Minggu, 06 Desember 2015

Cerpen "Lagu Bayati"



Dimuat Tabloid Nova, 16 November 2015

Lagu Bayati
Cerpen Muna Masyari

Langkah gegas dan lebar. Lengkung celurit dalam genggaman berkilap tertimpa sinar matahari. Mata bengis seolah siap menerkam. Tulang rahang mengeras. Teriakan garang sejak dari kejauhan. Ah!
 “Matilah aku!” batin Muhdi seiring detak jantungnya yang berderap kerap. Wajah Muhdi pias membayangkan Sakiman kembali, dan ia datang beserta ayahnya, karena tidak terima atas perlakuan Muhdi baru saja.
Punggung Sakiman sudah hilang di balik tembok pagar. Begitu cepat langkah anak itu berkejaran menyeberangi halaman madrasah. Muhdi mundur, menjauhi jendela bertirai kawat berbentuk bajik-bajik yang sudah berkarat. Mengelap peluh yang berembun di dahi dengan punggung tangan. Muhdi tidak mampu memungut konsentrasi yang berkeping-keping seperti pecahan gelas dibanting. Tidak bisa berpura-pura tenang untuk lanjut mengajari murid-muridnya yang tersulap diam, seolah tersihir jadi patung beberapa jenak.
 “Sakiman pulang untuk mengadu pada Eppak-nya!”
kaler!”
“Bakal ribut!”
Keterdiaman pecah oleh desis-desis para murid yang tampak ikut cemas. Saling bisik satu sama lain. Muhdi semakin gelisah.
***
Sudah hampir sebulan Muhdi berada di desa itu, belum pernah ia bermain-main ke rumah tetangga setempat. Muhdi merasa cemas mendengar stereotype tentang orang-orang Madura yang katanya berperangai keras. Pendendam. Ke mana-mana membawa celurit. Suka bercarok dan gemar memancing keributan.
Muhdi tak lebih sebagai guru abdi dari pondok pesantren yang mendapat tugas mengabdi di daerah pedalaman Madura, tepatnya di Bujur Tenga. Tugasnya hanya mendidik, berbagi ilmu.
Pemuda berasal dari Jawa Tengah dan baru berusia duapuluh tahun itu juga Qori’ yang cukup dikenal dan sering mendapat undangan jika ada haflatul imtihan, pesta perkawinan, penyambutan kepulangan jamaah haji, dan sebagainya.
Sudah berapa medali dan rupiah Muhdi bawa pulang saat menjadi juara Qori’ di berbagai kompetisi. Suara merdu dan kemampuannya menguasai sejumlah lagu juga mengantarkan Muhdi ke berbagai acara yang diselenggarakan pemerintah di daerahnya. Pernah juga ia diundang ke acara penikahan anak bupati di tempat tinggalnya.
Sekian penghormatan sudah Muhdi terima sejak dirinya dikenal sebagai Qori’ semasih mondok. Kini, saat dirinya menjalani masa pengabdian dari tempat ia menempa ilmu, justru petaka yang menantinya.
Di sini, di tempat tugas pengabdiannya, Muhdi mengajari anak-anak Qurra’ untuk pelajaran tambahan, setiap Jumat sore. Murid-murid mulai dari kelas empat hingga kelas enam disilakan hadir kalau ingin belajar Qurro’.
Antusias murid-murid Muhdi cukup tinggi. Terbukti, yang hadir mencapai 90% dari murid sebanyak 47, meskipun murid laki lebih banyak mengganggu daripada serius belajar. Hal itu Muhdi sadari sejak pertemuan pertama. Saat mengenalkan macam-macam nama lagu; Bayati, Shaba, Hijaz, Nawahand, Rots, Jiharkah, Sikah, Sakiman, anak kelas enam, seperti menemukan sesuatu yang luar biasa dari keterangan Muhdi.
“Bayati ibunya Pusati! Bayati tukang tambal panci! Ha ha ha….” teriak Sakiman, disusul ledakan tawanya yang nyaring dan panjang, hingga matanya mengeluarkan air.
Wajah anak yang bernama Pusati memerah. Muhdi baru tahu kalau ibu Pusati bernama Bayati (dengan bunyi huruf ‘A’ diganti ‘E’ seperti menyuarakan kata ‘betul’) dan bekerja sebagai tukang tambal pantat perabot-perabot dapur yang bocor. Setiap hari, katanya, ibu Pusati yang bernama Bayati membawa gulungan lembar alumunium dan perkakas lain ke kampung-kampung. Berteriak sepanjang jalan, menawarkan jasa penambalan atau penggantian pantat panci dan perabot dapur lain.
Sejak itu, setiap ada kelas Qurra’, Pusati selalu menjadi bahan ledekan Sakiman. Sebagaiman Jumat sore itu.
“Coba Jumrati mencontohkan lagu Bayati Jawab, disusul Pusati mencontohkan Bayati Jawabul Jawab!” Muhdi menunjuk dua orang murid perempuan yang memiliki suara merdu dan napas panjang melebihi murid-murid yang lain.
Suara Jumrati dan Pusati beda karakter. Suara Jumrati lembut dan halus. Jika dipadu dengan suara Pusati yang renyah dan kadang melengking nyaring saat menaikkan nada, terdapat keunikan tersendiri. Hanya saja, Pusati harus belajar menata suara agar tidak pecah ketika sampai pada lagu Bayati Su’ud.
“Bayati! Bayati!” Sakiman mengejek Pusati sebelum anak perempuan yang duduk di bangku paling depan itu sempat menghimpun konsentrasi.
Murid laki yang lain ikut tertawa mendengar ejekan Sakiman.
“Pusati anaknya Bayati! Bayati tukang tambal panci!” tambah Sakiman.
Pusati menoleh ke belakang, ke arah Sakiman, dengan wajah merah dan mata tergenang. Bibirnya bergetar.
 “Sakiman!” tegur Muhdi setengah membentak.
Sakiman diam sebentar. Hanya sebentar. Karena, baru saja Pusati membaca ta’awwudz, tidak lama kemudian Sakiman meledek lagi dan bangkit dari tempat duduknya.
“Pusati anaknya Bayati! Bayati tukang tambal panci,” Sakiman menirukan gaya perempuan yang sedang menyunggi sesuatu dengan tangan di angkat ke atas kepala, dan ia berjalan berlenggak-lenggok. Hanya tiga langkah, namun tingkah Sakiman seperti badut yang berhasil mengocok perut orang-orang di sekelilingnya. Hanya Jumrati yang tidak tertawa, namun justru menatap geram ke arah Sakiman yang terpingkal-pingkal. Sedangkan Pusati menutup wajah ke muka meja.
“Coba Sakiman yang memberi contah Bayati Jawabul Jawab! Semua diam dan dengarkan!” kesabaran Muhdi menguap seperti kepulan asap. Muhdi menunjuk Sakiman dengan suara lantang, tatapan tajam, dan seruas bambu diarahkan lurus ke wajah anak itu dari jarak yang cukup jauh.
Semua menoleh ke arah Sakiman yang duduk di bangku paling belakang. Ada yang nyengir, menunggu suara Sakiman. Ada yang tersenyum puas mendengar perintah yang diterima Sakiman. Jumrati menatap Sakiman dengan tatapan syukur.
Semula, Sakiman tampak berwajah serius dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara. Akan tetapi….
Gigi Muhdi gemeretak dan tangannya mengepal geram. Mulai dari ayat pertama Sakiman jelas sengaja membaca ayat dengan bacaan tanpa tajwid sama sekali. Bacaan panjang sengaja dibaca pendek. Sedangkan bacaan pendek dibaca sangat panjang dan naik turun seenaknya. Bahkan melebihi panjang tiga alif. Kepalanya sampai menggeleng-geleng menahan napas dan matanya memejam rapat. Lagu Bayati Jawabul Jawab dibuat kacau sama sekali.
“Sakiman,  ke depan!” bentak Muhdi.
Sakiman menghentikan suara. Matanya terbuka. Peluh meleleh di dahinya. Melihat wajah Muhdi menyiratkan amarah, ruang kelas jadi hening. Senyap menyergap sekeliling.
“Aku bilang, ke depan! Cepat! Atau mau kuseret?” bentak Muhdi lagi.
Dengan tenang Sakiman bangkit dan melangkah ke depan kelas tanpa dosa, diiringi tatapan yang lain.
“Tadahkan tangan!” Muhdi mengangkat seruas bambu yang biasa dijadikan alat tunjuk ke papan.
Sakiman mengangkat sebelah tangan serupa pengemis.
Plak! Plak! Plak! “Jangan pernah memain-mainkan ayat Al-Qur’an!” geram Muhdi seraya memukulkan seruas bambu ke telapak tangan Sakiman tiga kali, keras.
Sakiman mengaduh dan mengibas-kibaskan tangan dengan wajah meringis kesakitan. Giginya merapat. Matanya menatap Muhdi dengan tatapan marah.
“Akan kuadukan pada Eppak!” ancam Sakiman, lalu berlari keluar.
Muhdi terkesiap sejenak, seolah baru sadar dengan apa yang baru saja dilakukan. Celaka! Pikir Muhdi.
Muhdi mendekati jendela, menatap Sakiman yang berlari cepat meninggalkan kelas. Menyeberangi halaman madrasah, lalu hilang di balik tembok pagar.
***
Langkah gegas dan lebar. Lengkung celurit dalam genggaman berkilap tertimpa sinar matahari. Mata bengis seolah siap menerkam. Tulang rahang mengeras. Teriakan garang sejak dari kejauhan.
Bayangan yang sempat melekat di kepala Muhdi kini benar-benar nyata di hadapan Muhdi. Sebelum anak-anak sempat meninggalkan halaman madrasah, dua orang muncul dari pintu pagar.  Sakiman beserta seorang lelaki bertubuh gelap, mengenakan celana komprang hitam, tanpa baju, melangkah lebar memasuki halaman. Di tangan lelaki itu, selengkung celurit berkilap tertimpa sinar matahari.
Lutut Muhdi bergetar. Beberapa murid menghentikan langkah, dan menoleh ke arah Muhdi yang urung mengunci pintu kelas demi melihat kedatangan Sakiman dan lelaki itu.
“Mana ustadnya?” pertanyaan lantang dan bernada keras membuat kunci yang tergenggam di tangan Muhdi terjatuh.
Buru-buru Muhdi memungut kunci dengan gugup.
“Dia!” sakiman menunjuk ke arah Muhdi.
Sebentar langkah lelaki itu terhenti. Mengamati Muhdi dengan tajam.
Muhdi seperti pendurhaka yang dikutuk jadi arca.
“Kau yang memukul Sakiman?” pertanyaan lantang beserta celurit diarahkan pada Muhdi.
Diam. Bibir Muhdi bergetar. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun!
“Kau tahu, hanya kami, Eppak-Embu’na yang boleh memukul Sakiman! Memangnya siapa dirimu, berani memukul anakku? Sepertinya kau orang baru di sini.”
“Dia guru tugas, Nom!” Jumrati yang tadi menghentikan langkah dan tidak langsung pulang demi melihat kedatangan Sakiman dan ayahnya, menjawab.
“Dia gurumu? Kenapa kau tidak bilang kalau gurumu yang telah memukulmu?” pertanyaan lelaki itu ditujukan pada Sakiman.
Sakiman salah tingkah.
“Salah apa kau hingga dipukul?” Sakiman dibentak.
“Sakiman meledek Pusati, karena ibunya menjadi tukang tambal panci!” Jumrati yang kembali bersuara.
“Tidak!” tiba-tiba Pusati menyanggah, “Ustad memukulnya karena Sakiman memain-mainkan bacaan Al-Qur’an!”
“Betul, Sakiman?” mata lelaki itu melotot berang.
Sakiman menunduk. Mengangguk takut.
Lelaki itu membuka sandalnya sebelah. Sandal itu digenggamnya, lalu dipukulkan ke pantat Sakiman berkali-kali. Sakiman hanya mengaduh kecil. Tidak menghindar.
***
Muhdi sedang melantunkan ayat Al-Quran dengan lagu Bayati ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk. Siapa? Muhdi bertanya-tanya dalam hati.
Setelah menyium Al-Qur’an, lalu meletakkan di atas lemari, Muhdi membuka pintu. Hatinya berdesir melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
“Saya minta maaf atas kesalahan Sakiman dan kejadian tadi sore…” lelaki yang tadi sore datang membawa celurit dan wajah garang, kini berdiri di hadapan Muhdi dengan permintaan maaf serta mengangsurkan setandan pisang.
Beberapa jenak Muhdi tidak mampu berkata apa-apa.
“Saya juga bermaksud mengundang ustad ke rumah kami nanti,”
“Dalam acara apa ya, Pak?”
Ayah Sakiman tersipu sebentar. “Acara pernikahan saya dengan Bayati, ibunya Pusati,” menjawab malu-malu.
“Oh,” Muhdi menahan senyum dalam hati. Di balik wajah sangar lelaki di depannya, rupanya tersimpan wajah lugu. Bahkan terkesan lucu kalau sedang malu-malu.
***
Madura, Februari 2015

Senin, 30 November 2015

cerpen "Pulang"



Dimuat Suara NTB, 28 November 2015
                                      Pulang
Cerpen Muna Masyari

“Pulanglah, Ti! Pulang!”
Suara Aspuyeni berdengung dalam genthong(1) kosong. Suaranya menekan dan menggetarkan kemarahan. Seikat daun kelor dipukulkan ke mulut genthong di antara panggilan-panggilan pulang yang dilakukan berulang. Saat memanggil, tubuh Aspuyeni serupa huruf dal. Sabut kelapa mengepulkan asap beraroma dupa di dekat genthong.
Kucing yang bergelung badan di depan mulut tungku berjingkat bangun. Menggeliat sebentar. Mengeong. Lalu menghampiri Aspuyeni dan menggosok-gosokkan tubuhnya yang penuh abu tungku ke betis perempuan baya itu. Bulu kucing terasa hangat dan lembut di betis Aspuyeni. Geli.
Aspuyeni menegakkan punggung. Mulutnya komat-kamit hingga menimbulkan desis dan sedikit decap. Agak lama. Lalu menekuk punggung lagi, membenamkan wajah ke mulut genthong.
“Pulanglah, Ti! Pulang!”
Kembali suara Aspuyeni berdengung di dalam sana seperti suara orang yang dipencet cuping hidungnya. Seikat daun kelor dipukulkan lagi ke mulut genthong.
Meong….
Kucing mengeong. Mengelilingi dua batang betis Aspuyeni yang serupa dua batang kayu kering. Disusul decak cicak tiga kali di dinding yang hanya terlihat ekornya bergerak-gerak di balik wajan digantung.
Aspuyeni mengangkat wajah. Lagi. Mulutnya komat-kamit hingga menimbulkan desis dan decap. Lalu menekuk punggung. Aspuyeni memanggil Pusati, anak perempuannya. Sekali lagi.
Setiap malam jumat legi, antara maghrib-isya, Aspuyeni melakukan hal itu. Memanggil Pusati pulang di sela komat-kamit panjang. Aroma dupa menyengat dari sabut kelapa yang dibakar.
Demikianlah cara memanggil orang pulang di daerah itu.
Dulu, Aspuyeni juga melihat ibunya melakukan hal serupa ketika mendengar ayahnya beristri lagi di Kalimantan.
Marah dan malu berkilat di mata ibu setiap datang tetangga yang memiliki sanak keluarga merantau di Kalimantan ikut berkabar mengenai sang ayah.
Setiap malam jum’at legi, antara maghrib-isya’, Aspuyeni melihat ibunya memanggil ayah pulang melalui genthong kosong di sudut dapur. Asap beraroma dupa mengapung di udara.
Tak selang lama ayahnya memang pulang, disambut kemenangan di sudut bibir ibu. Kemenangan sebagaimana dalam perang yang tetap menyisakan kepahitan.
***
Sudah tiga malam jumat legi Aspuyeni memanggil Pusati. Namun yang dipanggil belum kunjung pulang. Cemas dan malu memercikkan kemarahan di dada Aspuyeni, seperti batang besi yang dipotong dengan  pemotong listrik hingga memercikkan kembang api. Terbakar dada dan kuping Aspuyeni mendengar desas-desus para tetangga yang menyembur semakin deras, sederas semburan air dari selang bocor.
“Apa benar kau menjadi senok di sana, Ti?” berkali-kali perempuan paruhbaya itu mengelus dada dan beristighfar; poraalla, poraalla….
Perih tumit Aspuyeni yang kelabu dan retak-retak saat berciuman dengan kerikil tajam tak dipedulikan. Setiba di halaman, Aspuyeni membanting setali kayu bakar sebesar pelukan orang dewasa dari kepalanya, seiring hentakan napas untuk melonggarkan dada yang sesak seperti dipenuhi gemulung asap tebal.
Baru saja Aspuyeni berpapasan dengan Mudiyeh, dan kembali dirinya dilontari pertanyaan yang hampir sama.
 “Apa benar Pusati kabur dari rumah majikannya, dan dia menjadi tenaga kerja umroh?” tanya Mudiyeh. Mata Mudiyeh tidak menyiratkan sebenar-benarnya rasa ingin tahu.
Bibir Aspuyeni mengatup rapat. Setelah Jum, Mar, kini giliran Mudiyeh yang bertanya serupa. Aspuyeni tidak tahu harus menjawab bagaimana. Istilah ‘tenaga kerja umroh’ saja ia baru mengerti setelah meminta penjelasan pada Saturah, tetangga sebelah yang pernah jadi TKW ke Jiddah. Katanya,tenaga kerja umroh ialah tenaga kerja yang kabur dari rumah majikan dan memilih lepas dari pertanggungjawaban pemerintah. Biasanya mereka berkeliaran di luar mencari kerja dengan caranya sendiri. Ada juga kemungkinan bekerja sebagai penjual diri, sebagaimana pengertian yang membiak di mata Jum, Mar dan Mudiyeh, dan di mata orang-orang kampung.
Kabar terakhir yang diterima Aspuyeni sebelum lebaran kemarin, Pusati yang sudah bekerja hampir dua tahun memang mengaku tidak kerasan karena selalu diganggu majikan lelakinya. Pusati juga memutuskan tidak akan memperpanjang masa kerja pada majikan itu setelah kontraknya habis. Pusati tidak bilang bahwa dirinya kabur dari rumah majikan dan menjadi tenaga kerja illegal.
“Apa benar Pusati….” pertanyaan Aspuyeni menggantung ragu seperti ranting kering tersangkut di dahan.
Aspuyeni mengelap lelehan peluh di lehernya dengan kain yang tadi dijadikan penutup kepala saat menyunggi kayu bakar.
***
Dalam remang lampu talempek, tubuh Aspuyeni membolak-balik kanan-kiri di atas lincak tanpa mampu marapatkan mata. Yang ada dalam pikiran Aspuyeni hanya Pusati. Pusati. Pusati yang tak kunjung pulang. Pusati yang dikabarkan menjual diri di negeri orang. Jadi senok.
Beberapa hari sudah Aspuyeni tidak pergi ke pasar demi menghindari berpapasan dengan orang-orang. Kalaupun keluar ke tegal, Aspuyeni memilih jalan yang jarang dilewati orang.
Hening berkelindan di separuh malam. Desah napas Aspuyeni seperti desau angin kemarau di senja hari.
Tiba-tiba Aspuyeni bangkit dan mengangkat sudut kasurnya. Mengambil lembar-lembar uang yang dikirimkan Pusati sebelum lebaran. Kiriman pertama sejak Pusati berangkat jadi TKW. Uang itu masih licin. Remang cahaya lampu memburamkan warna cerah pada kertas itu. Lama Aspuyeni menatap uang kertas di tangannya. Rencananya sebagian uang itu akan dibelikan pasir dan batu bata untuk merenovasi rumah yang sudah renta dipagut usia, sebagaimana impian Pusati selama ini. Namun, kalau ternyata uang itu adalah hasil nyenok….
Ah, Pusati. Pusati. Sudah berkali-kali Aspuyeni mengingatkan sebelum berangkat agar anaknya bekerja baik-baik, yang halal-halal saja. Malang di atas malang jika bekerja jauh-jauh hanya untuk menjadi kayu bakar neraka kelak. Lebih baik memiliki rumah ambruk daripada mempunyai anak berakhlak buruk. Sejak ayahnya meninggal empat tahun lalu, Pusati memang memaksa mencari kerja ke tanah Saudi untuk merenovasi rumah yang sudah rapuh dilahap rayap.
Aspuyeni turun  dan dari gerakannya menimbulkan denyit pada lincak yang sudah longgar pakunya. Ia menghampiri redup lampu talempek di sudut ruangan yang nyaris kehabisan minyak. Mendekatkan ujung lembar-lembar uang pada lidah api.
Gludak!
Terdengar bunyi dari dapur –seperti suara benda jatuh- disusul meong kucing. Aspuyeni tidak terusik sama sekali. Sudah biasa kucing piaraannya menjatuhkan atau menggulingkan perabot dapur ketika memburu cicak yang merayap di dinding. Apalagi dalam keadaan lapar. Selain tidak ke pasar beberapa hari ini, Aspuyeni juga tidak menghentikan penjaja ikan yang biasa lewat di depan rumahnya. Ia tidak punya uang selain kiriman dari Pusati, dan ia tidak berminat membelanjakan uang yang belum jelas halal-haramnya.
Aspuyeni menjulurkan lembar-lembar uang di tangannya ke lidah api. Lidah api menjilati ujung uang kertas hingga mengerut perlahan dan menghitam dan mengepulkan asap tipis.
Keesokan paginya, barulah Aspuyeni mendapati wajannya tertelungkup di dekat genthong yang terguling ke tanah. Gayung tempurung kelapa terlempar agak jauh. Ketika hendak mengembalikan genthong ke tempat semula, Aspuyeni melihat retak-retak menganga di dinding genthong. Lama Aspuyeni terpaku mengamati retak genthong.
Ekor cicak buntung diusung serombongan semut di tanah.
Pandangan Aspuyeni beralih pada kucing yang tengah mendengkur dan bergelung badan di depan mulut tungku. Aspuyeni menebak, semalam kucing itu gigih memburu cicak di balik wajan. Wajan terjatuh. Cicak gagal ditangkap dan terjatuh di dekat genthong. Kucing semakin bernapsu memburunya hingga tak sengaja genthong terdorong keras dan terguling.
Retak.
***
Aspuyeni sedang menarik tali timba dari lubang sumur ketika terdengar orang menguluk salam. Dilihatnya tiga lelaki sudah berdiri di halaman, memandangi Aspuyeni dengan tatapan menunggu.
“Sebentar,”  Aspuyeni meraih timba yang sudah terangkat sejajar bibir sumur dan airnya sedikit tumpah ketika diraih. Air dituangkan ke dalam ember cucian yang terletak di dekat kakinya.
Kucing berbulu hitam campur putih seperti tindihan peta Kalimantan menjilat-jilat telapak kakinya tidak jauh dari sumur.
 Setelah mengusap-usapkan telapak tangannya yang basah ke lengan baju, Aspuyeni segera menghampiri tiga tamu berpakaian rapi dan wangi. Satu di antara ketiganya adalah Pak RT. Aspuyeni menyilakan duduk di lincak beranda. Kucing yang mengejar di belakangAspuyeni berebut naik. Mendahului.
“Mereka dari perusaaan tenaga kerja yang memberangkatkan anak ibu ke Saudi,” ujar Pak RT, memerkenalkan dua tamu yang menyertainya.
Aspuyeni mengangguk-angguk gugup.
“Ada apa, ya? Apakah ada kabar dari Pusati? Benarkah ia menjadi tenaga kerja umroh?” Aspuyeni bertanya tak sabar.
Dua tamu di depannya saling lirik sebentar.
“Panas dada saya mendengar ucapan tetangga, Pak. ” Aspuyeni menepuk-nepuk dada. Letupan emosi terpancar dari kilat mata dan nada suaranya yang menekan kuat.
 “Ibu yang tabah…” salah satu tamu mengambil jeda sejenak  dari kalimatnya, “saya kemari ingin mengabarkan bahwa anak Ibu…” berhenti kembali dengan ratu wajah ragu, “bahwa anak Ibu mengalami kecelakaan,”
Mata Aspuyeni membeliak mendengarnya. Kecelakaan?
“Kepalanya retak, dan kami masih berusaha mengurus kepulangan jenazah ke tanah air,” tamu satunya lagi menyambung lirih.
“Katanya, Pusati terguling dari tangga lantai atas saat berusaha lari dari majikan lelakinya yang hendak berbuat macam-macam,” Pak RT ikut menjelaskan dengan wajah prihatin.
Aspuyeni terpatung. Mulutnya ternganga.
Genthong! Ingatan Aspuyeni kembali pada genthong-nya. Genthong yang pernah digunakan ibu memanggil ayahnya pulang dan beberapa hari terakhir ini juga dia gunakan untuk memanggil Pusati pulang. Genthong yang ditemukan terguling retak tiga hari yang lalu.
“Jadi Pusati masih bekerja pada majikannya? Pusati tidak nyennok?”
Ketiga tamu di depan Aspuyeni saling pandang.
Mulut dan mata Aspuyeni mengatup perlahan seperti bayi yang  hendak tidur dalam dekapan ibunya. Aspuyeni mengusap dada seraya melirihkan kalimat syukur. “Alahamdulillah…” Mendesah lega.
Tiga tamu kembali saling pandang tak mengerti mendengar kalimat syukur dari perempuan itu. kalimat yang masih terdengar jelas meskipun diucapkan dengan lirih.
***
Madura, September 2013

Catatan
Genthong(1): wadah air yang terbuat dari tanah liat.

Rabu, 24 Juni 2015

Cerpen "Topeng Gulur"



Dimuat Majalah Femina, Edisi 20-26 Juni 2015
Topeng Gulur
Cerpen Muna Masyari
Angin sawah berembus rendah. Pancang-pancang obor yang mengeliling serupa nyala lilin dari kejauhan, berbentuk lingkaran. Lidah obor kadang menyorong ke kanan dan ke kiri digiring angin. Asap mengepul kehitaman.
Riuh sorak-sorai terdengar semarak di antara tabuhan gendang, gong, tiupan terompet dan seruling. Langit berhias bintang serupa manik-manik kecil di gaun pengantin.
Tiga penari mengenakan rompi dan berkalung bunga dan bertopeng merah menyala, menari lincah di tengah-tengah lingkaran pancang obor. Penabuh musik mengeliling dalam lingkaran obor. Saronen(1) melengking menusuk telinga. Menembus sunyi malam.
Wajah warga membinar terbias cahaya obor. Tiga penari bertopeng menghentakkan kaki tiga kali. Bersamaan. Gelang gungseng(2) yang melingkari pergelangan kaki si penari bergemerincing nyaring. Gerak mereka lincah mengikuti irama saronen. Menari dengan gerakan-gerakan ritmis; menjongkok, duduk, dan berdiri menghentakkan kaki berkali-kali, lalu bergulur-gulur di tanah. Rambut palsu yang panjang tergerai berkibas-kibas. Kalung bunga di dada mereka bergoyang-goyang. Anak-anak seketika menyembunyikan wajah ke ketiak ibunya begitu wajah topeng sang penari yang bermata mendelik serupa sapi disembelih melongok ke arah mereka, seolah sengaja memelototi. Menakut-nakuti.
Malam kian semarak. Sorak-sorai kian meriuh saat penari bergulur-gulur; sebuah gerakan menyatukan diri dengan bumi sebagai simbol mengagungkan Sang Maha Pemberirejeki, Maha Penurunhujan. Di wajah pengunjung, harapan membuncah akan datangnya hujan sebentar lagi. Tanah berkapur akan senantiasa subur hingga sawah bisa diolah dan tanaman berpanen makmur setelah digelarnya ritual topeng gulur(3).
Oh, turunlah, wahai hujan…
Duduk di antara penabuh musik, Muraksah mengisap batang rokoknya dalam-dalam seraya tak lepas mengamati para penari.
Malam terus merayap. Angin menukik. Nyala obor menjilat-jilatkan lidah ke samping. Para pengunjung tidak ada yang beranjak. Lengking saronen semakin menusuk, merobek sunyi memanggil hujan.
Angin berembus kencang. Nyala obor menyorong sebentar. Kembali tiga penari bergulur-gulur, lalu bangkit dengan gerakan cekat. Menghentakkan kaki ke tanah berkapur sebanyak tiga kali. Gelang gungseng bergemerincing nyaring.
Melihat lincahnya gerakan penari dan antusias warga, Muraksah tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan. Muraksah yakin, tidak akan lama lagi akan turun hujan.
Semula, banyak yang meyakini, kemarau memanggang, bumi terbakar dan hujan enggan bertandang karena ada perawan mengandung.  Bumi terpanggang dari dosa-dosa pelaku zina.
Tahun kemarin, Suminah yang baru  pulang dari Arab Saudi setelah lima tahun menjadi TKW ternyata pulang bersama janin di perutnya. Entah siapa bapak si janin, Suminah menggembok mulut. Bisik-bisik orang pun menyebar; kemarau panjang mencengkeram karena Suminah mengandung anak jadah.
Tahun sebelumnya, Surati, anak tunggal Sujamin yang tuna akal dan tidak bisa bicara tiba-tiba berperut buncit dan payudaranya mengembung besar. Benar saja. Ketika ibunya memeriksakan Surati ke dukun beranak, sang dukun menyatakan bahwa Surati bunting enam bulan. Ibu Surati mengurut dada dengan tangis tertahan, “Poraalla, poraalla (4)”.
Kabar mengenai buntingnya Surati cepat meluas secepat abu kemarau yang diterbangkan angin kencang. Orang-orang merasa prihatin akan nasib Surati. Apalagi, perawan malang berusia 15 tahun itu  tampak bingung saat ditanya paksa oleh orang tuanya; siapa lelaki yang telah meniduri? Dan, tahun itu, kemarau pun membengis hingga banyak tanaman dan ternak mati kekurangan air minum. Orang-orang semakin yakin kalau perawan bunting memperpanjang usia kemarau.
Lalu….
“Anak perawan siapa yang hamil diluar nikah tahun ini?” Tanya Munajid suatu sore, di serambi rumah Muraksah.
“Hujan tidak turun-turun karena kita tidak menggelar topeng gulur! Bukan karena ada perawan hamil!” Muraksah menyanggah keras pertanyaan Munajid yang tengah mengobrol dengan Surakkab meresahkan kemarau yang begitu beringas.
Munajid dan Surakkab menoleh dan tidak menyadari sebelumnya akan kehadiran Muraksah yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. Munajid dan Surakkab segera menyalami tuan rumah penuh takzim.
“Jangan mencari perawan hamil kalau kemarau memanggang bumi. Tapi ingat-ingatlah, sudah berapa lama topeng gulur tidak digelar?” Muraksah bertanya sebelum menanyakan maksud kedatangan dua tamu ke rumahnya.
Munajid dan Surakkab saling tatap. Sudah tiga kemarau topeng gulur tidak pernah digelar. Tepatnya, sejak kedatangan Keh Sakduh, sang kiai muda yang baru berdukuh ke kampung itu. Ritual topeng gulur diganti dengan pelaksanaan salat istisqa’(5) atas anjuran Keh Sakduh. Tentu saja Muraksah berang. Sebagai tetua kampung, Muraksah salalu dijadikan ketua pagelaran topeng gulur. Muraksah memiliki pengaruh kuat di kampung itu. Muraksah juga  menjadi tempat rembuk dan sering dimintai petuah oleh warga. Ketika ada orang hendak mengawinkan anaknya, ia meminta hari baik pada Muraksah. Ketika ada orang hendak membangun rumah, ia meminta petunjuk arah/hadap rumah dan letak pintu dan hari baik untuk meletakkan batu pertama. Namun, sejak kehadiran Keh Sakduh, Muraksah merasa tersisihkan karena orang-orang lebih tunduk pada apa yang dianjurkan Keh Sakduh. Termasuk mengenai topeng gulur yang diganti dengan salat istisqa’. Hanya sebagian orang, termasuk Munajid, yang masih menaruh percaya pada Muraksah.
“Coba perhatikan, adakah perawan yang mengandung anak jadah tahun ini?” Muraksah bertanya lagi dengan mimik serius dan kepala dimajukan. Kedua alis Muraksah terangkat seolah ingin membangunkan kesadaran dua lelaki di depannya.
Surakkab dan Munajid kembali menukar tatap. Muraksah menarik punggung. Abu di ujung batang rokok dijentikkan  ke mulut asbak yang terbuat dari bambu.
“Nyatanya, hujan tidak turun-turun kan?” sudut bibir Muraksah melengkung. Sebelah mata lelaki itu memicing sebentar, melirik Surakkab dan Munajid bergantian.
“Memang tidak ada kayaknya,” sahut Munajid dengan nada ragu.
Seorang perempuan baya datang membawa nampan berisi tiga cangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang masih mengapul. Munajid sedikit kecewa karena bukan Marinten, anak perawan Muraksah yang membawakan kopi.
Marinten paling cantik di antara saudara-saudara perempuannya. Sayang sekali, meskipun sudah cukup umur untuk menikah, Marinten belum menemukan jodohnya karena Muraksah selalu menolak lelaki yang datang melamar. Padahal, teman sabaya Marinten banyak yang sudah punya anak. Terakhir, Muraksah menolak lamaran Arsap, anak Maksar. Siapa yang tak kenal keluarga Maksar? Keluarga kaya yang menjadi pembeli tembakau kala musim.
Arsap dan Maksar marah besar begitu lamarannya ditolak. Mereka merasa terhina. Apalagi sebelumnya mereka yakin lamarannya akan diterima. Desas-desus dari mulut ke mulut, katanya Muraksah menginginkan menantu alim yang bisa menandingi Keh Sakduh.
Kalau sore itu Munajid nekad bertamu ke rumah Muraksah dengan maksud melamar Marinten untuk keponakannya, tak lebih karena ia sudah merasa terjepit didesak tiap waktu oleh keponakannya itu.
“Makanya! Kita harus menggelar topeng gulur! Bukan malah sibuk mencari perawan bunting,” suara Muraksah menghentak keras.
Sore itu, dengan menggebu-gebu Muraksah menanamkan keyakinan di dada kedua tamunya. Untuk sementara Munajid melupakan maksud kedatangannya ke rumah Muraksah. Dengan niat mengambil hati Muraksah, Munajid dan Surakkab pulang mengajak orang-orang agar kembali menggelar topeng gulur. Siapa tahu, dengan cara itu Muraksah akan menerima lamaran Munajid untuk keponakannya nanti.
Karena tidak ada perawan pun yang hamil, sementara kemarau semakin mengeringkan meskipuan salat istisqa’ sudah hampir sebulan dilaksanakan, akhirnya warga banyak yang sepakat topeng gulur kembali digelar.
Maka, pada malam itu, topeng gulur pun digelar dengan meriah, di tengah sawah. Wajah muraksah tampak sumringah menyaksikan tiga penari bertopeng dalam lingkaran pancang obor dan para pengunjung yang mengeliling rapat. Muraksah tidak sadar ada dua pasang mata memerhatikannya dari kejauhan. Bibir kedua orang itu menyungging sinis.
***
Matahari menyengat bengis. Menampar-nampar kulit hingga terasa diusapi cabai. Debu-debu beterbangan menebar hawa panas. Tidak ada mendung mengapung meskipun setipis kabut yang berembus dari ujung rokok Muraksah. Lenguh sapi-sapi dari kandang warga terdengar silih berganti menyepakati teriakan haus yang mencekik leher mereka. Apalagi yang mereka makan tak lebih dari kulit jagung yang dibasahi sedikit. Tentu terasa sepat. Dahan-dahan jati gundul setelah daun-daunnya berguguran.
“Kenapa hujan tidak turun juga?” Tanya Munajid, entah ditujukan pada siapa. Pertanyaan Munajid seolah mewakili pertanyaan orang-orang yang disemburkan padanya tiap kali berpapasan atau kebetulan berjumpa di masjid dan di warung kopi. Embusan angin kencang mengepulkan debu-debu dari taneyan lanjang.
“Iya. Padahal sudah sepekan lebih topeng gulur digelar,” Surakkab menimpali.
“… dan  hujan tidak turun juga,” sambung Munajid.
Muraksah mengisap rokoknya dalam-dalam. Tidak menyahut dan bahkan tidak mendengar apa yang dibicarakan dua lelaki di depannya. Pikiran Muraksah berputar-putar seperti baling-baling ditiup angin. Wajah Muraksah kusut. Sejak semalam Muraksah berusaha memadamkan kobaran amarah di dadanya. Lelaki itu bingung harus kemana menyingkirkan Marinten, anak perawannya yang tadi malam mengaku hamil tiga bulan, agar hujan lekas datang dan pagelaran topeng gulur tidak sia-sia. Atau, apa yang harus diganjarkan pada keluarga Maksar yang telah menimpuki tinja ke wajah keluarganya? Apa?
Tangan Muraksah mengepal keras.
***
Madura, Akhir Agustus 2014
Catatan:
1)saronen: musik khas Madura
2) gelang gungseng: gelang yang terbuat dari bulir-bulir kuningan sebesar bola pingpong, dan berisi sesuatu di dalam. Jika digerakkan menimbulkan bunyi gemerincing.
3)Topeng gulur: seni ritual yang digelar untuk mensyukuri hasil tani atau memanggil hujan.
4) Poraalla, poraalla: Astagfirullah
 5) istisqa’ : salat memohon turun hujan
***