelas menegaskan penolakan.
“Kau jangan macam-macam! Sekarang masuk ke kamar!” bangkit, Suraksah menuding pintu kamar. Menguap sudah kesabaran Suraksah.
Kalau saja Marsiyeh tidak segera berlari ke kamar, tamparan pedas tentu sudah mendarat di pipinya.
“Anjing!” umpat Suraksah, gusar.
Menggagalkan rencana pernikahan bagi Suraksah sama artinya meruntuhkan harga diri. Tidak hanya di mata calon besan, juga di mata orang-orang. Tidak mungkin! Kalau sapi bisa dipegang tongar-nya, maka manusia harus bisa dipegang perkataannya, batin Suraksah.
“Bagaimana?” Tanya Nom Sukrah.
“Pernikahan harus tetap tetap dilaksanakan!” ketus suara Suraksah menahan golak amarah di dadanya. Membanting pantat ke kursi.
“Bagaimana dengan Marsiyeh?” Tanya Nom Sukrah yang dari tadi diam saja menyaksikan perdebatan ayah-anak itu.
“Ah!” Suraksah mendengus gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Nanti pasti bisa menerima pernikahan itu!”
Pernikahan benar-benar digelar dengan meriah, dihibur pertunjukan ludruk pada malam harinya. Namun, di ujung malam, ketika pegelaran ludruk semakin meriah, tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan histeris dari belakang rumah.
Tambang sapi karapan yang diwariskan mertua Suraksah, dan katanya mengandung jimat, telah meloloskan Marsiyeh dari jerat harkat dan martabat yang Suraksah bangga-banggakan dengan jalan pintas dan getas.
Sejak malam pernikahan anaknya yang berujung tragis, Suraksah berusaha tegar meskipun dalam dadanya banyak memar. Lima kali ia masih mengikuti sayembara karapan sapi. Memar di dada Suraksah kian membiru manakala Mukassar menngundurkan diri dan memilih menjadi joki sapi karapan milik musuh bebuyutan Suraksah. Rumor pun membiak di masyarakat; kekalahan sapi karapan Suraksah bukan hanya karena tambang warisan mertuanya sudah tidak bertuah sejak Marsiyeh menjadikannya tali gantung saat bertindak bodoh pada malam pernikahannya, namun juga gegara minggatnya Mukassar.
***
Bulan melengkung sabit di atas pucuk batang pohon nyiur yang telah gundul. Tetabuh ludruk dan kejugan perempuan sayup-sayup terdengar di kejauhan. Entah siapa yang menanggapya.
Di bawah pohon nyiur, tempat di mana Suraksah biasa mengikat, memijat dan mengelus-elus sapi karapannya, tempat di mana hidup Marsiyeh berakhir malang, Suraksah menjajarkan empat piala presiden hasil sayembara karapan sapi. Tanpa anak, istri dan sapi karapan. Dua pohon yang menjulang angkuh itu mati perlahan sejak malam pernikahan tragis beberapa tahun silam dan menjadi arena pesta para rayap. Suraksah hanya hidup bersama kenangan-kenangan pahit tentang anak-istrinya dan masa-masa kejayaan sewaktu menjawarai gubeng. Suraksah baru memahami arti sebuah keluarga dan martabat sosial yang pernah diagung-agungkan.
Tambang sapi karapan terkalung di leher Suraksah.
***
Madura, Juni 2015


gubeng(1): puncak sayembara karapan sapi se-Madura dengan merebut piala presiden.

Minggu, 06 Desember 2015

Cerpen "Lagu Bayati"



Dimuat Tabloid Nova, 16 November 2015

Lagu Bayati
Cerpen Muna Masyari

Langkah gegas dan lebar. Lengkung celurit dalam genggaman berkilap tertimpa sinar matahari. Mata bengis seolah siap menerkam. Tulang rahang mengeras. Teriakan garang sejak dari kejauhan. Ah!
 “Matilah aku!” batin Muhdi seiring detak jantungnya yang berderap kerap. Wajah Muhdi pias membayangkan Sakiman kembali, dan ia datang beserta ayahnya, karena tidak terima atas perlakuan Muhdi baru saja.
Punggung Sakiman sudah hilang di balik tembok pagar. Begitu cepat langkah anak itu berkejaran menyeberangi halaman madrasah. Muhdi mundur, menjauhi jendela bertirai kawat berbentuk bajik-bajik yang sudah berkarat. Mengelap peluh yang berembun di dahi dengan punggung tangan. Muhdi tidak mampu memungut konsentrasi yang berkeping-keping seperti pecahan gelas dibanting. Tidak bisa berpura-pura tenang untuk lanjut mengajari murid-muridnya yang tersulap diam, seolah tersihir jadi patung beberapa jenak.
 “Sakiman pulang untuk mengadu pada Eppak-nya!”
kaler!”
“Bakal ribut!”
Keterdiaman pecah oleh desis-desis para murid yang tampak ikut cemas. Saling bisik satu sama lain. Muhdi semakin gelisah.
***
Sudah hampir sebulan Muhdi berada di desa itu, belum pernah ia bermain-main ke rumah tetangga setempat. Muhdi merasa cemas mendengar stereotype tentang orang-orang Madura yang katanya berperangai keras. Pendendam. Ke mana-mana membawa celurit. Suka bercarok dan gemar memancing keributan.
Muhdi tak lebih sebagai guru abdi dari pondok pesantren yang mendapat tugas mengabdi di daerah pedalaman Madura, tepatnya di Bujur Tenga. Tugasnya hanya mendidik, berbagi ilmu.
Pemuda berasal dari Jawa Tengah dan baru berusia duapuluh tahun itu juga Qori’ yang cukup dikenal dan sering mendapat undangan jika ada haflatul imtihan, pesta perkawinan, penyambutan kepulangan jamaah haji, dan sebagainya.
Sudah berapa medali dan rupiah Muhdi bawa pulang saat menjadi juara Qori’ di berbagai kompetisi. Suara merdu dan kemampuannya menguasai sejumlah lagu juga mengantarkan Muhdi ke berbagai acara yang diselenggarakan pemerintah di daerahnya. Pernah juga ia diundang ke acara penikahan anak bupati di tempat tinggalnya.
Sekian penghormatan sudah Muhdi terima sejak dirinya dikenal sebagai Qori’ semasih mondok. Kini, saat dirinya menjalani masa pengabdian dari tempat ia menempa ilmu, justru petaka yang menantinya.
Di sini, di tempat tugas pengabdiannya, Muhdi mengajari anak-anak Qurra’ untuk pelajaran tambahan, setiap Jumat sore. Murid-murid mulai dari kelas empat hingga kelas enam disilakan hadir kalau ingin belajar Qurro’.
Antusias murid-murid Muhdi cukup tinggi. Terbukti, yang hadir mencapai 90% dari murid sebanyak 47, meskipun murid laki lebih banyak mengganggu daripada serius belajar. Hal itu Muhdi sadari sejak pertemuan pertama. Saat mengenalkan macam-macam nama lagu; Bayati, Shaba, Hijaz, Nawahand, Rots, Jiharkah, Sikah, Sakiman, anak kelas enam, seperti menemukan sesuatu yang luar biasa dari keterangan Muhdi.
“Bayati ibunya Pusati! Bayati tukang tambal panci! Ha ha ha….” teriak Sakiman, disusul ledakan tawanya yang nyaring dan panjang, hingga matanya mengeluarkan air.
Wajah anak yang bernama Pusati memerah. Muhdi baru tahu kalau ibu Pusati bernama Bayati (dengan bunyi huruf ‘A’ diganti ‘E’ seperti menyuarakan kata ‘betul’) dan bekerja sebagai tukang tambal pantat perabot-perabot dapur yang bocor. Setiap hari, katanya, ibu Pusati yang bernama Bayati membawa gulungan lembar alumunium dan perkakas lain ke kampung-kampung. Berteriak sepanjang jalan, menawarkan jasa penambalan atau penggantian pantat panci dan perabot dapur lain.
Sejak itu, setiap ada kelas Qurra’, Pusati selalu menjadi bahan ledekan Sakiman. Sebagaiman Jumat sore itu.
“Coba Jumrati mencontohkan lagu Bayati Jawab, disusul Pusati mencontohkan Bayati Jawabul Jawab!” Muhdi menunjuk dua orang murid perempuan yang memiliki suara merdu dan napas panjang melebihi murid-murid yang lain.
Suara Jumrati dan Pusati beda karakter. Suara Jumrati lembut dan halus. Jika dipadu dengan suara Pusati yang renyah dan kadang melengking nyaring saat menaikkan nada, terdapat keunikan tersendiri. Hanya saja, Pusati harus belajar menata suara agar tidak pecah ketika sampai pada lagu Bayati Su’ud.
“Bayati! Bayati!” Sakiman mengejek Pusati sebelum anak perempuan yang duduk di bangku paling depan itu sempat menghimpun konsentrasi.
Murid laki yang lain ikut tertawa mendengar ejekan Sakiman.
“Pusati anaknya Bayati! Bayati tukang tambal panci!” tambah Sakiman.
Pusati menoleh ke belakang, ke arah Sakiman, dengan wajah merah dan mata tergenang. Bibirnya bergetar.
 “Sakiman!” tegur Muhdi setengah membentak.
Sakiman diam sebentar. Hanya sebentar. Karena, baru saja Pusati membaca ta’awwudz, tidak lama kemudian Sakiman meledek lagi dan bangkit dari tempat duduknya.
“Pusati anaknya Bayati! Bayati tukang tambal panci,” Sakiman menirukan gaya perempuan yang sedang menyunggi sesuatu dengan tangan di angkat ke atas kepala, dan ia berjalan berlenggak-lenggok. Hanya tiga langkah, namun tingkah Sakiman seperti badut yang berhasil mengocok perut orang-orang di sekelilingnya. Hanya Jumrati yang tidak tertawa, namun justru menatap geram ke arah Sakiman yang terpingkal-pingkal. Sedangkan Pusati menutup wajah ke muka meja.
“Coba Sakiman yang memberi contah Bayati Jawabul Jawab! Semua diam dan dengarkan!” kesabaran Muhdi menguap seperti kepulan asap. Muhdi menunjuk Sakiman dengan suara lantang, tatapan tajam, dan seruas bambu diarahkan lurus ke wajah anak itu dari jarak yang cukup jauh.
Semua menoleh ke arah Sakiman yang duduk di bangku paling belakang. Ada yang nyengir, menunggu suara Sakiman. Ada yang tersenyum puas mendengar perintah yang diterima Sakiman. Jumrati menatap Sakiman dengan tatapan syukur.
Semula, Sakiman tampak berwajah serius dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara. Akan tetapi….
Gigi Muhdi gemeretak dan tangannya mengepal geram. Mulai dari ayat pertama Sakiman jelas sengaja membaca ayat dengan bacaan tanpa tajwid sama sekali. Bacaan panjang sengaja dibaca pendek. Sedangkan bacaan pendek dibaca sangat panjang dan naik turun seenaknya. Bahkan melebihi panjang tiga alif. Kepalanya sampai menggeleng-geleng menahan napas dan matanya memejam rapat. Lagu Bayati Jawabul Jawab dibuat kacau sama sekali.
“Sakiman,  ke depan!” bentak Muhdi.
Sakiman menghentikan suara. Matanya terbuka. Peluh meleleh di dahinya. Melihat wajah Muhdi menyiratkan amarah, ruang kelas jadi hening. Senyap menyergap sekeliling.
“Aku bilang, ke depan! Cepat! Atau mau kuseret?” bentak Muhdi lagi.
Dengan tenang Sakiman bangkit dan melangkah ke depan kelas tanpa dosa, diiringi tatapan yang lain.
“Tadahkan tangan!” Muhdi mengangkat seruas bambu yang biasa dijadikan alat tunjuk ke papan.
Sakiman mengangkat sebelah tangan serupa pengemis.
Plak! Plak! Plak! “Jangan pernah memain-mainkan ayat Al-Qur’an!” geram Muhdi seraya memukulkan seruas bambu ke telapak tangan Sakiman tiga kali, keras.
Sakiman mengaduh dan mengibas-kibaskan tangan dengan wajah meringis kesakitan. Giginya merapat. Matanya menatap Muhdi dengan tatapan marah.
“Akan kuadukan pada Eppak!” ancam Sakiman, lalu berlari keluar.
Muhdi terkesiap sejenak, seolah baru sadar dengan apa yang baru saja dilakukan. Celaka! Pikir Muhdi.
Muhdi mendekati jendela, menatap Sakiman yang berlari cepat meninggalkan kelas. Menyeberangi halaman madrasah, lalu hilang di balik tembok pagar.
***
Langkah gegas dan lebar. Lengkung celurit dalam genggaman berkilap tertimpa sinar matahari. Mata bengis seolah siap menerkam. Tulang rahang mengeras. Teriakan garang sejak dari kejauhan.
Bayangan yang sempat melekat di kepala Muhdi kini benar-benar nyata di hadapan Muhdi. Sebelum anak-anak sempat meninggalkan halaman madrasah, dua orang muncul dari pintu pagar.  Sakiman beserta seorang lelaki bertubuh gelap, mengenakan celana komprang hitam, tanpa baju, melangkah lebar memasuki halaman. Di tangan lelaki itu, selengkung celurit berkilap tertimpa sinar matahari.
Lutut Muhdi bergetar. Beberapa murid menghentikan langkah, dan menoleh ke arah Muhdi yang urung mengunci pintu kelas demi melihat kedatangan Sakiman dan lelaki itu.
“Mana ustadnya?” pertanyaan lantang dan bernada keras membuat kunci yang tergenggam di tangan Muhdi terjatuh.
Buru-buru Muhdi memungut kunci dengan gugup.
“Dia!” sakiman menunjuk ke arah Muhdi.
Sebentar langkah lelaki itu terhenti. Mengamati Muhdi dengan tajam.
Muhdi seperti pendurhaka yang dikutuk jadi arca.
“Kau yang memukul Sakiman?” pertanyaan lantang beserta celurit diarahkan pada Muhdi.
Diam. Bibir Muhdi bergetar. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun!
“Kau tahu, hanya kami, Eppak-Embu’na yang boleh memukul Sakiman! Memangnya siapa dirimu, berani memukul anakku? Sepertinya kau orang baru di sini.”
“Dia guru tugas, Nom!” Jumrati yang tadi menghentikan langkah dan tidak langsung pulang demi melihat kedatangan Sakiman dan ayahnya, menjawab.
“Dia gurumu? Kenapa kau tidak bilang kalau gurumu yang telah memukulmu?” pertanyaan lelaki itu ditujukan pada Sakiman.
Sakiman salah tingkah.
“Salah apa kau hingga dipukul?” Sakiman dibentak.
“Sakiman meledek Pusati, karena ibunya menjadi tukang tambal panci!” Jumrati yang kembali bersuara.
“Tidak!” tiba-tiba Pusati menyanggah, “Ustad memukulnya karena Sakiman memain-mainkan bacaan Al-Qur’an!”
“Betul, Sakiman?” mata lelaki itu melotot berang.
Sakiman menunduk. Mengangguk takut.
Lelaki itu membuka sandalnya sebelah. Sandal itu digenggamnya, lalu dipukulkan ke pantat Sakiman berkali-kali. Sakiman hanya mengaduh kecil. Tidak menghindar.
***
Muhdi sedang melantunkan ayat Al-Quran dengan lagu Bayati ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk. Siapa? Muhdi bertanya-tanya dalam hati.
Setelah menyium Al-Qur’an, lalu meletakkan di atas lemari, Muhdi membuka pintu. Hatinya berdesir melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
“Saya minta maaf atas kesalahan Sakiman dan kejadian tadi sore…” lelaki yang tadi sore datang membawa celurit dan wajah garang, kini berdiri di hadapan Muhdi dengan permintaan maaf serta mengangsurkan setandan pisang.
Beberapa jenak Muhdi tidak mampu berkata apa-apa.
“Saya juga bermaksud mengundang ustad ke rumah kami nanti,”
“Dalam acara apa ya, Pak?”
Ayah Sakiman tersipu sebentar. “Acara pernikahan saya dengan Bayati, ibunya Pusati,” menjawab malu-malu.
“Oh,” Muhdi menahan senyum dalam hati. Di balik wajah sangar lelaki di depannya, rupanya tersimpan wajah lugu. Bahkan terkesan lucu kalau sedang malu-malu.
***
Madura, Februari 2015

Senin, 30 November 2015

cerpen "Pulang"



Dimuat Suara NTB, 28 November 2015
                                      Pulang
Cerpen Muna Masyari

“Pulanglah, Ti! Pulang!”
Suara Aspuyeni berdengung dalam genthong(1) kosong. Suaranya menekan dan menggetarkan kemarahan. Seikat daun kelor dipukulkan ke mulut genthong di antara panggilan-panggilan pulang yang dilakukan berulang. Saat memanggil, tubuh Aspuyeni serupa huruf dal. Sabut kelapa mengepulkan asap beraroma dupa di dekat genthong.
Kucing yang bergelung badan di depan mulut tungku berjingkat bangun. Menggeliat sebentar. Mengeong. Lalu menghampiri Aspuyeni dan menggosok-gosokkan tubuhnya yang penuh abu tungku ke betis perempuan baya itu. Bulu kucing terasa hangat dan lembut di betis Aspuyeni. Geli.
Aspuyeni menegakkan punggung. Mulutnya komat-kamit hingga menimbulkan desis dan sedikit decap. Agak lama. Lalu menekuk punggung lagi, membenamkan wajah ke mulut genthong.
“Pulanglah, Ti! Pulang!”
Kembali suara Aspuyeni berdengung di dalam sana seperti suara orang yang dipencet cuping hidungnya. Seikat daun kelor dipukulkan lagi ke mulut genthong.
Meong….
Kucing mengeong. Mengelilingi dua batang betis Aspuyeni yang serupa dua batang kayu kering. Disusul decak cicak tiga kali di dinding yang hanya terlihat ekornya bergerak-gerak di balik wajan digantung.
Aspuyeni mengangkat wajah. Lagi. Mulutnya komat-kamit hingga menimbulkan desis dan decap. Lalu menekuk punggung. Aspuyeni memanggil Pusati, anak perempuannya. Sekali lagi.
Setiap malam jumat legi, antara maghrib-isya, Aspuyeni melakukan hal itu. Memanggil Pusati pulang di sela komat-kamit panjang. Aroma dupa menyengat dari sabut kelapa yang dibakar.
Demikianlah cara memanggil orang pulang di daerah itu.
Dulu, Aspuyeni juga melihat ibunya melakukan hal serupa ketika mendengar ayahnya beristri lagi di Kalimantan.
Marah dan malu berkilat di mata ibu setiap datang tetangga yang memiliki sanak keluarga merantau di Kalimantan ikut berkabar mengenai sang ayah.
Setiap malam jum’at legi, antara maghrib-isya’, Aspuyeni melihat ibunya memanggil ayah pulang melalui genthong kosong di sudut dapur. Asap beraroma dupa mengapung di udara.
Tak selang lama ayahnya memang pulang, disambut kemenangan di sudut bibir ibu. Kemenangan sebagaimana dalam perang yang tetap menyisakan kepahitan.
***
Sudah tiga malam jumat legi Aspuyeni memanggil Pusati. Namun yang dipanggil belum kunjung pulang. Cemas dan malu memercikkan kemarahan di dada Aspuyeni, seperti batang besi yang dipotong dengan  pemotong listrik hingga memercikkan kembang api. Terbakar dada dan kuping Aspuyeni mendengar desas-desus para tetangga yang menyembur semakin deras, sederas semburan air dari selang bocor.
“Apa benar kau menjadi senok di sana, Ti?” berkali-kali perempuan paruhbaya itu mengelus dada dan beristighfar; poraalla, poraalla….
Perih tumit Aspuyeni yang kelabu dan retak-retak saat berciuman dengan kerikil tajam tak dipedulikan. Setiba di halaman, Aspuyeni membanting setali kayu bakar sebesar pelukan orang dewasa dari kepalanya, seiring hentakan napas untuk melonggarkan dada yang sesak seperti dipenuhi gemulung asap tebal.
Baru saja Aspuyeni berpapasan dengan Mudiyeh, dan kembali dirinya dilontari pertanyaan yang hampir sama.
 “Apa benar Pusati kabur dari rumah majikannya, dan dia menjadi tenaga kerja umroh?” tanya Mudiyeh. Mata Mudiyeh tidak menyiratkan sebenar-benarnya rasa ingin tahu.
Bibir Aspuyeni mengatup rapat. Setelah Jum, Mar, kini giliran Mudiyeh yang bertanya serupa. Aspuyeni tidak tahu harus menjawab bagaimana. Istilah ‘tenaga kerja umroh’ saja ia baru mengerti setelah meminta penjelasan pada Saturah, tetangga sebelah yang pernah jadi TKW ke Jiddah. Katanya,tenaga kerja umroh ialah tenaga kerja yang kabur dari rumah majikan dan memilih lepas dari pertanggungjawaban pemerintah. Biasanya mereka berkeliaran di luar mencari kerja dengan caranya sendiri. Ada juga kemungkinan bekerja sebagai penjual diri, sebagaimana pengertian yang membiak di mata Jum, Mar dan Mudiyeh, dan di mata orang-orang kampung.
Kabar terakhir yang diterima Aspuyeni sebelum lebaran kemarin, Pusati yang sudah bekerja hampir dua tahun memang mengaku tidak kerasan karena selalu diganggu majikan lelakinya. Pusati juga memutuskan tidak akan memperpanjang masa kerja pada majikan itu setelah kontraknya habis. Pusati tidak bilang bahwa dirinya kabur dari rumah majikan dan menjadi tenaga kerja illegal.
“Apa benar Pusati….” pertanyaan Aspuyeni menggantung ragu seperti ranting kering tersangkut di dahan.
Aspuyeni mengelap lelehan peluh di lehernya dengan kain yang tadi dijadikan penutup kepala saat menyunggi kayu bakar.
***
Dalam remang lampu talempek, tubuh Aspuyeni membolak-balik kanan-kiri di atas lincak tanpa mampu marapatkan mata. Yang ada dalam pikiran Aspuyeni hanya Pusati. Pusati. Pusati yang tak kunjung pulang. Pusati yang dikabarkan menjual diri di negeri orang. Jadi senok.
Beberapa hari sudah Aspuyeni tidak pergi ke pasar demi menghindari berpapasan dengan orang-orang. Kalaupun keluar ke tegal, Aspuyeni memilih jalan yang jarang dilewati orang.
Hening berkelindan di separuh malam. Desah napas Aspuyeni seperti desau angin kemarau di senja hari.
Tiba-tiba Aspuyeni bangkit dan mengangkat sudut kasurnya. Mengambil lembar-lembar uang yang dikirimkan Pusati sebelum lebaran. Kiriman pertama sejak Pusati berangkat jadi TKW. Uang itu masih licin. Remang cahaya lampu memburamkan warna cerah pada kertas itu. Lama Aspuyeni menatap uang kertas di tangannya. Rencananya sebagian uang itu akan dibelikan pasir dan batu bata untuk merenovasi rumah yang sudah renta dipagut usia, sebagaimana impian Pusati selama ini. Namun, kalau ternyata uang itu adalah hasil nyenok….
Ah, Pusati. Pusati. Sudah berkali-kali Aspuyeni mengingatkan sebelum berangkat agar anaknya bekerja baik-baik, yang halal-halal saja. Malang di atas malang jika bekerja jauh-jauh hanya untuk menjadi kayu bakar neraka kelak. Lebih baik memiliki rumah ambruk daripada mempunyai anak berakhlak buruk. Sejak ayahnya meninggal empat tahun lalu, Pusati memang memaksa mencari kerja ke tanah Saudi untuk merenovasi rumah yang sudah rapuh dilahap rayap.
Aspuyeni turun  dan dari gerakannya menimbulkan denyit pada lincak yang sudah longgar pakunya. Ia menghampiri redup lampu talempek di sudut ruangan yang nyaris kehabisan minyak. Mendekatkan ujung lembar-lembar uang pada lidah api.
Gludak!
Terdengar bunyi dari dapur –seperti suara benda jatuh- disusul meong kucing. Aspuyeni tidak terusik sama sekali. Sudah biasa kucing piaraannya menjatuhkan atau menggulingkan perabot dapur ketika memburu cicak yang merayap di dinding. Apalagi dalam keadaan lapar. Selain tidak ke pasar beberapa hari ini, Aspuyeni juga tidak menghentikan penjaja ikan yang biasa lewat di depan rumahnya. Ia tidak punya uang selain kiriman dari Pusati, dan ia tidak berminat membelanjakan uang yang belum jelas halal-haramnya.
Aspuyeni menjulurkan lembar-lembar uang di tangannya ke lidah api. Lidah api menjilati ujung uang kertas hingga mengerut perlahan dan menghitam dan mengepulkan asap tipis.
Keesokan paginya, barulah Aspuyeni mendapati wajannya tertelungkup di dekat genthong yang terguling ke tanah. Gayung tempurung kelapa terlempar agak jauh. Ketika hendak mengembalikan genthong ke tempat semula, Aspuyeni melihat retak-retak menganga di dinding genthong. Lama Aspuyeni terpaku mengamati retak genthong.
Ekor cicak buntung diusung serombongan semut di tanah.
Pandangan Aspuyeni beralih pada kucing yang tengah mendengkur dan bergelung badan di depan mulut tungku. Aspuyeni menebak, semalam kucing itu gigih memburu cicak di balik wajan. Wajan terjatuh. Cicak gagal ditangkap dan terjatuh di dekat genthong. Kucing semakin bernapsu memburunya hingga tak sengaja genthong terdorong keras dan terguling.
Retak.
***
Aspuyeni sedang menarik tali timba dari lubang sumur ketika terdengar orang menguluk salam. Dilihatnya tiga lelaki sudah berdiri di halaman, memandangi Aspuyeni dengan tatapan menunggu.
“Sebentar,”  Aspuyeni meraih timba yang sudah terangkat sejajar bibir sumur dan airnya sedikit tumpah ketika diraih. Air dituangkan ke dalam ember cucian yang terletak di dekat kakinya.
Kucing berbulu hitam campur putih seperti tindihan peta Kalimantan menjilat-jilat telapak kakinya tidak jauh dari sumur.
 Setelah mengusap-usapkan telapak tangannya yang basah ke lengan baju, Aspuyeni segera menghampiri tiga tamu berpakaian rapi dan wangi. Satu di antara ketiganya adalah Pak RT. Aspuyeni menyilakan duduk di lincak beranda. Kucing yang mengejar di belakangAspuyeni berebut naik. Mendahului.
“Mereka dari perusaaan tenaga kerja yang memberangkatkan anak ibu ke Saudi,” ujar Pak RT, memerkenalkan dua tamu yang menyertainya.
Aspuyeni mengangguk-angguk gugup.
“Ada apa, ya? Apakah ada kabar dari Pusati? Benarkah ia menjadi tenaga kerja umroh?” Aspuyeni bertanya tak sabar.
Dua tamu di depannya saling lirik sebentar.
“Panas dada saya mendengar ucapan tetangga, Pak. ” Aspuyeni menepuk-nepuk dada. Letupan emosi terpancar dari kilat mata dan nada suaranya yang menekan kuat.
 “Ibu yang tabah…” salah satu tamu mengambil jeda sejenak  dari kalimatnya, “saya kemari ingin mengabarkan bahwa anak Ibu…” berhenti kembali dengan ratu wajah ragu, “bahwa anak Ibu mengalami kecelakaan,”
Mata Aspuyeni membeliak mendengarnya. Kecelakaan?
“Kepalanya retak, dan kami masih berusaha mengurus kepulangan jenazah ke tanah air,” tamu satunya lagi menyambung lirih.
“Katanya, Pusati terguling dari tangga lantai atas saat berusaha lari dari majikan lelakinya yang hendak berbuat macam-macam,” Pak RT ikut menjelaskan dengan wajah prihatin.
Aspuyeni terpatung. Mulutnya ternganga.
Genthong! Ingatan Aspuyeni kembali pada genthong-nya. Genthong yang pernah digunakan ibu memanggil ayahnya pulang dan beberapa hari terakhir ini juga dia gunakan untuk memanggil Pusati pulang. Genthong yang ditemukan terguling retak tiga hari yang lalu.
“Jadi Pusati masih bekerja pada majikannya? Pusati tidak nyennok?”
Ketiga tamu di depan Aspuyeni saling pandang.
Mulut dan mata Aspuyeni mengatup perlahan seperti bayi yang  hendak tidur dalam dekapan ibunya. Aspuyeni mengusap dada seraya melirihkan kalimat syukur. “Alahamdulillah…” Mendesah lega.
Tiga tamu kembali saling pandang tak mengerti mendengar kalimat syukur dari perempuan itu. kalimat yang masih terdengar jelas meskipun diucapkan dengan lirih.
***
Madura, September 2013

Catatan
Genthong(1): wadah air yang terbuat dari tanah liat.