Minggu, 26 Maret 2017

Cerpen "Pelukis Pasir Jumiyang"



Dimuat Riau Pos 26 Maret 2017

Pelukis Pasir Jumiyang
Cerpen Muna Masyari

Seharusnya  Anda tahu, seseorang yang meyakini mitos kadang sama yakinnya akan keberadaan Tuhan!
***
“Pantai terkutuk!”
Dengan umpatan penuh nada tekanan perempuan itu menggores-goreskan ranting kering di tangannya. Gerakannya semrawut hingga dua goresan berbentuk lingkaran sebesar kepala bayi di permukaan pasir putih itu tertindih garis-garis lidi yang malang-melintang berserabutan.
Langit merah bersulam awan putih -serupa sisik ikan- di langit barat. Matahari seperti bola raksasa terpanggang; merah membara, dan menukik perlahan. Debur ombak berebutan mengecup tepian pantai, menyisakan buih-buih dan sampah yang semula terombang-ambing riang di permukaan laut. Burung-burung kecil berseliweran di angkasa serupa orang panik tengah melerai petaka.
Perempuan itu terus saja meggoreskan ranting keringnya ke pasir. Setiap goresan seolah mengandung curamnya kebencian, penyesalan atau entah. Dari mulutnya berloncatan umpatan-umpatan geram; “pantai terkutuk!”
Embusam angin memain-mainkan rambutnya yang dibiarkan tergerai sepunggung.
***
Senja membias kemerahan di langit barat. Angin berembus basah. Anda tahu? Sebelum Anda datang, saya memang sering melihat perempuan itu ada di sana, duduk menekuk punggung di atas pasir . Seperti kemarin. Kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Ah, entah sudah berapa lama ia rajin ke pantai Jumiyang ini.
Bagi kami, ia perempuan aneh yang datang dari entah. Tidak ada yang mengenalinya di sini. Barangkali berasal dari desa tetangga dekat atau dari sebuah tempat nan jauh di sana. Saya dan warga di sini sama sekali tidak berani menanyakannya. Tidak berani mengusiknya. Kami hanya menganggapnya sebagai perempuan aneh.
Sejak tiga pekan lalu, lima pekan  lalu, atau dua bulan lalu –saya tidak ingat dengan pasti- setiap senja menapak saya melihatnya di sana dengan ranting kering di tangannya; khusuk melukis pasir. Baju yang dikenakan tidak pernah berganti; baju merah bermotif bunga-bunga. Rambutnya dibiarkan tergerai dan diacak-acak angin. Ia baru beranjak pulang setelah azan magrib berkumandang di kejauhan. Pernah, setelah berpaling pulang, diam-diam saya mendatangi bekas tempatnya. Di sana, samar-samar terlihat dua goresan berbentuk lingkaran yang tertindih garis-garis lidi berserabutan.
Beragam dugaan tercetus di antara kami, sesama petani rumput laut.
“Mungkin anaknya meninggal akibat tenggelam saat berwisata ke pantai ini,”
“Barangkali ia perempuan tidak waras yang kesasar. Lihat rambutnya yang dibiarkan begitu saja! Persis orang gila!”
“Kukira ia perawan tua yang stres menunggu kekasihnya pulang dari tanah rantau!” sela Muraksah seraya melirik perempuan yang sedang khusyuk mencorat-coret pasir dengan ranting, agak jauh dari tempat kami mengikat rumput laut.
Tentu Anda tahu, perempuan mana yang tidak risau menyandang status perawan tua?
“Kenapa tidak menikah dengan lelaki lain saja kalau memang demikian?” timpal saya.
“Mana aku tahu,” Muraksah mengangkat bahu, mementahkan praduganya sendiri. Sementara tangannya mengikat rumput-rumput laut dengan cermat dan cekatan.
Diam-diam saya melirik Marsiyem. “dengan saya misalnya,” batin saya, tertawa geli. Tentu saja tidak saya suarakan. Alamat kiamat kalau sampai terdengar di telinga Marsiyem!
Hampir dua puluh tahun usia pernikahan saya dengan Marsiyem tanpa dikaruniai anak membuat Marsiyem mudah tersinggung. Jika mendengar ada lelaki beristri dua, mulut Marsiyem langsung nyinyir seperti kambing berperut kempis.
Tahukah Anda, seberapa risau jika seorang istri tidak kunjung memiliki keturunan? Sepertinya sekian kali lebih berlipat dari kerisauan seorang suami. Boleh jadi kerisauannya melebihi ketakutan pada kematian.
“Barangkali ia ingin melukis wajah dirinya dan lelaki itu di sana,” tebak saya.
“Mungkin juga! Sepertinya ia cukup cantik, hehehe,” setengah berbisik.kepala Muraksah dimiringkan ke saya.
“Kenapa selalu perempuan itu yang dibicarakan? Tidak ada yang lain?” cetus Marsiyem. Nadanya seketus saat mendengar harga rumput laut turun tajam. Rupanya Marsiyem sempat mendengar bisikan Muraksah.
Saya dan Muraksah saling lirik, lalu sama-sama menyembunyikan senyum geli di balik kumis.
***
Pantas. Sudah tiga senja saya tidak melihat perempuan itu. Seperti ada sesuatu yang kurang di pantai ini. Entah sejak kapan ia menjadi bagian dari pantai Jumiyang ini hingga ketiadaannya terasa memberi kekosongan. Barangkali karena kehadirannya kerap menjadi menu perbincangan di antara kami; sesama petani rumput laut yang sedang mengikat hasil-hasil tani di sebuah bangunan renta tak bersekat.
Terakhir saya mendatangi tempatnya –setelah ia pulang-, tergambar dua lingkaran di atas pasir tanpa garis-garis semrawut seperti biasanya. Di antara dua lingkaran itu hanya dibatasi satu garis vertikal, seperti lukisan dua mata besar dan segaris batang hidung.
Sejak itu, kami tidak pernah melihatnya lagi. Ia tidak pernah mengunjungi pantai ini. Entah ke mana.
Matahari tinggal sepotong dengan warna merah terbakar. Deru ombak  membentur karang. Punggung-punggung sudah menjauh meninggalkan pantai. Meninggalkan saya bersama bayangan diri yang kian buram.
Saya berdiri menghadap laut. Laut Jumiyang yang baru saja mencumbu petaka. Pandangan saya menebar ke sepanjang pantai, lalu terpaku di tempat perempuan itu biasa duduk menekuk punggung dengan ranting di tangannya; melukis pasir. Tempat itu kosong.
Pelan saya langkahkan kaki menuju ke sana. Azan magrib mulai berkumandang di kejauhan. Samar-samar.
Langkah saya terhenti. Lukisan dua lingkaran dan sebuah garis vertikal telah hilang disapu ombak. Pelan saya menjongkok, mengambil segenggam pasir basah. Menatapnya lama. Terngiang kutukan perempuan itu di telinga saya; pantai terkutuk!
Ah, perempuan aneh…. Saya mendesah. Angin mengempas wajah saya dengan kasar.
 “Maaf,”
Saya tersentak dan buru-buru membalikkan badan. Segenggam pasir lepas berhamburan dari genggaman saya. Seorang lelaki tanpa saya kenal telah berdiri tak jauh di belakang saya. Remang petang menyamarkan rupa wajahnya. Rambutnya dimain-mainkan angin yang berembus kencang. Anda. Ya, itulah Anda.
Mata saya memicing menilik wajah Anda lebih jelas. Memang tidak saya kenal sebelumnya.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?” tawar saya sedikit gugup.
“Saya sedang mencari seorang perempuan. Saya dengar ia sering kemari. Barangkali bapak pernah melihatnya?” ada cemas dari nada suara Anda.
“Perempuan? Berapa usianya?” alis saya bertaut, menajamkan mata, ingin mengenali wajah Anda lebih jelas.
“Sekitar 33 tahun, sering berbaju merah bunga-bunga dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja,”
“Oh!” seru saya seperti orang yang sebentar lagi akan berhasil memecahkan teka-teki misteri. Lalu tiba-tiba saya tercekat mengingat perempuan itu. Serasa tercekik.
“Iya, saya pernah melihatnya,” suara saya begitu lirih. Sangat lirih dan hampir tidak terdengar oleh telinga saya sendiri.
“Bapak pernah melihatnya?” langkah Anda maju setindak dengan wajah disorongkan ke hadapan saya.
Saya tak segera menjawab.
“Saya dengar ia memang sering kemari,” lanjut Anda, terkesan tidak sabar menunggu jawaban saya.
Saya menggangguk-angguk membenarkan. Lalu mengatur napas perlahan seperti hambusan asap tungku yang nyaris mati. Kemudian, saya ceritakan kehadiran perempuan pada setiap senja itu di pantai ini. Saya ceritakan pula praduga di antara kami tentangnya.
“Apakah tadi ia juga kemari lagi?” ada getar-getar harapan di nada suara Anda.
Saya mengggeleng lemah. Anda mendesah panjang, lalu memutar tubuh menghadap laut, membuang pandangan ke permukaan laut.
Riak ombak meriap-riap, berkilau-kilau.
“Dia istri saya,” pandangan Anda dialihkan ke wajah saya sejenak. Suara yang nyaris ditelan bacaan salawat dari kejauhan setelah kumandang azan.
“Istri?” ulang saya, meragukan pendengaran.
“Ya. Hampir lima belas tahun kami menikah tanpa dikaruniai anak. Kehidupan rumah tangga kami seperti masakan hambar belakangan ini,” berhenti sejenak.
Saya diam menyimak.
 “Suatu hari, saya mengajaknya kemari karena dari dulu dia suka sekali pada pantai. Niat saya hanya untuk menyegarkan pikirannya,”
Saya mengangguk-angguk, membiarkan Anda terus bercerita.
“Tapi sejak itu justru pertengkaran mulai mewarnai rumah tangga kami. Ia menuduh saya sengaja mengajaknya kemari sebagai perantara perceraian?”
“Perceraian?” kening saya mengerut.
“Iya!” jawaban Anda disertai anggukan tegas, kembali menatap saya. “Dia sangat yakin kalau hubungan sepasang kekasih atau suami-istri yang berkunjung ke pantai Jumiyang ini akan mengalami perceraian pada akhirnya.”
“Oh, rupanya ia percaya hal itu,”
Mitos yang masih banyak orang meyakininya. Masih lekat dan melekati pantai ini.
“Iya. Setiap hari ia permasalahkan itu karena saya mengajaknya kemari! Ia yakin, sewaktu-waktu saya akan menceraikannya. Padahal niat saya tidak seperti itu!”
Desah napas Anda seperti mengandung gumpalan beban yang menyesakkan.
Saya seperti layang-layang putus yang tampak bingung harus menukik di mana. Bagaiman saya akan memulai bercerita tentang perempuan senja itu?
Anda tahu? Sebelum kedatangan Anda kemari, warga dikejutkan oleh penemuan mayat yang terdampar di pantai ini. Sesosok mayat perempuan yang sudah membengkak dan menguar aroma bangkai. Beberapa bagian tubuhnya lebam-lebam dan lecet-lecet penuh luka. Tidak ada selembar benang pun melekat di tubuhnya. Dugaan kami sementara, kemungkinan ia melarungkan diri ke laut.
Semula kami bingung, mau diapakan mayat itu? Namun Muraksah akhirnya mengusulkan supaya dibawa ke rumah Ketua RT. Baru saja warga ramai-ramai membawanya ke sana. Hanya sekian menit sebelum kedatangan Anda.
Ia, si perempuan senja, telah menceraikan dirinya dari Anda, dari hidup, dari dunia ini. Mitos tentang pantai Jumiyang ini ternyata begitu lekat menempel di dinding kepalanya.
Apakah Anda juga percaya pada mitos itu? Kalau saya, tentu saja tidak! Buktinya, hampir tiap hari saya kemari bersama istri, nyatanya perkawinan kami aman-aman saja meski tanpa anak. Memang, justru kepercayaan yang sering menyeret seseorang pada suatu kenyataan!
***

Madura, Maret 2014

Selasa, 20 Desember 2016

Cerpen "Celurit Warisan"



Dimuat kompas, 11 Desember 2016
Celurit Warisan
Cerpen Muna Masyari

Keesokan malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kaukosongkan. Celurit yang tidak terlalu melengkung dan matanya tidak mengilap -Justru agak coklat seperti berkarat- itu seolah tidak sabar menanti malam eksekusi.
“Celurit ini tidak akan melukai orang yang tidak bersalah.” Jelasmu suatu malam, sepulang dari balai desa. Suaramu tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Kau membasuh celurit berlumur darah dengan air rendaman kertas bertuliskan huruf-huruf hijaiyah yang tidak sempat kubaca isinya.
Kuamati jemari ringkihmu ketika mengusap mata celurit tanpa takut terluka. Bayangan sebuah tangan lepas dari batang lengannya masih menyisakan getaran pada sendi lututku. Hanya sekali tebas tangan itu terdampar ke tanah. Erangan keras penuh kesakitan mengoyak sunyi malam di antara kebungkaman warga yang rapat memagar menyaksikan eksekusi untuk lelaki yang diketahui jadi maling sapi. Ia berhasil ditangkap semalam sebelumnya di perbatasan desa saat tengah menggiring paksa sapi hasil curian milik salah seorang warga desa kita.
Selesai dibasuh, kau mengelap celurit dengan kain putih, lalu membawanya ke dalam dan menggantungnya kembali di tempat biasa.
“Dengan celurit itu, keamanan desa kita cukup aman sejak dulu. Hanya orang luar yang berani macam-macam! Itu pun tidak berlangsung lama!” lanjutmu, melangkah meninggalkan kamar.
“Kenapa tidak diserahkan pada polisi saja?” kuikuti langkahmu dengan pertanyaan bernada protes.
Kau terkekeh sebentar. “Di luar sana, uang bisa membeli apa saja. Itu sebab, mengapa leluhur kita lebih mematuhi hukum yang diajari kiainya!” dengan tenang kau duduk di kursi rotan, lalu mengeluarkan selembar kulit klobot dan sejumput tembakau dari plastik kresek hitam di atas meja. Secangkir kopi tinggal ampasnya, dikerubungi semut.
Benar. Turun-temurun keluarga kita dipercaya jadi kalebun (kepala desa), hukum pun kita yang menyetirnya.
***
Dua malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kaukosongkan.
Kupejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Aroma tubuhmu serasa membaui penciumanku. Bau keringat, minyak tanah bercampur bau tembakau yang tajam dan pekat tidak pernah hilang dari kamar ini.
Kubuka mata seraya melepas napas dengan berat. Perlahan tanganku merayapi dinding, meraih gagang celurit dan meloloskan tali gantungnya dari paku.
“Celurit ini  pemberian seorang kiai sebagai tanda jasa atas pengabdian leluhur kita pada beliau,” suaramu terngiang di telingaku.
Meraba gagang celurit ini aku seperti meraba batang lenganmu yang ringkih penuh tonjolan urat namun tetap tampak kuat. Katamu, celurit ini diyakini memiliki jiwa. Matanya akan tumpul menghadapi jiwa-raga yang suci. Begitupun sebaliknya. Belum pernah ada pendosa yang selamat dari ketajamannya.
“Sukma leluhur kita menyusup ke dalamnya setelah dia meninggal,” jelasmu, seolah bisa membaca keraguan dalam benakku saat pertama kali mendengarnya.
Setiap malam jumat manis menjelang maghrib, kau tak lupa me-nyonson-nya di atas kepulan asap dupa, tepat di ambang pintu, dengan mulut komat-kamit. Menjelang wafat pun kau berwasiat agar aku selalu menjaga dan merawat celurit warisan ini, sekaligus menjaga keamanan desa kita.
Sampai kini wasiatmu masih kulaksanakan. Akan tetapi, apakah kautahu peristiwa dua malam lalu?
“Bunuh!”
“Iya, bunuh! Dia harus dibunuh!”
“Nyawa balas nyawa!”
“Dulu Kalebun Towah (kepala desa lama) juga pernah menjatuhkan hukuman serupa! Hukuman mati bagi pembunuh!”
Malam itu lampu padam. Langit muram. Bintang dan sesabit bulan berkelindan di balik awan. Hujan terganjal sejak senja tadi. Angin berembus rendah. Hanya lampu gantung di teras yang sedikit menerangi halaman balai desa.
Aku berdiri di undakan balai desa, menatap warga yang berjejalan di halaman penuh teriakan, tuntutan. Tepat di hadapanku, cucumu membisu, tertunduk layu. Sebelah lengan bajunya robek tak karuan. Ada bercak darah di sudut bibir dan pipinya lebam-lebam. Celurit penuh darah menggantung sungsang di tangannya, hampir menyentuh tanah.
“Celurit ini  pemberian seorang kiai sebagai tanda jasa atas pengabdian leluhur kita pada beliau. Celurit ini tidak akan melukai orang yang tidak bersalah!” suaramu menyusup samar ke liang telingaku.
Di sebelahku, menantumu berdiri bisu. Bahunya berguncang halus. Entah sudah berapa kali ia mengusap mata dan lubang hidungnya dengan ujung baju. Sedu tangisnya tertindih riuh teriakan warga yang saling sahut.
“Kami harap Kalebun bertindak adil meskipun kali ini adalah anggota keluarga sendiri!”
“Benar! Hukum tidak boleh pandang kerabat!”
“Setuju! Ini penganiayaan karena lelaki itu tidak bersenjata!”
“Betul! Walaupun korbannya bukan warga desa kita, lelaki itu berhak mendapatkan keadilan!”
Suara-suara lantang saling timpal. Laki-perempuan.
Kulangkahkan kaki menuruni dua undakan balai. Di hadapan cucumu yang masih menunduk dalam, aku bertanya, “Apa benar kau yang membunuhnya?”
“Iya!” cucumu mengangguk sekali. Suaranya lirih.
“Kenapa? Apa kesalahan lelaki itu?”
“Dia menggoda Murtipah.”
Murtipah? kuulang nama itu dalam hati. Aku ingat. Dua malam sebelumnya, cucumu memang minta ijin untuk meminang anak perawan itu. Cucumu menyukainya.
“Menggoda?” mataku memicing.
“Tidak hanya itu. Tadi Murtipah pulang sendirian, karena teman-temannya menonton tanggapan saronen. Aku sengaja mengikuti Murtipah diam-diam, karena sebelumnya aku dengar lelaki itu memang selalu menggangu Murtipah dan teman-temannya sepulang dari langgar. Ternyata benar. Lelaki itu mencegat Murtipah di tikungan jalan. Tidak sekadar menggoda, ia juga menyeret Murtipah ke balik rimbun pohon singkong milik Nom Sakrah!”
“Lalu?”
“Kami terlibat perkelahian. Kami sama-sama tidak bersenjata. Tapi dia menantang, menyuruhku mengambil celurit warisan ini, karena ia tidak percaya celurit ini mampu melukainya, karena dirinya sudah memiliki ilmu kebal.”
Celurit itu memang dikenal tidak hanya di desa kita. “Kau membawa celurit itu tanpa seijinku!”
“Bukankah Eppa’ sedang menghadiri undangan di rumah pengantin yang menanggap saronen?”
Dadaku serasa dipenuhi gumpalan asap tebal. Kulit wajahku seperti diusapi ulekan cabai. Sebagai kalebun, keadilan seperti apa yang harus kutegakkan? Seandainya cucumu tidak menyukai perawan itu, barangkali aku bisa memutuskan lain.
“Bagaimana ini, Pak Kalebun?”
“Kalian sudah mendengar duduk persoalannya. Anakku telah main hakim sendiri.  Itu tidak dibenarkan!”
“Lantas keadilan apa yang akan Pak Kalebun berikan?” Murakkab, lelaki yang tadi menggiring cucumu ke halaman balai desa seperti kambing hendak dikembalakan bertanya lantang dengan muka sinis. Ada bara dendam di matanya. Barangkali karena kau pernah mengeksekusi saudaranya yang tinggal di kampung sebelah, setelah kepergok jadi maling sapi di desa ini.
“Kalian sudah tahu, jadi tidak perlu dipertanyakan lagi! Malam jum’at nanti, datanglah kemari kalau ingin menyaksikan eksekusinya!” keputusanku membuat hadirin terbungkam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah mereka masing-masing. Hanya wajah Murakkab yang tampak tersenyum puas karena ia berdiri di baris depan dengan kaki mengangkang.
Apakah keputusanku ini benar? Kuurut dada dengan mata terpejam setelah warga beranjak pulang dan mayat digotong untuk diantarkan ke sanak keluarganya.
Senjata akan makan tuan. Cucumu akan menghadapi eksekusi hukum mati besok malam, dengan celurit ini. Celurit yang leluhur kita wariskan.
***
Aku terduduk lemas ke kursi. Sedu tangis terdengar tak henti dari kamar tidurku, beradu dengan  denyit gesekan pohon bambu di belakang rumah. Sejak malam peristiwa itu, menantumu tidak memiliki pekerjaan lain kecuali menguras air mata. Ia membisu setelah sempat berdebat sengit pada malam peristiwa, sepulang dari balai. Ia beranggapan keputusanku salah. Tapi cucumu menyukai perawan itu. Ia bisa saja membunuh karena terbakar api cemburu. Apakah menurutmu keputusanku keliru?
Di atas meja di depanku, ada lipatan kain kafan, buntelan kapas, daun pandan yang sudah dikerat-kerat sepanjang lima sentimenter dan diuntai dengan benang sepanjang satu meter, serbuk dupa dan parutan cendana berwadah mangkok.
Selepas saat isya, eksekusi akan dilakukan di halaman balai desa.
***
Tubuhku tersandar lemas ke dinding dengan pandangan tak berkedip. Ke mana celurit itu? Celurit itu raib. Padahal baru tadi menjelang magrib aku me-nyonson-nya. Begitu selesai, celurit itu kuletakkan kembali ke tempatnya, dan kamar ini kukunci seperti biasa. Tidak mungkin ada orang menyusup masuk. Jendela pun masih tertutup rapat.
Tubuhku melorot kulai ke lantai seperti karung kosong. Tidak! Tidak mungkin. Apakah warisan itu lenyap dengan sendirinya?
Tidak ada yang tersisa. Di mata orang-orang aku sudah seperti pecundang yang lari dari medan perang. Jabatan kalebun pun tak berhak kupertahankan. Aku kalah. Mungkin seharusnya aku tidak menyuruh cucumu lari demi menghindari eksekusi yang telah kujatuhkan sendiri. Sekarang, raibnya celurit itu serasa melengkapi kekalahanku.
Maukah kau menemani kesendirianku? Tapi kenapa aroma tubuhmu di kamar ini juga lenyap?
***
Madura, Februari 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

cerpen "Tambang Sapi Karapan"



“Dimuat basabasi.co, 17 juni 2016

Tambang Sapi Karapan
Cerpen Muna Masyari

Bulan melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan memecah senyap malam melalui tiga spiker yang dicorongkan ke tiga penjuru arah, di halaman rumah.
Dagu Marsiyeh terangkat, Di depannya, dua pohon nyiur berjajar sejarak kira-kira tiga meter. Berdiri kaku, Marsiyeh memilin-milin tambang dengan kekalutan yang membuat dadanya turun naik. Temaram malam menyamarkan polesan kosmetik tebal di wajah perempuan muda itu. Sesekali mata Marsiyeh menatap pintalan tambang. Detik kemudian dagu Marsiyeh kembali terangkat dan pandangannya menggantung pada sebatang bambu yang diikat melintang pada dua pohon nyiur, kira-kira setinggi dua meter. Pada batang bambu itulah Suraksah, Eppak Marsiyeh, biasa mengikat sapi karapannya dengan tambang biru gelap berukuran lebih gemuk dari tambang timba sumur, yang sekarang Marsiyeh pegang.
Tadi, Marsiyeh turun dari kursi pengantin, meninggalkan panggung ludruk dengan langkah-langkah kecil gara-gara sampir ber-leres coklat-kuning emas menyulitkan gerak kakinya. Sekian pasang mata penonton tidak dihiraukan. Marsiyeh beralasan hendak buang air kecil ke belakang ketika perias pengantin mencegat langkahnya, dan Marsiyeh menolak keras diantar oleh siapapun, termasuk perias pengantin yang memaksa diri.
Marsiyeh memang ke kamar mandi. Hanya sebentar. Tidak melakukan apa-apa. Kamar mandi terletak di belakang rumah dengan bangunan terpisah dari induk rumah dan hanya diterangi lampu  lima watt. Di sebelah kamar mandi ada sumur tua, lalu kandang sapi, dan di sebelahnya lagi dua pohon nyiur berjajar, menjulang angkuh.
Di bawah pohon nyiur itulah Marsiyeh berdiri kaku menatap tambang di tangan. Tambang yang semakin menjerat ingatan Marsiyeh pada Mukassar saat memacu sapi di gelanggang karapan. Lelaki yang menjadi joki sapi karapan milik Suraksah itu memang tampak gagah dengan tubuh dibalut kaos belang hitam-putih, celana komprang hitam, dan odheng­ membelit kepalanya.
Sorak kagum bergemuruh saat Mukassar dan sepasang sapi yang dipacunya berhasil mengungguli lawan dengan selisih waktu hanya sepersekian detik. Dengan tawa bangga dan mata membinar Suraksah langsung mengepalkan tinju ke udara, bersorak bangga. Bagi Suraksah, menjawarai sayembara karapan sapi berarti semakin mengukuhkan martabat keluarganya di mata masyarakat.
Begitu kembali dari gelanggang karapan, dengan senyum bangga Suraksah memuji Mukassar yang begitu tangkas menjadi joki. Nama Mukassar pun terletup dari mulut orang-orang kampung. Apalagi saat Suraksah menggelar selamatan atas kemenangan sapinya dengan mengundang para tetangga. Para ibu dan perawan tidak sedikit yang merasa iri pada Marsiyeh, sebagai tunangan Mukassar.
hff! Marsiyeh mendesah. Benarkah ia seberuntung itu? Bayangan Mukassar berganti dengan bayangan wajah embuk yang bermata cekung dan suram. Kegagahan Mukassar di gelanggang karapan mengingatkan Marsiyeh pada sikap embuk yang selalu tampak gugup di depan eppak, dan suaranya yang selalu bergetar setiap mendapat pertanyaan keras dari eppak.
“Aku tidak ingin seperti Embuk,” desah Marsiyeh, lirih. Diamatinya tambang di tangan. Tambang yang seolah membelit kebebasan Marsiyeh sejak kecil. Terlalu banyak peraturan yang harus ia penuhi sebagai anak perempuan yang sudah ditunangkan sejak masih dalam kandungan. Tidak boleh menonton pertunjukan kecuali ditemani embuk. Tidak boleh berdandan kecuali hendak mengunjungi rumah calon mertua. Tidak boleh mengobrol dengan lelaki manapun, di jalan, di sungai, atau tempat umum, meskipun teman sekolahnya sendiri. Dan sekian peraturan yang mengikat erat di sepanjang hidup Marsiyeh selama ini. Semua demi menjunjung martabat keluarga di mata calon mertua dan masyarakat!
Begitu rumitnya jadi perempuan terikat, rutuk Marsiyeh, merasa diikat dengan tambang sapi karapan! Ia sadar, pertunangannya dilakukan di atas kepentingan harkat dan martabat Eppak-nya.
Marsiyeh menggeram dalam hati. Dagunya kembali terangkat. Bulan yang melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur tertutup awan tipis. Kelepak kelelawar menggoyangkan rerimbun daun sirsak di belakang kandang. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan melengking panjang. Di kursi pengantin, Mukassar pasti tengah senyum-senyum bahagia, pikir Marsiyeh. Marsiyeh mencengkeram tambang kian erat dengan gigi bergeretak.
Kelak, ketika usia Suraksah seperti matahari redup menjelang magrib, tambang itu pula yang kian membelit kesepian dalam kesendiriannya. Tanpa anak dan istri. Tambang biru gelap itu seperti jari-jari gurita yang membelit leher dan sekujur tubuh dengan kenangan-kenangan yang tak pernah putus, hingga membuat Suraksah sesak bernapas.
Suraksah akan teringat dengan jelas, sebulan sebelum malam pernikahan anaknya yang dimeriahi pertunjukan ludruk, Suraksah sempat berdebat sengit dengan Marsiyeh.
Sepulang dari langgar, tanpa sengaja Marsiyeh mendengar tanggal pernikahannya dengan Mukassar yang sudah ditentukan. Tanggal 15 bulan Syawal. Pernikahan akan digelar besar-besaran karena satu sapi karapan yang berhasil menjawari gubeng(1) kemarin milik Suraksah sudah ditawar 125 juta.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” dengan tangan mendekap gulungan mukena di dada Marsiyeh menyela pembicaraan Suraksah dengan Nom Sukrah
“Kau bicara apa?” Suraksah mendelik.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” ulang Marsiyeh, membalas tatapan Suraksah tanpa gentar.
“Tidak tahu diuntung! Seharusnya kau bangga memiliki suami seorang joki hebat!”
“Lebih baik menikah dengan pemuda petani biasa daripada dengan seorang joki!”
“Kurang ajar! Pada siapa kau belajar membantah? Embuk-mu tidak seperti dirimu!”
“Embuk memang selalu tunduk pada Eppak. Tidak pernah berani membantah! Selalu menuruti keinginan Eppak! Tapi Eppak Tidak pernah menghargainya! Maka itu, aku tidak ingin bernasib sama!”
Suraksah tertohok keras. Matanya kian menyala. Tulang rahangnya mengeras. Harga dirinya merasa diinjak-injak oleh putrinya sendiri. Padahal dulu, ia sama seperti Mukassar. Mertuanya merasa bangga memiliki menantu seorang joki sehebat dirinya yang berhasil menjawarai beberapa kali karapan sapi.
“Meskipun Embuk sudah terbaring sakit, Eppak tetap tidak peduli!”
“Tutup mulutmu!” bentak Suraksah, keras.
“Menjelang kematiannya pun Eppak masih lebih mementingkan sapi karapan daripada Embuk!” sambung Marsiyeh.
“Diam!”
“Bahkan Eppak tidak sempat ikut mengubur jenazahnya!”
Betapa pun geramnya Suraksah, kata-kata Marsiyeh menggiring paksa ingatan Suraksah pada peristiwa dua tahun sebelumnya. Saat itu, istrinya tergolek tak berdaya dengan kulit melepuh sekujur tubuh dan menghitam seperti bekas luka bakar. Sengal napasnya tinggal senin-kamis. Dugaan dukun yang didatangkan, katanya perempuan itu kena teluh.
“Teluhnya salah sasaran saja! Sebenarnya ditujukan pada sapi karapanmu. Pihak lawan menginginkan sapimu kalah di karapan nanti” ujar dukun waktu itu.
Setelah berhari-hari istrinya terbaring lemah tanpa sejumput nasi pun mampu ditelan, suatu pagi, istrinya dalam keadaan sekarat, dan hanya ditunggui oleh Marsiyeh. Namun Suraksah dan Mukassar tetap berangkat ke gubeng dengan sepasang sapi karapan yang sudah siap disayembarakan.
Suraksah berhasil pulang mendulang kemenangan. Namun begitu tiba di rumah, jenazah istrinya baru saja dikuburkan. Para pelayat masih banyak yang belum pulang. Sejak itu, Marsiyeh semakin membatukan hati, menolak pertunangannya dengan Mukassar.
 “Aku tetap tidak mau menikah dengannya!” nada suara Marsiyeh menekan, jelas menegaskan penolakan.
“Kau jangan macam-macam! Sekarang masuk ke kamar!” bangkit, Suraksah menuding pintu kamar. Menguap sudah kesabaran Suraksah.
Kalau saja Marsiyeh tidak segera berlari ke kamar, tamparan pedas tentu sudah mendarat di pipinya.
“Anjing!” umpat Suraksah, gusar.
Menggagalkan rencana pernikahan bagi Suraksah sama artinya meruntuhkan harga diri. Tidak hanya di mata calon besan, juga di mata orang-orang. Tidak mungkin! Kalau sapi bisa dipegang tongar-nya, maka manusia harus bisa dipegang perkataannya, batin Suraksah.
“Bagaimana?” Tanya Nom Sukrah.
“Pernikahan harus tetap tetap dilaksanakan!” ketus suara Suraksah menahan golak amarah di dadanya. Membanting pantat ke kursi.
“Bagaimana dengan Marsiyeh?” Tanya Nom Sukrah yang dari tadi diam saja menyaksikan perdebatan ayah-anak itu.
“Ah!” Suraksah mendengus gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Nanti pasti bisa menerima pernikahan itu!”
Pernikahan benar-benar digelar dengan meriah, dihibur pertunjukan ludruk pada malam harinya. Namun, di ujung malam, ketika pegelaran ludruk semakin meriah, tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan histeris dari belakang rumah.
Tambang sapi karapan yang diwariskan mertua Suraksah, dan katanya mengandung jimat, telah meloloskan Marsiyeh dari jerat harkat dan martabat yang Suraksah bangga-banggakan dengan jalan pintas dan getas.
Sejak malam pernikahan anaknya yang berujung tragis, Suraksah berusaha tegar meskipun dalam dadanya banyak memar. Lima kali ia masih mengikuti sayembara karapan sapi. Memar di dada Suraksah kian membiru manakala Mukassar menngundurkan diri dan memilih menjadi joki sapi karapan milik musuh bebuyutan Suraksah. Rumor pun membiak di masyarakat; kekalahan sapi karapan Suraksah bukan hanya karena tambang warisan mertuanya sudah tidak bertuah sejak Marsiyeh menjadikannya tali gantung saat bertindak bodoh pada malam pernikahannya, namun juga gegara minggatnya Mukassar.
***
Bulan melengkung sabit di atas pucuk batang pohon nyiur yang telah gundul. Tetabuh ludruk dan kejugan perempuan sayup-sayup terdengar di kejauhan. Entah siapa yang menanggapya.
Di bawah pohon nyiur, tempat di mana Suraksah biasa mengikat, memijat dan mengelus-elus sapi karapannya, tempat di mana hidup Marsiyeh berakhir malang, Suraksah menjajarkan empat piala presiden hasil sayembara karapan sapi. Tanpa anak, istri dan sapi karapan. Dua pohon yang menjulang angkuh itu mati perlahan sejak malam pernikahan tragis beberapa tahun silam dan menjadi arena pesta para rayap. Suraksah hanya hidup bersama kenangan-kenangan pahit tentang anak-istrinya dan masa-masa kejayaan sewaktu menjawarai gubeng. Suraksah baru memahami arti sebuah keluarga dan martabat sosial yang pernah diagung-agungkan.
Tambang sapi karapan terkalung di leher Suraksah.
***
Madura, Juni 2015


gubeng(1): puncak sayembara karapan sapi se-Madura dengan merebut piala presiden.