Minggu, 14 Desember 2014

Cerpen "Kembang Pengantin"



Dimuat Nova, edisi tgl 12-18 Desember 2014

Kembang Pengantin
Cerpen Muna Masyari
Hahaha, seolah tidak ada yang lebih malang bagi perawan selain jadi perawan tua, perawan senja. Seolah tidak ada yang lebih meresahkan bagi seorang ibu kecuali memiliki anak perawan yang mengulur usia lajang.
“Jangan suka duduk di ambang pintu! Nanti lelaki yang hendak melamarmu kembali di tengah jalan dan kau jadi perawan tua!”
“Jangan malas-malasan pagi-pagi. Seorang mertua tidak suka jika anak menantunya malas-malasan pagi-pagi. Sapu halaman! Cuci piring di dapur! Kecuali kau ingin jadi perawan tua!”
“Letakkan pisang itu! Anak perawan tidak boleh makan pisang sangkal. Nanti kau jadi perawan tua!”
Demikian teguran yang kerap dijejalkan ibu ke telingaku. Hahaha… ups! Aku lupa, anak perawan juga dilarang tertawa lebar apalagi terbahak-bahak! Selain menyerupai tawa setan, kata ibu, itu tidak baik bagi perawan. Bagi perawan! Lalu bagaimana dengan bujang?
***
Namaku Aspuyeni. Umurku sekarang delapan belas tahun lebih dua bulan sebelas hari. Aku lahir pada bulan Rabiul Awal tanggal 7 dini hari, saat hujan mengguyur deras dan angin berderu-deru, mengamuk liar di kampung kami.
Menurut cerita ibu, kelahiranku bersamaan dengan robohnya rumah pegun peninggalan buyut akibat diterjang angin dan hujan. Sejak nenek meninggal, rumah itu sudah tidak ditempati namun selalu dibakari kemenyan setiap malam jumat. Kata ibu, setiap malam jumat arwah sesepuh pulang menengok rumah dan putu-nya.
Di usiaku yang kedelapan belas tahun lebih dua bulan sebelas hari sekarang ini, kecemasan ibu semakin membuncah karena aku belum juga menikah.
“Sudah kubilang, jangan suka duduk di ambang pintu!” ibu yang baru pulang dari pangantan menyeretku ke dalam dengan kepala masih menyunggi ember lorek berwarna hijau.
Hampir saja jarum di tangan tertusuk ke jariku.
“Aku bawa sesuatu untukmu,” ibu merogoh ke balik baju setelah menurunkan ember berisi nasi mengepul di kepalanya lalu diletakkan di atas lincak. Napas ibu memburu. Peluh meleleh di pelipis dan lehernya.
“Bawa apa?” tanyaku pura-pura. Aku sudah bisa menebak apa yang dibawa ibu.
 “Ini kembang pengantin yang kuminta pada Sarjeni. Sematkan kembang ini di rambutmu agar lekas menemukan jodoh!” ujar ibu, mengangsurkan roncean kembang melati yang masih wangi-segar.
Hahaha, aku tertawa dalam hati. Benar kan? Entah sudah berapa kali ibu membawakan kembang pengantin untukku. Uhuk, uhuk… aku pura-pura terbatuk.
“Tentu kau masih ingat,” ibu menarikku untuk duduk di bangku kayu yang berdenyit saat diduduki, “Suideh dilamar Sarkap setelah Sarkap melihat rambut Suideh disemat kembang pengantin milik sepupunya yang baru saja menikah. Sekarang mereka sudah punya anak dua,”
Aku kembali menjahit kancing yang belum selesai tadi. Membiarkan ibu terus berbicara tanpa kusela. Diam lebih baik daripada menyela pembicaraan orangtua, demikian pesan ibu yang selalu jadi penasihat itu.
 “Sarinten juga begitu. Ia menikah setelah ibunya mengambilkan kembang pengantin di pernikahan Ramlah. Saat itu usia Sarinten delapanbelas tahun. Sama seperti kamu sekarang,”
Kepalaku mendongak setelah menggigit benang hingga putus. Kancing yang kemarin lepas sudah terjahit rapi.
“Iya, usiaku baru delapanbelas tahun. Seharusnya ibu tidak perlu mengambilkan kembang pengantin untukku. Kembang pengantin itu seharusnya ibu berikan pada Sakduh. Ia lebih pantas menerimanya karena sudah hampir kepala empat belum kawin juga,” alisku terangkat dengan senyum terulas.
“Hus! Delapanbelas tahun bukan muda lagi! Kau tahu, perawan seperti buah siwalan, beda dengan anak bujang,” ibu mendelik.
“Mengapa perawan dan bujang dibedakan?” kejarku, menyematkan jarum ke gulungan benang karena jahitanku sudah selesai.
“Karena perawan dilamar, bukan melamar. Sebaliknya dengan bujang. Bujang bisa menikah kapan saja dan memilih siapa pun perawan yang diinginkannya!”
“Kalau begitu, biar nanti aku yang melamar kalau tidak seorang pun yang datang melamar. jadi ibu tidak perlu cemas lagi,” mataku mengerling genit, sekadar untuk menunjukkan kalau di usiaku yang kedelapan belas tahun ini aku masih baik-baik saja.
“Kau jangan macam-macam! Mana ada perempuan melamar lelaki? Cepat pakai kembang pengantin ini!” ibu menyergah ketus sambil mengangsurkan kembang pengantin di tangannya. kembang yang dinilai keramat karena baru saja dipakai oleh sang pengantin.
Aku menerimanya, “Apa ibu yakin dengan kembang pengantin bisa segera mendatangkan jodoh?” Tanyaku, tersenyum geli dalam hati.
“Tentu saja! Dari dulu, kembang pengantin jadi penolak sangkal bagi perawan!” tegas ibu seolah begitu ingin membenamkan keyakinan ke lubuk hatiku.
Hahaha, aku menyembunyikan tawa dalam dada dan meletakkan kembang pengantin di muka meja. “Iya, nanti akan kupakai,” kataku enteng.
Ibu menghela napas meredam gusar. Kata ‘nanti’ memadamkan semangatnya yang tadi sempat berkobar.
Sepi menyulam waktu beberapa jenak. Ibu memerhatikanku, gerak-gerikku yang sedang melipat baju dan meletakkannya di lemari
“Mungkin karena kelahiranmu bersamaan dengan robohnya rumah pegun hingga kau selalu menolak kepercayaan orang-orang dulu,” lirih ibu tiba-tiba. Suaranya terdengar letih.
Aku menoleh. Menatap ibu. Ibu meraih ember di atas lincak, lalu dibawanya ke dapur.
***
Ibu tidak lagi memaksaku menyemat kembang pengantin di rambut. Namun bukan berarti ibu memupus asa. Tiap kali ada anak tetangga menikah, samar-samar hidungku mencium aroma melati di kamar. Saat kucari, kadang aku menemukan roncean melati di bawah bantal, dalam lipatan baju di lemari, bahkan pernah dalam lipatan celana dalam. Mataku hingga basah karena tertawa saat dalam lipatan celana dalam yang hendak kukenakan terdapat roncean kembang melati yang mulai kecoklatan.
Tiap melihat ibu duduk-duduk menung di beranda, aku merasa ibu tengah menunggu calon menantu yang hendak melamarku. Namun, hingga usiaku kepala tiga, harapan ibu bagai kabut pagi di musim panas.
“Mungkin karena kembang pengantinnya tidak dipakai,” ujar Bi’ Mar, tetangga sebelah yang tengah mengobrol lirih dengan ibu di dapur.
“Mungkin juga!” desah ibu.
 “Kenapa Puyeni tidak mau memakainya?”
“Entahlah! Kau tahu sendiri, ia tidak bisa dipaksa. Tidak memercayainya. Aku yakin, karena kelahirannya bersamaan dengan robohnya rumah pegun hingga ia selalu menginkari kepercayaan orang-orang dulu,”
Diam-diam aku mendengar obrolan mereka saat hendak mengambil sapu lidi yang bersandar ke dinding dapur.
Aku memaklumi kegundahan ibu. Di kampung ini, aku mulai menjadi cermin besar yang memantulkan gambar nasib perawan paling malang.
“Jangan suka duduk di ambang pintu! Nanti lelaki yang hendak melamarmu kembali di tengah jalan dan kau jadi perawan tua seperti Aspuyeni!”
“Jangan malas-malasan pagi-pagi. Seorang mertua tidak suka jika anak menantunya malas-malasan pagi-pagi. Sapu halaman! Cuci piring di dapur! Kecuali kau ingin jadi perawan tua seperti Aspuyeni!”
“Jangan makan pisang sangkal. Nanti kau jadi perawan tua seperti Aspuyeni!”
Demikian peringatan yang kerap dijejalkan para ibu ke telinga anak perawannya, seakan takdir memang mengikat para perawan dengan rantai-rantai peraturan yang harus dipatuhi kalau tidak ingin jadi perawan tua. Sepertiku. Belum pernah kudengar seorang ibu menegur anak bujangnya karena duduk di ambang pintu, tidur selepas subuh, atau makan pisang sangkal.
***
Penghulu dan para undangan yang tidak seberapa sudah pulang. Tinggal kami bertiga. Di antara kerut-kerut wajah yang sudah menyerupai daun pisang kering, kulihat senyum damai di sudut bibir ibu. Ibu menatapku dan Sakduh bergantian. Baru kali ini aku melihat tatapan ibu yang begitu bening.
Hari ini hari pernikahanku dengan Sakduh; lelaki yang kulamar seminggu lalu. Sesuai keinginanku sejak dulu, aku menikah di usiaku yang ke-37 tahun, ketika teman-teman sebaya yang dulu menikah di usia belia sudah ada yang bermenantu. Angka 3 dan 7 adalah bulan dan tanggal kelahiranku.
Aku tidak perlu menunggu dilamar, karena dalam pernikahan ini aku sendiri yang melamar lelaki pilihanku, Sakduh, lelaki ringkih bertangan sebelah dan kesehariannya lebih banyak dihabiskan di masjid.
“Aku lega, akhirnya kau menikah juga, Puyeni!” lirih ibu dengan pandangan bertudung pelangi.
Aku tersenyum seperti anak kecil menerima pujian karena baru naik kelas. Sebentar  aku masuk ke kamar, dan keluar lagi dengan roncean-roncean kembang melati yang sudah mengering.
“Lihatlah, aku masih menyimpan kembang pengantin yang ibu berikan padaku dan yang kutemukan di bawah bantal, dalam lipatan baju, dan….” Kalimatku terpotong oleh ketukan pintu dari luar.
Tok, tok, tok….
Sakduh bangkit dan membuka pintu. Seorang ibu menyeruak masuk dengan langkah dan tatapan ragu. Si ibu itu menatapku  dan sesekali tatapannya mengarah ke sanggulku. Pasti ia hendak meminta kembang pengantin untuk anak perawannya. Padahal, aku menolak saat perias pengantin tadi hendak menyematkan roncean kembang melati di sanggulku dengan alasan yang sangat sederhana.
“Kau boleh menyamatkan kembang melati di sanggulku, kalau memang nanti akan ada seorang ibu yang hendak meminta kembang itu untuk anak bujangnya,”
***
Madura, November 2014




Cerpen"Lorong Suram"



Dimuat Sinar Harapan, 13 Desember 2014

Lorong Suram
Cerpen Muna Masyari

Bila senja mulai merapat, ia mulai membuka warung tendanya, ditemani anak lelakinya yang berusia kira-kira 10 tahun. Mereka sibuk memasang tirai spanduk serta menata bangku panjang dan meja yang semula tersusun dan menyandar pada tembok pagar trotoar. Setelah semua beres, giliran dagangannya yang dipersiapkan.
Seraya menyiapkan arang pembakaran, lelaki itu memberi instruksi pada anaknya agar memasang alas meja, meletakkan botol sambal dan kecap, menyiapkan minuman kemasan gelas, serta menyapu sampah-sampah berserakan. Gerakan si anak sangat gesit.
Dengan gerobak bercat biru pudar, dikelilingi bentangan spanduk di belakangnya dan beratap plastik biru tua, ia menunggu pembeli. Dua bangku panjang saling menghadap meja, bisu menemani.
Wajah lelaki itu gelap-keriput terpahat hidup yang seolah tak ramah. Rambutnya kecokelatan dan tumbuh bercabang tak terawat. Songkok hitamnya sudah berubah merah bata. Bibirnya amat sepi dari senyum.
Heran. Meskipun jarang tersenyum, satenya menjadi paling laris mengalahkan penjual lainnya. Dengar-dengar, selain gurih, lezat, bumbunya pas, pun murah meriah. Biasanya, keramaian pembeli mulai terasa pada titik lima belas menit setelah azan magrib berkumandang, hingga dagangan habis dalam waktu yang tidak tentu. Pada jam-jam ramai, kami tidak berani datang menggertak apalagi mengusirnya. Waktu paling pas melakukan operasi penertiban hanya saat ia baru tiba di tempat.
Aku sendiri sebenarnya malas berurusan dengan penjual sate di trotoar itu. Lebih baik berdebat sengit dengan ibu-ibu penjual buah yang cerewet dan berbau kecut daripada harus berhadapan dengan lelaki dingin yang satu itu. Namun tidak ada alasan untuk mengelak. Atasan sudah berkali-kali memperingatkan supaya jalan Niaga bebas dari pedagang-pedagang nakal.
“Sudah berapa kali kuperingatkan, jangan berjualan di sini!” bentak Sarkap, garang.
Lelaki itu terkejut melihat kedatangan kami yang serta-merta membentak kasar. Anaknya yang tengah bersih-bersih gegas merapat ke tubuh sang ayah. Wajahnya pucat. Pembeli masih sepi. Sementara empat kawanku mengoperasi tenda-tenda lain.
Brak! Kupukul muka meja. “Ini sangat mengganggu ketertiban kota! Dari kemarin diperingatkan masih saja tuli!”
“Di alun-alun Sedangdang sudah disediakan tempat, jangan mangkal di sini! Ayo, segera kemasi barang-barangnya! Pindah, pindah!Sarkap menjungkirbalikkan dua bangku panjang.
Kulepas tali tenda satu per satu, lalu menerjang tiangnya yang terbuat dari bambu. Masing-masing penyangga itu roboh dalam tiga kali sepak.
 “Ayo, cepat bereskan semua!” gertak Sarkap, gusar.
Lelaki tua itu tetap berdiri kaku di sisi gerobaknya, tanpa berkata atau melakukan apa-apa.
Bangunan tenda sudah ambruk. Plastik biru tebal yang dijadikan atap terinjak-injak sepatu kami. Karena ia masih diam, kupukulkan kayuku ke salah satu kaki gerobak. Gerobak oleng. Sebagian gelas dan piring terguling pecah. Untung tangan lelaki itu segera menahan sudut gerobaknya dengan susah payah.
Ia memang tidak berkata apa-apa. Tidak melawan, memaki ataupun menangis sebagaimana yang biasa dilakukan ibu-ibu nyinyir tapi cengeng. Tangannya masih berusaha menahan gerobak agar tidak rebah.
Dengan mata suram dan dingin, ia menatapku dan Sarkap bergantian. Membiarkan kami memporakporandakan tendanya, menjungkirkan bangku-bangku, mendorong gerobaknya yang sudah kupincangkan hingga isi gerobak muntah berhamburan.
Ia diam. Itu yang sangat kubenci. Padahal aku ingin ia melawan.
Tatapannya membuatku semakin tak henti mengamuk. Melempar piring, botol kecap, air kemasan, semua kubuat berantakan. Namun ia tidak melakukan pembelaan apa-apa. Hanya menyaksikan dengan mata yang seperti ruangan suram. Seperti ruangan yang lama dihuni setan. Kebencian di matanya begitu menghitam. Kental. Dan, mata dingin itu laksana pusaran angin yang menyedotku dalam bayangan buruk. Suatu peristiwa yang masih melekat dalam tempurung kepala dan menjadi lorong suram di masa silam.
***
Bila malam sudah larut bersama sepi, seorang bocah tersentak bangun seperti biasa. Ribut-ribut di kamar sebelah membuatnya segera membuang selimut. Ia menyeret langkah keluar dengan mata setengah mengantuk. Bunyi tamparan, barang dilempar, makian saling kutuk, kembali menjejali telinganya.
Di depan sebuah kamar, ia mendorong pintu sedikit dan perlahan. Tidak lebar. Sekadar cukup untuk menyaksikan apa yang terjadi di dalam.
Dari pintu yang terkuak ia saksikan perempuan itu terdorong keras ke sisi pembaringan. Rambutnya berantakan. Lelaki tinggi menyepakkan kakinya ke bagian paha si perempuan. Menjambak lalu menarik rambutnya dengan kasar hingga perempuan itu mendongak. Lantas ditampar pipinya dengan keras. Si perempuan kembali tersungkur ke kasur.
“Mana uangnya!”
“Aku tidak punya uang!”
“Bohong! Aku tahu tadi siang kau menang arisan!”
“Itu untuk membeli seragam sekolahnya Larip!”
“Suruh berhenti saja anakmu, tidak usah sekolah! Merepotkan saja!
“Aku bekerja untuknya! Untuk membiayai sekolahnya! Seharusnya kau cari uang sendiri kalau ingin berjudi!”
“Kurang ajar!” tamparan dan tendangan bertubi. Membabi buta.
Perempuan itu tersungkur ke lantai. Keningnya mengucur darah.
“Mana uang itu? Cepat berikan!” kaki lelaki beringas itu menyepak keras.
“Auh!” Si perempuan mengaduh.
Si anak diam di luar pintu. Menyaksikan dengan gigi merapat. Kebencian dan dendam membelukar di matanya.
***
Meskipun penggusuran berakhir berantakan dan hari-hari setelahnya jalan Niaga bersih dari pedagang liar, perkara tak lantas usai.
Penertiban paksa sore itu, serta mata dinginnya, terus membayangiku. Kebencian, ancaman dan dendam seolah terus mengancam.
Kurasakan, ia selalu mengawasi gerak-gerikku dari jauh. Memegang sebilah pisau tajam beraroma darah. Pisau yang selalu digunakan memotong daging kambing untuk disate. Diam-diam ia mengikutiku ke mana pergi. Siap mencegatku di jalan yang gelap. Membawakan sebungkus maut buatku.
Itu sangat buruk! Bayangan yang tak pernah enyah dari kepalaku. Ia akan membunuhku. Memotong dagingku kecil-kecil. Lalu ditusuk. Dibakar hingga menghitam. Dijual....
Oh, tidak! Itu kematian yang amat mengenaskan sekaligus mencemarkan. Satuan polisi Pamong Praja tewas dimutilasi oleh tangan penjual sate? Cemoohan apa pula yang bakal kuwariskan pada anakku nanti? Itu tidak boleh terjadi.
Namun, mata dingin itu laksana pusaran angin yang menyedotku dalam bayangan buruk. Suatu peristiwa yang masih melekat dalam tempurung kepala dan menjadi lorong suram di masa silam.
***
Kaki kecilnya melangkahi pecahan gelas, bantal, selumut, serta pecahan cermin yang berserakan di lantai. Tubuh perempuan yang tergolek tak bergerak pun dilangkahinya. Di lantai, darah membercak di mana-mana.
Bocah itu berdiri kaku di sisi pembaringan. Memerhatikan sesosok tubuh telentang di atas kasur dengan mulut menganga. Tanpa baju. Perutnya yang busung bergerak-gerak naik-turun dengan tenang.
Bocah itu menguatkan genggamannya pada gagang sebilah pisau dapur. Matanya begitu suram dan dingin. Giginya merapat.
Lama ia menatap sosok telentang di depannya. Dengkuran halus terdengar memuakkan. Matanya kian tajam memerhatikan perut lelaki itu. Perut buncit dengan pusar berlubang dangkal.
Perlahan ia naik ke pembaringan. Sebilah pisaunya diangkat sejajar kepala dengan ujung meruncing ke bawah. Wajahnya tiba-tiba berubah masam menakutkan.
***
“Pak, bangun! Baru pukul delapan sudah meringkuk dalam selimut. Belum mandi, lagi!”
Aku tersentak. Melongokkan kepala dari balik selimut. Keringat dingin membasah di sekujur tubuhku.
Istriku berdiri menatapku dengan heran.
Kulirik arloji. Pukul delapan lewat sedikit. Kuendus baju seragamku yang masih melekat. Kecut.
“Makan malam sudah siap.”
Makan malam? Entah. Aku tidak merasakan lapar. Padahal dari pagi hanya makan sekali. Mata penjual sate itu membuatku kehilangan selera makan.
“Ayo!” istri menyeretku turun dari pembaringan. Terpaksa aku mengikutinya.
Semua sudah tersaji di atas meja. Tumis ikan lele, sambal tomat, kerupuk singkong, dan ... sate?
Mataku melebar. Melihat sate berlumur bumbu kecoklatan, aku seolah melihat dagingku sendiri yang baru saja dipotong-potong, ditusuk, dibakar....
Perutku tiba-tiba mual. Sementara istriku mengambilkan nasi dan lauk ke piringku, buru-buru kusambar sepiring sate di depannya, lalu melemparnya ke pintu yang menganga.
Prang! Prang! Pecahan piring berhamburan di lantai berikut sate-satenya.
Istriku terkejut. “Kenapa, Pak? Kok satenya dibuang?”
Belum sempat kujelaskan padanya tentang mata penjual sate di trotoar itu, handphone di saku celanaku berdendang riang. Atasanku menelepon.
“Ya, Pak?” suaraku sedikit bergetar. Tanganku gugup.
 Larip, jangan lupa, besok semua PKL liar harus bersih. Penilaian adipura tinggal seminggu lagi!”
Nut, nut, nut...! Sambungan telepon langsung diputus.
Bos sialan! Bisanya hanya main perintah! Kulempar handphone dengan geram.
***
Madura, April, 2012







Kamis, 13 November 2014

Cerpen "Martabat"



Dimuat Tribun Jabar, 9 November 2014

Martabat
Cerpen  Muna Masyari

Terdengar langkah halus. Langkah kaki tanpa sandal. Siapakah yang datang?  Langkah itu semakin mendekat. Semakin jelas. Padahal tidak terdengar  bunyi handle pintu diputar  atau derik samar daun pintu dikuak.
Langkah halus tiba-tiba terhenti. Anda merasa diperhatikan dari jarak yang begitu dekat. Serasa ada sepasang mata yang manatap dengan begitu lekat. Anda ingin bangkit, tapi sekujur tubuh Anda terasa kulai seperti dahan patah.
“Siapa?” suara Anda parau. Kening Anda berkerut-kerut.
Sunyi. Anda seolah terperangkap dalam lubang kesunyian yang begitu curam. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara. Tidak terdengar cericit burung atau koko ayam  atau suara jangkrik atau sekadar dengung serangga yang berebutan mengendus lampu. Ataukah, lampu di kamar Anda memang tidak menyala hingga tak seekor serangga pun yang datang? Anda tidak tahu. Ada atau tanpa lampu menyala bagi Anda sama saja. Gelap menggulita. Hitam menjelaga. Sepi menggurita.
Kembali terdengar bunyi langkah diseret. Kali ini lebih jelas, namun iramanya lebih lamban. Hanya tiga langkah.
“Siapa?” ulang Anda.
Senyap. Udara terasa beku. Tiba-tiba bulu kuduk Anda meremang. Rasa takut kuat mencengkeram.
“Siapa?” getar suara Anda menegaskan ketakutan yang luar biasa.
Napas Anda memburu. Resah-gelisah. Pandangan Anda Gelap. Pekat. Jangankan mengenali wajah orang yang masuk ke kamar Anda, seberkas cahaya pun tak bisa Anda tangkap.
Sejak dunia Anda menghitam, hanya dari cericit burung atau kokok ayam dan suara jangkrik juga dengung serangga Anda bisa membedakan siang dan malam.  Hanya dari bunyi sandal diseret Anda bisa tahu bahwa ada orang masuk ke kamar Anda. Dengan mempertajam pendengaran, melatih kepekaan, Anda berusaha mengenali siapa yang datang.
Jika bunyi sandalnya cukup keras dan iramanya agak cepat, sebelum ia bersuara pun Anda bisa mengenali kalau Jumani yang datang. Jumani yang tidak bisa memelankan jalannya meskipun sudah ditegur berkali-kali. Jumani, perempuan abdi yang masuk sekadar untuk mengambil baju-baju kotor Anda untuk dicuci. Jika bunyi sandalnya ber-klethak-klethok seperti bunyi kayu digetokkan ke lantai dan iramanya agak pelan, sebelum menyapa Anda sudah tahu kalau Salim, putra tunggal Anda yang masuk ke kamar. Dari dulu Salim memang tak pernah lepas dari sandal paccak(1)-nya.
Ada satu orang lagi yang bisa Anda kenali dari langkahnya. Perempuan itu. Perempuan yang telah menjadi sumber kegelapan dalam hidup Anda. Perempuan yang membuat Anda terpuruk di kamar itu. Jika perempuan itu datang, langkahnya halus tanpa sandal. Irama jalannya lamban dan terdengar berat. Derik daun pintu yang dibuka pelan pun terdengar samar. Dari denting sendok yang bersentuhan dengan piring Anda tahu kalau ia datang untuk mengantarkan makanan. Tidak ada suara terucap dan Anda pun tidak pernah sudi menyapanya. Kebencian Anda sudah membangkai pada perempuan itu.
Perempuan itukah yang datang kali ini? Rasanya bukan. Tidak tercium wangi perempuan sebagaimana wangi perempuan itu. Udara terasa beku.
Lalu siapakah yang datang? Hati Anda dibuncahi rasa penasaran yang tidak terbendung.
***
Dunia memggulita bermula ketika putra Anda memaksa menikahi perempuan itu. Tidak bisa dilarang. Menolak disuguhi pilihan.
“Kau boleh menikah dengan nenek-nenek sekalipun, asal ia perempuan baik-baik. Perempuan yang sederajat denganmu! Paling tidak, keturunanmu nanti murni. Tidak bercampur keturunan orang biasa. Apalagi keturunan dari perempuan….”
“Saya tetap memilihnya, Ummi…”
Kalimat Anda terpotong. Ribuan pelepah daun salak menumpuk di dada Anda. Duri-durinya menusuk tajam. Dalam. Hati Anda berlubang-lubang dan deras menyemburkan darah. Dada Anda berdenyut nyeri. Baru kali ini sang putra berani memangkas ucapan Anda.
Bagaimana mungkin perempuan itu bisa menjadi bagian dari keluarga Anda? Keluarga bermartabat. Bayangkan! Di hadapan keluarga Anda, orang-orang berjalan lamban seraya menyembunyikan dagu. Mendengar titah keluarga Anda laksana mendapat sabda pandita ratu. Ke rumah Anda, orang-orang berduyun-duyun menyunggi keranjang, menghaturkan hasil tani yang baru saja panen. Pada hari raya, berbagai mancam menu masakan dan kue-kue (basah-kering) mereka hantarkan.
Ah, bagaimana mungkin perempuan itu menjadi bagian dari keluarga Anda? Bukan hanya karena perempuan bungkaladan(2). Bukan sekadar itu. Ia adalah perempuan yang membiarkan kutangnya dijejali rupiah oleh banyak tangan lelaki. Perempuan yang suka melenggak-lenggokkan badan di depan berpasang-pasang mata yang menatapnya seperti tatapan kucing saat melihat daging segar. Perempuan tandak(3) yang biasa diundang ketika ada gelar pesta; pesta pernikahan, pesta panen, rokat tase’, selamatan sunatan, dan sebagainya. Bagi semua orang, ia tak lebih dari perempuan penghibur.
Sudah berapa perawan yang Anda tawarkan pada Salim, putra tunggal, satu-satunya penerus generasi keluarga. Perawan yang sederajat dengan keturunan keluarga Anda, namun anak itu tetap bersikeras memilih perempuan tandak itu.
“Kalau kau tetap memilihnya, pergi dari sini!”
“Jangan begitu, Ummi! Saya berjanji akan menjadikan ia perempuan yang pantas menjadi menantu Ummi. Menjadi bagian dari keluarga kita.”
Anda membuang wajah. Meredam amarah dengan napas sengal.
“Ummi?” tangan Salim menyentuh pundak Anda.
“Apa yang membuatmu tergila-gila pada perempuan itu?” Anda menatap sang putra dengan tatapan runcing. Bertanya dengan nada menusuk tulang rusuk.
“Saya ingin mengubahnya! Mengubahnya agar tidak menjadi perempuan tandak lagi! Agar tidak ada lagi perempuan tandak di desa ini.”
Kambali Anda membuang wajah dengan dengus mengejek. Sinis dan getir Anda menarik sudut bibir.
“Nanti malam saya menyuruh Oba’(4) mendatangi keluarganya untuk melamar,”
“Kau?” Mata Anda membulat. Separuh tak percaya.
Anda tak habis pikir, selama sembilan bulan Anda menyewakan rahim padanya dengan payah di atas payah, memerah air susu selama 24 bulan, sekarang ia mengambil keputusan sebelum mendapat persetujuan dari Anda. Inikah yang ia tunaikan?
“Saya harap Ummi merestui,”
Anda menggeleng berkali-kali. “Kalau kau tetap memilihnya, seumur hidup aku tidak ingin melihat wajahnya!” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Anda, lalu meninggalkan sang putra dengan dada hangus terbakar.
Anda tidak tahu, saat itu langit tengah menganga dan ucapan Anda berupa doa yang mudah diangkat ke arsy.
***
Jodoh. Siapa berjodoh dengan siapa? Misteri kehidupan. Putra Anda telah memilih perempuan tandak itu. Tak peduli berapa banyak air mata Anda terkuras, hingga mata Anda membengkak, hinggga mata Anda terasa panas dan pedih dan rekat. Nyatanya, air mata tak mampu menghapus garis nasib. Perempuan tandak berjodoh dengan putra kiai. Siapa yang bisa melawan takdir? Hanya air mata yang menemani keseharian Anda sebagai wujud penyesalan atas keputusan sang putra.
Ketika putra Anda membawa perempuan itu untuk sungkem sebagai menantu, Anda berpaling muka tanpa ingin melihat wajahnya.
Saking banyaknya menguras air mata, saking panas dan pedihnya mata terasa, seperti ada kabut tipis terbentang, mengganggu ketajaman penglihatan Anda. Semakin lama kabut itu semakin tebal mengakibatkan ketajaman penglihatan Anda kian berkurang. Berkali-berkali Anda mengucak mata, kabut tebal yang semula berwarna putih menjadi kelabu. Dinding, lantai, langit, pintu, jendela, pakaian, mukena, semua terlihat kembar dan mengelabu. Begitu juga saat hendak membaca aksara-aksara Al-Quran. Mata Anda ngilu ketika berusaha menilik tajam.
Pernah Anda berjalan tanpa bisa melihat tangga rumah hingga Anda jatuh tersungkur. Saat pergi ke kamar mandi, Anda juga pernah menabrak daun pintu karena sebelumnya merasa telah membukanya. Anda pun tidak bisa mengenali wajah-wajah para abdi.
Lama-lama penglihatan Anda semakin rabun. Benda yang Anda lihat kian buram bahkan kadang tidak terlihat sama-sekali. Hingga suatu pagi, saat membuka mata selepas lelap, kamar  itu tampak gelap sama sekali. Sungguh hitam. Padahal kokok ayam dan cericit burung ramai terdengar di luar sana. Anda yakin telah bangun kesiangan. Namun kegelapan malam seolah terperangkap di kamar itu. Di kamar Anda.
Bagai terkutuk oleh ucapan sendiri. Dunia Anda menggulita sejak saat itu dan tidak pernah bisa melihat rupa sang menantu.
***
“Ayo, ikut denganku!” sebuah suara mengejutkan setelah Anda merasa beku di ruangan itu. Anda yakin, suara itu milik pelangkah halus yang telah memasuki kamar Anda.
“Ikut? Ke mana? Kau siapa?” suara Anda semakin bergetar.
“Ke suatu tempat,” lirih saya.
Saya akan membawa Anda ke tempat di mana Anda akan bisa melihat tinggi dan rendahnya martabat seseorang. Dari tempat itu Anda juga akan mendengar lantunan doa seorang perempuan pada tiap sepertiga malam terakhir. Doa yang selalu memohon kesembuhan penglihatan Anda.
Sekujur tubuhku tiba-tiba terasa kaku. Mataku berat dan leherku seperti tercekik. Menelan ludah  pun aku sulit. Namun, sekian detik berikutnya, tubuhku mendadak jadi ringan. Sangat ringan. Seperti kapuk ditiup, melayang-layang, dan … kulihat serangga-serangga kecil mengendus lampu menyala yang bergantung di langit-langit kamar. Aku bisa melihatnya. Kulihat piring kosong dan gelas berisi air separuh di atas meja.
Samar-samar telingaku menangkap sesuatu; suara perempuan melantunkan doa panjang. Siapakah yang tengah melantunkan doa?
Sebuah kekuatan menarikku keluar dari kamar yang selama ini menjadi dunia sempitku. Aku bisa keluar tanpa harus melalui pintu, mencari sumber suara yang terus malantunkan doa-doa.
Di tengah-tengah langgar, kulihat seorang bersimpuh mengenakan mukena seraya menadahkan tangan ke langit
Aku tercekat di belakang punggung perempuan itu, tanpa mampu melihat wajahnya.
***
Madura, September 2014

Catatan:
Paccak: sandal kayu
Bungkaladan: orang berderajat rendah dalam kehidupan sosial
Tandak (perempuan tandak): penyanyi
Oba’: saudara tua ibu/bapak.