Rabu, 24 Juni 2015

Cerpen "Topeng Gulur"



Dimuat Majalah Femina, Edisi 20-26 Juni 2015
Topeng Gulur
Cerpen Muna Masyari
Angin sawah berembus rendah. Pancang-pancang obor yang mengeliling serupa nyala lilin dari kejauhan, berbentuk lingkaran. Lidah obor kadang menyorong ke kanan dan ke kiri digiring angin. Asap mengepul kehitaman.
Riuh sorak-sorai terdengar semarak di antara tabuhan gendang, gong, tiupan terompet dan seruling. Langit berhias bintang serupa manik-manik kecil di gaun pengantin.
Tiga penari mengenakan rompi dan berkalung bunga dan bertopeng merah menyala, menari lincah di tengah-tengah lingkaran pancang obor. Penabuh musik mengeliling dalam lingkaran obor. Saronen(1) melengking menusuk telinga. Menembus sunyi malam.
Wajah warga membinar terbias cahaya obor. Tiga penari bertopeng menghentakkan kaki tiga kali. Bersamaan. Gelang gungseng(2) yang melingkari pergelangan kaki si penari bergemerincing nyaring. Gerak mereka lincah mengikuti irama saronen. Menari dengan gerakan-gerakan ritmis; menjongkok, duduk, dan berdiri menghentakkan kaki berkali-kali, lalu bergulur-gulur di tanah. Rambut palsu yang panjang tergerai berkibas-kibas. Kalung bunga di dada mereka bergoyang-goyang. Anak-anak seketika menyembunyikan wajah ke ketiak ibunya begitu wajah topeng sang penari yang bermata mendelik serupa sapi disembelih melongok ke arah mereka, seolah sengaja memelototi. Menakut-nakuti.
Malam kian semarak. Sorak-sorai kian meriuh saat penari bergulur-gulur; sebuah gerakan menyatukan diri dengan bumi sebagai simbol mengagungkan Sang Maha Pemberirejeki, Maha Penurunhujan. Di wajah pengunjung, harapan membuncah akan datangnya hujan sebentar lagi. Tanah berkapur akan senantiasa subur hingga sawah bisa diolah dan tanaman berpanen makmur setelah digelarnya ritual topeng gulur(3).
Oh, turunlah, wahai hujan…
Duduk di antara penabuh musik, Muraksah mengisap batang rokoknya dalam-dalam seraya tak lepas mengamati para penari.
Malam terus merayap. Angin menukik. Nyala obor menjilat-jilatkan lidah ke samping. Para pengunjung tidak ada yang beranjak. Lengking saronen semakin menusuk, merobek sunyi memanggil hujan.
Angin berembus kencang. Nyala obor menyorong sebentar. Kembali tiga penari bergulur-gulur, lalu bangkit dengan gerakan cekat. Menghentakkan kaki ke tanah berkapur sebanyak tiga kali. Gelang gungseng bergemerincing nyaring.
Melihat lincahnya gerakan penari dan antusias warga, Muraksah tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan. Muraksah yakin, tidak akan lama lagi akan turun hujan.
Semula, banyak yang meyakini, kemarau memanggang, bumi terbakar dan hujan enggan bertandang karena ada perawan mengandung.  Bumi terpanggang dari dosa-dosa pelaku zina.
Tahun kemarin, Suminah yang baru  pulang dari Arab Saudi setelah lima tahun menjadi TKW ternyata pulang bersama janin di perutnya. Entah siapa bapak si janin, Suminah menggembok mulut. Bisik-bisik orang pun menyebar; kemarau panjang mencengkeram karena Suminah mengandung anak jadah.
Tahun sebelumnya, Surati, anak tunggal Sujamin yang tuna akal dan tidak bisa bicara tiba-tiba berperut buncit dan payudaranya mengembung besar. Benar saja. Ketika ibunya memeriksakan Surati ke dukun beranak, sang dukun menyatakan bahwa Surati bunting enam bulan. Ibu Surati mengurut dada dengan tangis tertahan, “Poraalla, poraalla (4)”.
Kabar mengenai buntingnya Surati cepat meluas secepat abu kemarau yang diterbangkan angin kencang. Orang-orang merasa prihatin akan nasib Surati. Apalagi, perawan malang berusia 15 tahun itu  tampak bingung saat ditanya paksa oleh orang tuanya; siapa lelaki yang telah meniduri? Dan, tahun itu, kemarau pun membengis hingga banyak tanaman dan ternak mati kekurangan air minum. Orang-orang semakin yakin kalau perawan bunting memperpanjang usia kemarau.
Lalu….
“Anak perawan siapa yang hamil diluar nikah tahun ini?” Tanya Munajid suatu sore, di serambi rumah Muraksah.
“Hujan tidak turun-turun karena kita tidak menggelar topeng gulur! Bukan karena ada perawan hamil!” Muraksah menyanggah keras pertanyaan Munajid yang tengah mengobrol dengan Surakkab meresahkan kemarau yang begitu beringas.
Munajid dan Surakkab menoleh dan tidak menyadari sebelumnya akan kehadiran Muraksah yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. Munajid dan Surakkab segera menyalami tuan rumah penuh takzim.
“Jangan mencari perawan hamil kalau kemarau memanggang bumi. Tapi ingat-ingatlah, sudah berapa lama topeng gulur tidak digelar?” Muraksah bertanya sebelum menanyakan maksud kedatangan dua tamu ke rumahnya.
Munajid dan Surakkab saling tatap. Sudah tiga kemarau topeng gulur tidak pernah digelar. Tepatnya, sejak kedatangan Keh Sakduh, sang kiai muda yang baru berdukuh ke kampung itu. Ritual topeng gulur diganti dengan pelaksanaan salat istisqa’(5) atas anjuran Keh Sakduh. Tentu saja Muraksah berang. Sebagai tetua kampung, Muraksah salalu dijadikan ketua pagelaran topeng gulur. Muraksah memiliki pengaruh kuat di kampung itu. Muraksah juga  menjadi tempat rembuk dan sering dimintai petuah oleh warga. Ketika ada orang hendak mengawinkan anaknya, ia meminta hari baik pada Muraksah. Ketika ada orang hendak membangun rumah, ia meminta petunjuk arah/hadap rumah dan letak pintu dan hari baik untuk meletakkan batu pertama. Namun, sejak kehadiran Keh Sakduh, Muraksah merasa tersisihkan karena orang-orang lebih tunduk pada apa yang dianjurkan Keh Sakduh. Termasuk mengenai topeng gulur yang diganti dengan salat istisqa’. Hanya sebagian orang, termasuk Munajid, yang masih menaruh percaya pada Muraksah.
“Coba perhatikan, adakah perawan yang mengandung anak jadah tahun ini?” Muraksah bertanya lagi dengan mimik serius dan kepala dimajukan. Kedua alis Muraksah terangkat seolah ingin membangunkan kesadaran dua lelaki di depannya.
Surakkab dan Munajid kembali menukar tatap. Muraksah menarik punggung. Abu di ujung batang rokok dijentikkan  ke mulut asbak yang terbuat dari bambu.
“Nyatanya, hujan tidak turun-turun kan?” sudut bibir Muraksah melengkung. Sebelah mata lelaki itu memicing sebentar, melirik Surakkab dan Munajid bergantian.
“Memang tidak ada kayaknya,” sahut Munajid dengan nada ragu.
Seorang perempuan baya datang membawa nampan berisi tiga cangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang masih mengapul. Munajid sedikit kecewa karena bukan Marinten, anak perawan Muraksah yang membawakan kopi.
Marinten paling cantik di antara saudara-saudara perempuannya. Sayang sekali, meskipun sudah cukup umur untuk menikah, Marinten belum menemukan jodohnya karena Muraksah selalu menolak lelaki yang datang melamar. Padahal, teman sabaya Marinten banyak yang sudah punya anak. Terakhir, Muraksah menolak lamaran Arsap, anak Maksar. Siapa yang tak kenal keluarga Maksar? Keluarga kaya yang menjadi pembeli tembakau kala musim.
Arsap dan Maksar marah besar begitu lamarannya ditolak. Mereka merasa terhina. Apalagi sebelumnya mereka yakin lamarannya akan diterima. Desas-desus dari mulut ke mulut, katanya Muraksah menginginkan menantu alim yang bisa menandingi Keh Sakduh.
Kalau sore itu Munajid nekad bertamu ke rumah Muraksah dengan maksud melamar Marinten untuk keponakannya, tak lebih karena ia sudah merasa terjepit didesak tiap waktu oleh keponakannya itu.
“Makanya! Kita harus menggelar topeng gulur! Bukan malah sibuk mencari perawan bunting,” suara Muraksah menghentak keras.
Sore itu, dengan menggebu-gebu Muraksah menanamkan keyakinan di dada kedua tamunya. Untuk sementara Munajid melupakan maksud kedatangannya ke rumah Muraksah. Dengan niat mengambil hati Muraksah, Munajid dan Surakkab pulang mengajak orang-orang agar kembali menggelar topeng gulur. Siapa tahu, dengan cara itu Muraksah akan menerima lamaran Munajid untuk keponakannya nanti.
Karena tidak ada perawan pun yang hamil, sementara kemarau semakin mengeringkan meskipuan salat istisqa’ sudah hampir sebulan dilaksanakan, akhirnya warga banyak yang sepakat topeng gulur kembali digelar.
Maka, pada malam itu, topeng gulur pun digelar dengan meriah, di tengah sawah. Wajah muraksah tampak sumringah menyaksikan tiga penari bertopeng dalam lingkaran pancang obor dan para pengunjung yang mengeliling rapat. Muraksah tidak sadar ada dua pasang mata memerhatikannya dari kejauhan. Bibir kedua orang itu menyungging sinis.
***
Matahari menyengat bengis. Menampar-nampar kulit hingga terasa diusapi cabai. Debu-debu beterbangan menebar hawa panas. Tidak ada mendung mengapung meskipun setipis kabut yang berembus dari ujung rokok Muraksah. Lenguh sapi-sapi dari kandang warga terdengar silih berganti menyepakati teriakan haus yang mencekik leher mereka. Apalagi yang mereka makan tak lebih dari kulit jagung yang dibasahi sedikit. Tentu terasa sepat. Dahan-dahan jati gundul setelah daun-daunnya berguguran.
“Kenapa hujan tidak turun juga?” Tanya Munajid, entah ditujukan pada siapa. Pertanyaan Munajid seolah mewakili pertanyaan orang-orang yang disemburkan padanya tiap kali berpapasan atau kebetulan berjumpa di masjid dan di warung kopi. Embusan angin kencang mengepulkan debu-debu dari taneyan lanjang.
“Iya. Padahal sudah sepekan lebih topeng gulur digelar,” Surakkab menimpali.
“… dan  hujan tidak turun juga,” sambung Munajid.
Muraksah mengisap rokoknya dalam-dalam. Tidak menyahut dan bahkan tidak mendengar apa yang dibicarakan dua lelaki di depannya. Pikiran Muraksah berputar-putar seperti baling-baling ditiup angin. Wajah Muraksah kusut. Sejak semalam Muraksah berusaha memadamkan kobaran amarah di dadanya. Lelaki itu bingung harus kemana menyingkirkan Marinten, anak perawannya yang tadi malam mengaku hamil tiga bulan, agar hujan lekas datang dan pagelaran topeng gulur tidak sia-sia. Atau, apa yang harus diganjarkan pada keluarga Maksar yang telah menimpuki tinja ke wajah keluarganya? Apa?
Tangan Muraksah mengepal keras.
***
Madura, Akhir Agustus 2014
Catatan:
1)saronen: musik khas Madura
2) gelang gungseng: gelang yang terbuat dari bulir-bulir kuningan sebesar bola pingpong, dan berisi sesuatu di dalam. Jika digerakkan menimbulkan bunyi gemerincing.
3)Topeng gulur: seni ritual yang digelar untuk mensyukuri hasil tani atau memanggil hujan.
4) Poraalla, poraalla: Astagfirullah
 5) istisqa’ : salat memohon turun hujan
***


Minggu, 14 Juni 2015

cerpen "Kidung Sandur"



Dimuat Tabloid Nova, 7 juni 2015

Kidung Sandur
Cerpen Muna Masyari

Senga’-senga’ ana potoh,
Tadha’ maleng ekasogi
Mon dhulat bunga sakejjha’
Mon palang etangkel oreng
Ta’ etemmoh babathangngah
Balanah posang asareh....

Grrhhh! Kejhung (kidung) itu lagi! Dua tangan Murakkab mencengkeram kepalanya kuat-kuat, sementara ujung dua jempol disumbatkan ke lubang telinga. Namun, kejhung sandur yang dilantunkan Nyaeh dengan suaranya yang kadang melengking mengikuti nada panjang, lalu tiba-tiba merendah seperti orang menuruni bukit perlahan-lahan dan diakhiri dengan cengkokan seperti jalan tikungan, tetap menusuk, memaksa masuk meskipun Murakkab berusaha menyumbat telinga rapat-rapat. Entah kenapa, akhir-akhir ini Murakkab selalu dihantui kejhungan Nyaeh. Kadang, saat lelap-lelapnya tidur, tiba-tiba Murakkab terbangun karena telinganya merasa dijejali suara Nyaeh yang sedang ngejhung.
Siang itu pun, sedang sibuk-sibuknya merapikan dan manata poster-poster, stiker, dan spanduk bergambar lelaki gagah berjas hitam yang siap dikirim ke anak buahnya, konsentrasi Murakkab malah pecah seperti gelas dibanting ke lantai. Isi kepalanya berhamburan.
Kejhung sandur itu lagi! Dengus Murakkab, meringis. Wajah Murakkab seolah tengah menahan sakit kepala. Lelaki itu berusaha mengusir suara kejhungan yang menusuk telinganya. Kulit wajah Murakkab berkerut-kerut. Matanya memejam rapat.
“Kenapa? Sakit kepala?” Marinten, istri Murakkab bertanya seraya meletakkan secangkir kopi mengepul di dekat tumpukan spanduk yang selesai dilipat.
Murakkab tidak menyahut.
“Mau saya belikan obat?” Marinten menawarkan jasa.
Ujung jempol yang menyumbat telinga dan kejhung sandur yang terus menusuk membuat Murakkab tidak mendengar tawaran Marinten.
Marinten terpaku menatap wajah Murakkab. Karena tak kunjung mendapat respon, akhirnya Marinten kembali ke dapur. Sebentar ia menoleh sebelum menghilang di balik pintu.
***
Bagi Murakkab, Nyaeh memiliki seribu mata yang selalu siaga mengawasi Murakkab setiap saat. Ketika Nyaeh pergi ke pasar membeli pinang-gambir, ia tetap bisa tahu kalau tugas Murakkab memetik daun sirih di belakang rumah digantikan oleh Buk Nipuh. Saat ujian di sekolah, Nyaeh juga tahu bahwa Murakkab suka menyontek pada Salim, teman sebangkunya. Begitu pula ketika uang Nyaeh berkurang, Nyaeh bisa menebak dengan benar kalau Murakkab yang mengambil dan Murakkab pun diganjar pukulan sapu lidi berkali-kali, hingga bekas sapu lidi yang tergambar memar di kulit betisnya tidak hilang sampai tiga hari. Kalau sudah begitu, seharian Murakkab pergi dari rumah. Ia bersembunyi di kolong jembatan, menangkap anak mujair di sana. Murakkab baru pulang setelah Buk Nipuh datang mencari dan membujuknya pulang. Hanya Buk Nipuh yang tahu tempat persembunyian Murakkab saat ia kabur dari rumah.
Menjelang tidur, Nyaeh melantunkan kejhung sandur sambil memilah-milih sirih temu urat.
Senga’-senga’ anak potoh
Tadha’ maleng ekasogi
Mon dhulat bunga sakejjha’
Mon palang etangkel oreng
Ta’ etemmoh babathangngah
Balanah posang asareh....
Dari lirik-lirik kejhungan, lantas Nyaeh menjelaskan betapa pentingnya sebuah kejujuran. Jujur bertutur. Jujur berlalakon, Jujur bersedulur.
Orang yang tidak jujur tidak akan menemukan saudara. Kebahagiaan hanya hinggap sekejap. Kekayaannya tidak akan berkat. Seluruh perkataannya tidak ditanggap.” Demikian Nyaeh menjabarkan syair kejhungan-nya.
Tentu saja Murakkab merasa tersindir karena diam-diam telah mengambil uang Nyaeh, dan ia pura-pura tertidur pulas. Membungkus tubuh  dan kepala dengan sarung besar peninggalan mendiang eppa’-nya. Sebagai bekas penyanyi ketoprak sandur, suara Nyaeh memang merdu. Namun tidak lantas membuat Murakkab menyukai kejhungan-nya.
Hingga Nyaeh meninggal -ketika Murakkab menginjak remaja- perlakuan-perlakuan kasar Nyaeh tetap lekat di kapala Murakkab, dan akar kebencian semakin mencengkeram kuat di dadanya. Hanya sekali –sewaktu penguburan jenazah- Murakkab mengunjungi makam Nyaeh. Selanjutnya, tidak sekalipun ia bersedia diajak Buk Nipuh untuk ziarah setiap Kamis sore.
Pada hari lebaran, Murakkab hanya berziarah ke makam Eppa’-Embu’, tanpa sudi mampir ke makam Nyaeh meskipun letaknya tidak terlalu berjauhan. Namun, entah kenapa, lantunan kejhung Nyaeh beberapa hari ini terus mengusik dan merusak ketenangan Murakkab. Seperti hantu. Tanpa wujud.
“Barangkali perasaanmu saja. Mana mungkin orang yang sudah meninggal masih bisa ngejhung?” Buk Nipuh menatap tak percaya.
“Tidak, Buk! Suara Nyaeh benar-benar nyata! Aku jelas mendengarnya. Bahkan tadi malam aku bermimpi makam Nyaeh ambruk!” sanggah Murakkab dengan rupa galau.
Buk Nipuh tersenyum lembut. Masih seperti biasa. Dulu, setiap kali Murakkab mengadu tentang perlakuan Nyaeh yang dinilai keterlaluan, Buk Nipuh selalu menanggapi dengan selengkung senyum di bibirnya. Mendengarkan baik-baik, dan hanya satu-dua patah kata memberi pemahaman tanpa kesan menggurui. Buk Nipuh memahami betul kalau Murakkab hanya butuh tempat mengadu. Bukan nasihat. Telinga Murakkab sudah sesak dijejali nasihat Nyaeh.
“Padahal spanduk, poster dan stiker itu harus segera sampai ke tangan anak buah. Tapi kepalaku nyut-nyutan karena selalu mendengar suara kejhungan Nyaeh,” Murakkab merutuk-rutuk.
Buk Nipuh mendesah pelan.
“Barangkali Nyaeh rindu padamu. Ziarahlah ke makamnya.”
“Rindu?” bibir Murakkab yang sedikit pucat menyungging sinis.
Selama ini, Murakkab merasa diperlakukan tidak adil oleh Nyaeh. Kalau Buk Nipuh yang berbuat salah -seperti sayur keasinan atau ada batu kecil dalam nasi yang tidak dibuang- Nyaeh menegurnya dengan suara rendah, dan sekadar mengingatkan agar besok tidak terulang lagi. Namun ketika Murakkab salah memilih sirih temu urat, Nyaeh langsung mencak-mencak dengan suaranya yang keras dan ceruk mata melebar. Kadang, ludah merah campur sirih di mulut Nyaeh sampai menyembur.
“Kerjamu tidak pernah becus! Coba perhatikan uratnya! Apa bertaut?” bentak Nyaeh seraya menunjuk urat-urat di selembar daun sirih di tangannya.
Perlakuan-perlakuan semacam itu menjadi akar hitam yang menjalar liar di dinding kepala Murakkab, merambat ke dadanya.
Nyaeh sayang sama kamu. Nanti aku temani kalau kau mau ke pekuburan,”
 Kembali bibir Murakkab menyabit sinis. Getir.
“Siapa tahu kau tidak dihantui kejhungan itu lagi,”
 “Untuk apa aku menziarahinya? Selama ini, hanya Buk Nipuh cucu Nyaeh, sementara aku bukan,”
“Jangan begitu! Kamu tidak tahu sesungguhnya Nyaeh sangat sayang sama kamu. Dia suka sekali memujimu di depanku. Kau masih ingat, ketika kita sama-sama berlajar mengaji padanya, dan kau lebih cepat mengenali huruf-huruf hijaiyah daripada aku, Nyaeh selalu bilang; epakala ale’na! Ketika kau lebih dulu menghapal bacaan salat, dengan bangga Nyaeh bilang, otakmu mewarisi kecerdasan Eppa’, anaknya, sedangkan otakku mewarisi otak Embu’.”
Murakkab menanggapi dengan senyum dingin. Yang Murakkab ingat, dirinya selalu salah di mata Nyaeh.
Suasana beku beberapa saat. Tanpa angin dan desahan napas.
“Kalau Nyaeh masih hidup, beliau pasti tidak senang kau jadi pendukungnya Mudamin,” suara Buk Nipuh hampir tak terdengar.
Murakkab mengangkat wajah. Buk Nipuh membalas tatapannya. Sudut bibir Buk Nipuh tertarik ke samping hingga menimbulkan cekukan dangkal di kedua pipinya. Senyumnya tertelan rasa prihatin.
“Kau tahu sendiri siapa Mudamin kan? Saat menjadi kalebun saja, dana pembangunan desa banyak disunat,” lanjut Buk Nipuh, hati-hati.
“Aku hanya bekerja sebagai tim suksesnya dan mendapat upah, itu saja!”
“Tapi itu namanya mendukung orang yang tidak laik dijadikan pemimpin. Bagaimana kalau nanti ia terpilih?” Buk Nipuh bertanya lirih.
Murakkab membisu.
“Kau tahu berapa dana pembangunan jembatan desa yang disunat kemarin? Katanya, lebih dari 50%! Akibatnya, kau lihat sendiri. Jembatan itu ditafsir akan segera ambruk tak lebih dari usia dua tahun!”
“Itu bukan urusanku. Tugasku hanya merampungkan pekerjaan. Itu saja!” elak Murakkab.
“Tapi kau mendukung orang yang nyata-nyata tidak benar. Barangkali itu yang membuatmu dihantui kejhungan Nyaeh,” suara Buk Nipuh sedikit mendaki.
“Ah!” Murakkab melengos tak percaya.
***
Bayang sebatang pohon nyiur melintang di atas jembatan. Langkah  Murakkab terhenti di ujung jembatan yang baru setahun lalu selesai dibangun. Ketika Mudamin masih menjadi kalebun.
Dulu, jembatan yang melintang di atas  sungai curam itu hanya terbuat dari batang-batang bambu berpenyangga kayu. Ketika sungai tidak mampu menampung banjir saat musim hujan dan mengambrukkan jembatan, segenap warga bergotong-royong memerbaikinya kembali.
Di kolong jembatan, batu-batu besar mencuat dan air mengalir jernih di sela-selanya. Di kolong jembatan itulah dulu Murakkab kerap bersembunyi setelah dipukuli Nyaeh. Tidak peduli anggapan orang bahwa di sana banyak dihuni setan.
Sekarang, jembatan bambu sudah diganti jembatan jor dengan dana bantuan pemerintah. Pohon-pohon tarebung yang tumbuh di tepi sungai ditebang hingga jembatan tidak terkesan menyeramkan.
Kembali terngiang ucapan Buk Nipuh tadi siang. Namun Murakkab segera menepisnya. Yang penting, upah dari Mudamin dan janji-janji yang dihamburkan kalau terpilih sebagai anggota legislatif tunai diterimanya. Persetan uang itu didapatkan dari mana oleh Mudamin.
Murakkab melanjutkan perjalanan, menyeberangi jembatan. Satu plastik keresek berisi stiker, spanduk dan poster-poster ditentengnya.
Matahari menukik, nyaris tenggelam dalam awan batu yang mengelabu pekat di ufuk barat.
***
Sudah satu jam langit menumpahkan hujan. Dari balik jendela, Murakkab menyaksikan kabut menebal di kejauhan. Pelepah nyiur kering jatuh terhempas angin, membujur di seruas jalan di seberang halaman.
Kilat berkelebat cepat. Petir menyentak. Angin menghempas. Buru-buru Murakkab mundur dari bingkai jendela karena kabut gerimis menyerang ke arahnya. Petir bagi Murakkab seperti suara bentakan Nyaeh, bukan serupa murkanya banakeron seperti yang sering dikatakan seorang ibu pada anaknya yang merengek ingin  hujan-hujanan.
“Kab, gawat, Kab!”
Murakkab mendengar teriakan bernada cemas di luar. Murakkab membuka pintu. Di depan rumah, Mudamin berdiri dengan wajah cemas dan tubuh basah kuyup.
“Ada apa, Pak?”
“Air sungai meluap, Kab! Jembatannya ambruk! Orang-orang justru mengamuk rumahku. Melempari rumahku dengan batu. Izinkan aku berlindung di rumahmu,” bibir Mudamin menggigil. Membiru.
Murakkab dan Marinten saling pandang dengan tatapan bingung, tidak bisa melarang saat Mudamin menerobos masuk. Belum sempat Murakkab menutup pintu, terdengar teriakan-teriakan lantang di antara deru hujan.
“Orang-orang itu mengejar kemari!” suara Marinten bergetar cemas.
“Keluar kau, Min! Aku tahu kau bersembunyi di dalam!” terikan-teriakan orang yang sudah memadati halaman meluapkan kemarahan. Masing-masing menggenggam batu besar di kedua tangan.
Murakkab tercekat di ambang pintu. Tangan Marinten gigil merengkuh lengan Murakkab. Murakkab teringat makam Nyaeh yang ambruk dalam mimpinya saat batu-batu besar mulai dilemparkan ke rumahnya.
***
Madura, Juni 2013