Rabu, 18 April 2018

cerpen "Somber Tomangar"

Dimuat Radar Surabaya, 15 April 2018

                           Somber Tomangar
Cerpen Muna Masyari

Burung-burung bercericit riang dari pohon sawo rindang yang hampir menutupi saparuh halaman. Diiringi lenguh sapi tetangga, kokok ayam jantan di kejauhan, embekan kambing yang diikat pada batang pohon sawo di sudut halaman.
Kaki kambing berbulu hitam itu bergerak liar kanan-kiri dengan mata tak sabar menyambut Madlawi merangkul daun pisang dengan langkah gegas. Bekas injakan kakinya berceruk dangkal di antara butir-butir kotoran berserakan.
Kuletakkan secangkir kopi dan sepiring ubi rebus mengepul di langgar. Sudah tergeletak sebilah pisau dengan mata mengilap basah di sana. Selembar kain kafan berukuran tiga meter dilipat rapi. Tiga jarum yang ditusukkan pada segulung benang putih, gunting bergagang hitam, dibungkus menyatu dengan sobekan kain kafan. Serbuk dupa berbungkus plastik bening, sabut kelapa kering dan korek kayu di dekatnya.
Madlawi berdiri dengan dua batang lengan disilang ke belakang menatapi kambing kesayangannya yang sibuk melahap daun pisang. Sebentar lagi kambing itu akan jadi tumbal kekonyolan, ejek Salu’din, penunai nazar sekaligus nganceng(1), sangkal Madlawi, dan sebaiknya diniatkan sebagai akikah, saran Sama’on.
Apa pun nama dan niatnya, pagi ini kambing itu akan dibawa ke Somber Tomangar, beserta sebilah pisau, selembar kain kafan, tiga jarum, segulung benang, gunting, serbuk dupa, sabut kelapa dan korek kayu.
***
“Aku akan membawa Embu’ ke Somber Tomangar!” Madlawi membuka pembicaran setelah menyeruput kopi pekat-hangat beraroma tajam dan menyilakan kedua saudaranya.
“Untuk apa?” dahi Salu’din mengeriput. Urung menyentuh gagang cangkir.
“Kabarnya, banyak penyakit yang berhasil sembuh setelah dimandikan dan meminum air Somber Tomangar!”
“Apa?” tawa ejek Salu’din berderai.
“Orang stroke, lumpuh, bahkan yang memiliki penyakit sesak napas berhasil sembuh setelah meminum airnya! Kau tahu, anak Sarkamin yang tidak bisa bicara meskipun hampir berumur empat tahun sekarang juga sudah belajar memanggil ‘eppak’ setelah dibawa ke Somber Tomangar!” Madlawi berusaha meyakinkan.
“Itu kabar burung. Sumber air yang tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama menghilang tidak akan menyembuhkan apa pun!” bibir Salu’din menyabit sinis. Rambut dan sepatu hitam klimis, baju dan celana putih bersih, menegaskan betapa ia menolak segala bentuk mitos dan hanya memercayai sistem medis.
“Kita coba saja! Siapa tahu Embu’ bisa sembuh,”
“Apakah kita harus percaya pada cerita bodoh semacam itu?” masih bernada ejekan, Salu’din mengangkat kedua tangan seiring empasan punggungnya ke sandaran kursi.
“Apa salahnya mencoba?” dari perubahan raut dan suaranya, jelas Madlawi berusaha menekan amarah. Lelaki itu sengaja memanggil kakak-adiknya untuk berembuk, bukan berdebat.
“Mencoba?” tawa Salu’din kian pedas. “Kau pernah membawa Embu’ ke dukun hingga harus menjual sapi. Hasilnya mana? Itu juga akibat coba-coba!”
“Apa obat-obatanmu tiga tahun ini juga memberi perkembangan pada kesehatan Embu’? Sama sekali tidak kan?” kesabaran Madlawi seperti kabut dalam cangkir kopi yang terus menguap.
“Kesembuhan Embu’ butuh proses,”
“Sampai kapan? Proses tanpa ada kemajuan?” kejar Madlawi. Nada suaranya mulai meninggi.
Sama’on masih diam menyimak. Dua kali membetulkan letak kopyah, diteruskan dengan membelai janggutnya yang panjang. Sepertinya, saudara bungsu itu jera dan tersinggung, ketika dulu, Salu’din membandingkan air infus dengan air japah yang pernah ia minta pada guru pondoknya. Atau, sebagai santri ‘sami’na wa atha’na’, Sama’on memilih diam demi memertahankan citra seorang kiai di matanya? Entahlah.
Pada hari-hari pertama sakit, Embu’ sempat diopname di RSUD selama hampir sebulan, namun tidak ada perubahan. Akhirnya dibawa pulang. Sebagai mantri desa, Salu’din yang meneruskan perawatannya. Dua petak sawah pun digadaikan setelah semua perhiasan habis terjual demi menebus botol-botol infus, butir-butir pil dan kapsul, namun tetap tidak ada perkembangan.
Sama’on berinisiatif nyabisagi Embu’ ke kiai di mana ia mondok dulu. Tak ada hasil. Ujung-ujungnya Madlawi berkeras membawa Embu’ berobat ke dukun meskipun mendapat penolakan sekaligus ejekan dari Salu’din.
Kata Salu’din dan dokter rumah sakit Embu’ mengalami stroke akibat darah tinggi. Kata kiainya Sama’on, Embu’ tidak sengaja melangkahi sabuk jimat dan disarankan agar meminum air rendaman jimat tersebut kalau ingin sembuh, namun kami tidak tahu di mana Embu’ pernah melangkahinya. Jimat siapa? Sementara menurut dukun Madlawi, kemungkinan Embu’ terkena babalina lalakon(2).
Memang, menurut cerita Madlawi, kakek buyutnya, yang tak lain adalah kakek ibu mertuaku, dulu pemilik tenung yang sangat ditakuti. Tak seorang pun berani mengganggunya walau sekadar memetik selembar daun beluntas di pagar halaman kecuali ingin berperut bengkak dan berakhir maut. Yang datang-pergi untuk menyembuhkan atau mencelakai orang pun tak terhitung. Namun sampai ia meninggal, semua ilmu gelapnya tidak diturunkan pada anak-putu. Anehnya, sepeninggal lelaki bergelar dukun itu, anak-putunya meninggal dengan penyakit yang hampir sama dengan ibu mertuaku kali ini; perutnya bengkak, tubuhnya kaku, kulitnya hitam melepuh seperti terbakar, lidahnya mendadak kelu dan mulutnya menyorong ke samping. Tidak seperti malam-malam biasa, setiap malam jumat legi, suhu tubuhnya tinggi sampai menggigil. Matanya mendelik dan napasnya sengal (seperti) menahan sakit.
Apa pun nama penyakit dan penyebabnya, tiga jalan penyembuhan untuk Embu’ tidak memberi harapan apa pun. Embu’ tetap membujur kaku, berperang dengan penyakitnya. Tiga tahun kami merawatnya sebagaimana merawat bayi. Infus dan obat-obatan diberikan sewaktu-waktu.
Sama’on datang setiap malam jumat legi, dan membacakan alquran di samping perempuan tak berdaya dalam kesakitan itu. Demikian pula dengan Salu’din. Pada malam yang sama, ketika penyakit Embu’ kumat, ia pun sibuk dengan alat-alat medisnya; jarum suntik, selang infus, dan botol-botol obat yang disuntikkan ke botol infus. Di dada kami seolah hanya tersisa dua pilihan; merawat untuk mengurangi rasa sakitnya, sekaligus menunggu hari pelepasan dari rasa sakit itu sendiri!
Akan tetapi, kabar yang menguar tentang Somber Tomangar kembali menyulut sumbu-sumbu harapan di dadaku dan dada Madlawi. Meskipun mendapat ejekan pedas dari Salu’din, senja itu kami tetap membawa Embu’ ke desa Bulangan, di mana Somber Tomangar berada.
Jarak tempuh 2 jam dengan mobil pick up membuat kami tiba di lokasi ketika matahari nyaris karam. Sudah banyak kendaraan terparkir. Pedagang kaki lima bertebaran beratapkan plastik. Ada juga yang menjajakan gorengan, talas rebus, pentol tahu, bahkan gayung dan jeriken air seharga limaribu rupiah.
Somber Tomangar terletak di kaki bukit, berpagar pohon jati, dan airnya mengalir ke sawah. Ada dua sumber bersebelahan. Dan sejak dianggap air mujarab hingga banyak pengunjung yang datang, dua sumber itu dibatasi pagar seng hingga menjadi dua lokal; khusus laki dan perempuan.
 Kabarnya, bertahun-tahun silam, Somber Tomangar mati setelah ditemukan seorang bayi dikerubung semut dengan tali ari utuh, di dekat sumber. Diduga, bayi tersebut korban pergumulan nista orangtuanya. Seorang guru ‘ngaji tanpa anak merawat si bayi hingga besar. Disekolahkan. Lalu dititipkan ke pondok pesantren selama dua puluh tahun. Pulangnya, ia menjadi lelaki penuh wibawa. Bersahaja. Ditakzimi dan dikeramatkan. Gelar kiai pun disandang. Ke Sakdulla. Santrinya bertambah setiap hari.
Sebelum matahari mencuat, tamu sang kiai sudah antre untuk memohon air japah bagi kerabatnya yang sakit, atau jimat selamat bagi yang hendak merantau, meminta air berkah untuk benih yang bakal ditanam, dan segala ragam kepentingan lainnya. Namun sejak beliau terpilih jadi anggota dewan daerah, air japahnya tidak lagi mujarab. Tak sekadar itu. Santrinya juga terabaikan karena beliau sering bepergian ke luar kota. Bahkan banyak yang memilih berhenti meskipun tambahan asrama sedang dilakukan.
Suatu pertengahan malam jumat legi. Ketika hanya tersisa desau angin menggesek dedaunan dan jerit jangkrik di sawah, gemuruh seperti suara air mengempas dinding trowongan terdengar menindih. Esoknya, seorang petani kaget melihat sawahnya tergenang air.
Somber Tomangar muncul lagi, dan tetua kampung mengaku dapat wangsit tadi malam bahwa air Somber Tomangar bisa dijadikan jalan penyembuh seribu penyakit. Kabar pun menguar hingga ke desa sekitar. Warga setempat beranggapan, air Somber Tomangar adalah pengganti air japah kiai.
***
Ketika kami tiba, pengunjung yang antre di pinggir Somber Tomangar sudah memagar. Rata-rata mereka menenteng gayung untuk mandi dan botol bekas air mineral untuk membawa air pulang.
Seorang perempuan ringkih beruban dipapah perempuan muda dan seorang lelaki berkulit legam di sisi kanan-kiri, menyela antrean. Melihat dua batang betisnya yang hanya terbungkus lapisan kulit kering-keriput dan tampak bergetar saat menuruni undakan lokasi air sumber yang mirip kolam dangkal itu membuat yang lain terdiam tanpa protes.
Sudah ada enam perempuan yang bercebur separuh dada di bawah sana. Salah seorang di antara mereka, tanpa rasa malu membuka lipatan sarungnya hingga bukit kembarnya yang sebesar buah kelapa terlihat jelas. Banyak memar di seputar bukit.
“Sembuh, sembuh, sembuh!” seru perempuan itu seraya menabuhkan air ke bukit kembarnya dengan dua belah tangan.
Dua perempuan lain sedang mengambil air dari sumbernya langsung, di hulu, hingga botol bekas air mineral yang dipegangnya penuh. Sarung basahnya melekati tubuh.
Madlawi berdiri di tubir, menunggu salah seorang yang sedang mandi segera naik. Perempuan ringkih yang baru turun mulai dimandikan. Bibirnya menggigil. Giginya merapat. Gelung rambutnya yang tak sebesar kepalan tangan dilepaskan oleh perempuan muda yang mendampingi.  Rambut itu segera basah disirami dua gayung air Somber Tomangar.
Tangan kekar Madlawi masih membopong tubuh Embu’ seringan membopong kayu kering. Penyakit menggerogoti danging di tubuh Embu’ selahap rayap memakan kayu kapuk. Tinggal perutnya yang membengkak.
Hampir setengah jam kami menunggu, hingga akhirnya Madlawi memiliki kesempatan membawa Embu’ turun, didampingi olehku. Saat tubuh Embu’ mulai disirami air Somber Tomangar, kulihat matanya mengerjap-kerjap dan bibirnya berusaha digerakkan. Entah mau bicara apa.
Ketika hendak pulang, kami melihat segerombol orang melingkar, tidak jauh dari lokasi Somber Tomangar. Suara ribut mereka saling tindih dengan embekan kambing yang menjerit parau. Aroma dupa menguar ke udara.
“Ada apa?” Madlawi bertanya pada seorang ibu yang tengah berjalan gegas seraya menenteng gayung.
“Selamatan menyembelih kambing karena penyakit anaknya sembuh.”
Kami terpekur sejenak. Pada saat itulah Madlawi mengaku hatinya membisikkan nazar, jika Embu’ sembuh akan menyembelih kambing juga di tempat yang sama.
Akan tetapi, saat kami hendak menunaikan nazar itu pagi ini, Somber Tomangar  terlihat sepi. Tidak ada kendaraan sama sekali. Tenda-tenda pedagang kaki lima sudah dibongkar. Pagar pembatas antara tempat mandi laki-perempuan juga hilang tanpa bekas.
Somber Tomangar tidak mengalir lagi sejak Ke Sakdulla meninggal seminggu lalu,” jawab warga setempat pada kami.
***
Madura, Juni 2017
Catatan:
Nganceng(1): syarat ritual agar penyakit tidak kembali (kumat).

Babalina lalakon(2): balasan perbuatan buruk yang disengaja. Biasanya dikaitkan dengan ilmu hitam.

Rabu, 14 Maret 2018

cerpen "Sangkar Perkawinan"

Dimuat Media Indonesia 4 Maret 2018
Sangkar Perkawinan
Cerpen Muna Masyari
Kau mematung di halaman. Nanar menatap rumah kayu dengan serambi ditopang tiga pilar berukir, lima meter di depanmu.
“Tiga pilar itu adalah simbol penyangga perkawinan; jujur, setia, menerima,” ujar ibu mengurai makna, ketika baru pertama kali kau dituntun menginjak lantai serambi rumah yang baru kemarinnya selesai dibangun, disaksikan berpasang-pasang mata di halaman, seusai akad pernikahan. Tujuh tahun silam.
Pilar itu tidak terlalu gemuk. Berukir gelang-gelang lingkar pada pangkal dan ujung sepanjang dua jengkal, beraksen timbul seperti taburan permata pada gelang juragan genting (salah seorang tetangga), mengapit ukiran pelintir ubi bagian tengahnya. Selama ini, tiap kali menatap tiga pilar itu, seperti menyepuh kejujuran, kesetiaan dan keikhlasan atas semua yang ada dalam perkawinanmu. Termasuk ikhlas menunggu kepulangannya selama lima tahun ini.
Pandanganmu beralih pada pintu berdaun dua yang dihiasi ukiran sulur gelung bercat cokelat tua. Dengan kebaya pengantin putih dipadu sampir batik, ibu terus menuntunmu memasuki lubang pintu itu.
“Bagi istri, selama tinggal di rumah hantaran, cinta dan kesetiaan harus tetap dipertaruhkan!” lanjut ibu, setelah memasuki rumah baru seluas 5x6 meter, tanpa bilik-bilik kamar.
Kau menyimak dalam diam.
“Apa kau tahu makna kelambu ini?” ibu bertanya setelah mendudukkanmu di tepi ranjang, seraya memegang kain kelambu putih dan memerhatikan serat-serat halusnya sebentar penuh kekaguman.
“Untuk melindungi dari gigitan nyamuk,”
Ibu tertawa tanpa suara. “Tidak sekadar itu bagi sepasang suami-istri.”
Kau menatap mata ibu penuh rasa ingin tahu.
“Kelambu adalah simbol satir kehidupan, agar sepasang suami-istri menjaga rahasia rumahtangga. Segala bentuk permasalahan cukup menjadi rahasia berdua, selesaikan bersama, tidak perlu dibeberkan pada orang luar, kecuali memang sangat membutuhkan saran dan nasihat orangtua atau saudara yang terpercaya.”
Kau manggut-manggut. Berusaha mencerna apa yang dijelaskan ibu baru saja.
Ibu mendekati lemari dan membuka pintunya yang ditempeli cermin bulat telur pada bagian muka, “Dan baju hantaran ini, tak sekadar baju baru yang biasa kaukenakan pada hari lebaran,” ibu mengambil sepotong baju dari kotak lemari, lalu dibawanya padamu.
Matamu membulat dan mulutmu setengah menganga. Belum pernah kau memiliki baju sebagus itu. Warnanya merah menyala berbahan brokat tipis dan bertabur payet lidi berbentuk kembang bagian dada. Baju itu terlihat lebih mewah dari baju pengantin yang sedang kaukenakan.
“Seorang istri adalah baju bagi suami. Begitu pun sebaliknya!” jelas ibu.
“Maksud Ibu?” keningmu mengerut.
“Seorang istri harus menjadi hiasan suami. Jadi pelengkap ketaksempurnaannya. Penutup celah kekurangannya!”
Ah, usia empat belas tahun terlalu dangkal untuk bisa memahami makna simbol-simbol perkawinan yang ibu tuturkan sejak tadi. Kau hanya tahu, selain cincin mahar, suamimu membawakan pakaian, perhiasan, perlengkapan bedak, dan rumah beserta isinya sebagai hantaran komantan[i]. Tanpa semua hantaran itu, perkawinan bisa gagal meskipun penghulu sudah menunggu. Menikahkan anak perempuan tanpa barang-barang hantaran hanya mengundang cibiran. Dianggap lebih rendah dari harga hewan di bawah starndard harga pasar.
Dari hantaran komantan  nilai mempelai perempuan di kampungmu ditakar. Semakin mahal barang hantaran, semakin tinggilah nilainya dipandang.
Sebuah keberuntungan besar sekaligus kebanggaan karena kau dibawakan rumah kayu berukir dengan dinding papan berserambi lebar ditopang tiga pilar. Rumah itu diantar empat hari menjelang pernikahan. Langsung dibangun oleh pekerja yang ulet dan cekatan. Ranjang, lemari dan kursi yang juga terbuat dari kayu kokoh berhias ukiran, dibawa bersamaan dengan kedatangan mempelai.
“Lihatlah, sangat jarang perempuan dibawakan hantaran semahal ini,” tambah ibu, kembali menyapu sekeliling; ranjang, lemari, kursi, luas rumah, lalu tengadah menyapu usuk-usuk atap dengan takjub, “dulu ibu hanya dibawakan rumah bambu dan kursi rotan. Ranjang dan lemarinya pun barang lama yang dicat ulang. Bahkan baju yang dibawa ayahmu hanya baju kodian,” ibu terkekeh.
Katanya, sejak menginjak remaja suamimu sudah jadi perantau ke Malaysia. Tak heran jika ia membawakanmu barang-barang hantaran senilai jutaan. Tapi apalah arti semua itu sekarang?
“Kalau sudah ‘lapar’ di sini, apa aku harus terbang ke Karangpenang untuk ‘makan’? Yang penting aku kan tidak ‘jajan’ di luar!”
Suara suamimu tadi di telepon terngiang. Sebuah pengakuan berdalih yang telah menuntaskan ketakpastian. Desas-desus para tetangga belakangan ini akhirnya terjawabkan. Benar, suamimu membelah rusuk di negeri seberang. Yang membuatmu serasa menelan kulit durian, begitu tenangnya ia menyampaikan pengakuan. Seperti menuang air ke dalam cangkir. Tanpa beban. Tanpa riuh gelombang.
Dan kalau aku yang ‘haus’, harus menunggumu pulang? Ingin kau pertanyakan itu, menuntut keadilan, namun lidahmu kelu.
Telepon dimatikan. Kau pun pulang dengan hati redam. Tidak kaudengar tegur-sapa orang yang kebetulan berpapasan saat turun dari ketinggian demi mencari sinyal.
Sesampai di halaman rumah, langkahmu terhenti. Nanar kautatap rumah hantaran yang selama ini mengurungmu dan menuntut kesetiaan, bagai sangkar perkawinan.
Yah! Rumah hantaran itu hanya sangkar perkawinan. Tak lebih!
Kau teringat nasib Maryam yang tak kunjung menikah lagi meskipun sudah mengantongi surat talak dari bekas suami. Alasannya, ia tidak memiliki rumah lain kecuali rumah hantaran yang dibawakan bekas suaminya dulu. Meninggalkan putri kecilnya di rumah itu sendirian dan ia ikut suami baru, jelas tak mungkin. Mengajak suami baru untuk tinggal bersama di sana hanya mengundang cecaran bekas suami dan keluarganya. Sampai saat ini Maryam terkurung dalam sangkar itu, mengutuk masa lalu. Tak ubahnya burung yang terbelenggu. Sementara bekas suaminya sudah beristri baru.
Nasib Jumarti beda lagi. Hubungannya dengan suami terkatung. Tak ada niat berpisah satu sama lain, namun sudah tidak ada sangkar perkawinan yang menyatukan. Kisah itu berawal ketika suami Jumarti terbakar cemburu, karena tiap kali pulang selalu mendapati rambut Jumarti tergelung basah.
Sebagai sopir pengantar genting, ia memang kerap pulang menjelang subuh jika rumah pelanggan cukup jauh.
“Siapa yang telah menidurimu semalam?” pertanyaan bernada tuduhan itu menyulut ribut besar suatu pagi buta, ketika kepala si suami sudah disesaki rasa cemburu dan curiga.
Beragam cercaan pun disemburkan pada Jumarti tanpa minta penjelasan. Ujung dari pertengkaran itu, rumah hantaran dirobohkan dan diangkut pulang.
“Daripada dijadikan tempat melacur,” ujar si suami dengan dada terbakar.
Jumarti kembali ke rumah orangtuanya dengan balita yang belum genap usia dua tahun. Tak lama dari kejadian itu, barulah kemarahan suaminya mereda setelah mendengar penjelasan Jumarti dari mulut tetangga; bahwa ia keramas tiap pagi karena kencing anak lelakinya selalu menyembur ke mana-mana ketika tidur.
Suami Jumarti menyesal. Namun untuk rujuk, rumah hantaran terlanjur diangkut pulang. Ujung-ujungnya, hubungan mereka terkatung hingga sekarang. Tak ada sangkar perkawinan yang bisa menyatukan, kecuali Jumarti dibawakan rumah hantaran lagi. Akan tetapi si suami merasa gengsi untuk melakukannya. Jadilah keduanya hidup terpisah tanpa ada yang mengalah.
Kau masih mematung di tempat. Meringkus sangkar di depanmu dengan sepasang mata yang terasa pedas. Seekor burung melintasi atap rumah. Melesat cepat. Tak seberapa lama, burung itu kembali menuju arah semula.
Tiba-tiba matamu melebar, menunggu burung yang hilang di balik rimbun pohon saga di belakang rumah itu kembali melintasi atap rumah. Kau mengusap mata yang merabun. Namun burung itu lenyap sama sekali. Tak kembali. Kau tercenung.
“Burung tak bertuan jika sudah tak bersangkar,” gumammu, seperti ujung janur kering disulut api.
Tiba-tiba kau melangkah cepat ke dapur. Mengambil parang yang disandarkan pada kaki lincak dan selalu kaugunakan membelah kayu bakar. Benda tajam itu kaubawa keluar. Matanya putih dan berkilat tajam.
Di serambi rumah, kau menatapi tiga pilar satu per satu. Jujur, setia, menerima! Demikian ibu memaknai ketiga pilar itu. Kakimu melangkah pelan mendekati pilar samping kanan, sementara gagang parang masih tercengkeram.
Inikah pilar kejujuran yang akan terus menopang sangkar perkawinan? Senyummu pahit. Berkelebat wajah suamimu di pelupuk mata. Sebentar kau menatap langit-langit serambi. Menimbang-timbang kekuatannya jika pilar penyangga tumbang satu per satu.
Tidak! Kejujuran itu terakui setelah terjadi pengkhianatan. Kau beralih ke pilar tengah. Merabanya sebentar. Ada getar-getar halus di dadamu. Kesetiaan sesuci apakah yang harus dipertaruhkan?
“Kalau sudah ‘lapar’ di sini, apa aku harus terbang ke Karangpenang untuk ‘makan’? Yang penting aku kan tidak ‘jajan’ di luar!”
Teringat kata-kata itu membuat napasmu memburu, lalu mengayunkan parang dengan keras. Simbol kesetiaan itu bergetar.
***
Madura, Februari 2018




[i] Barang bawaan mempelai pria untuk pengantin wanitanya



Rabu, 21 Februari 2018

Cerpen "Pesta Kematian" dimuat Koran Tempo

Dimuat Koran Tempo, 17 Februari 2018
Pesta Kematian
Cerpen Muna Masyari

Janda setengah tua itu telah merencanakan pesta untuk kematiannya sendiri. Lihatlah! Semur sapi kentang, rendang, daging bumbu rempah, kuah santan, daging kuah kuning, lodeh nangka muda, sate, telur rebus digoreng berlumur tepung, memanjakan selera pelayat yang tentunya sungguh sangat jarang menikmati masakan semacam ini, kecuali ada acara komantan[i] atau orang mati.
Ia, janda setengah tua itu, telah mengumpulkan uang untuk pesta kematiannya sejak bertahun-tahun lalu. Menyembelih sapi merupakan adat kematian yang disakralkan di kampungnya. Sembelihan sapi bisa menunaikan aqiqah untuk yang baru saja mangkat, menghargai pelayat dengan jamuan laik, sekaligus petuah nyata bagi yang masih hayat agar sifat pelit tidak menguasai tabiat.
Di bawah bantal, tempat kepalanya terkulai setelah ruh dijemput malaikat ajal, ditemukan kantong kain kumal berisi sejumlah recehan dan lembar-lembar uang kucal. Sebagian uang itu sudah ditarik dari edaran beberapa tahun silam. Setelah dihitung, cukup untuk membeli dua ekor sapi besar dan kebutuhan dapur lainnya. Ditambah dengan hasil penjualan sepasang sentar[ii] -yang kauhadiahkan pada malam pertama kita- berbungkus plastik bening yang ditemukan di antara tumpukan uang itu.
Tidak ada yang tahu pasti pada jam dan menit keberapa ia meninggal. Tubuhnya ditemukan sudah terbujur kaku dan beku di atas lincak –tempat kita sering berbagi kehangatan dalam dingin malam pada musim penghujan dan awal-awal kemarau- ketika istri tetangganya mengantarkan bumbu rempah, kemiri, cabai merah, kentang, dan minyak goreng, sepulang dari pasar. Padahal kemarin sorenya ia masih mendatangi rumah tetangganya itu untuk memesan barang belanjaan tersebut.
“Untuk apa belanja sebanyak ini?” istri tetangganya bertanya heran waktu itu.
“Ada perlu saja,”
Biasanya, ia hanya memesan tahu dan bawang merah. Kadang setumpuk teri basah seharga duaribu rupiah. Tentu terkecuali menjelang lebaran –dan saat mengenang tanggal dan bulan  kematianmu yang tak pernah kulupa.
Saat menyerahkan uang itulah tanpa sengaja istri tetangganya bersentuhan dengan tangan janda setengah tua itu.
“Tanganmu panas sekali. Bibbik[iii] sakit?”
Tidak langsung menjawab. Hanya terbatuk. Patah-patah. Matanya basah memerah. Tampak rekat pada bulu mata.
“Mau dikerokin, Bik?”
“Besok saja, sepulang kau dari pasar,”
Ia pun pamit pulang dengan sesekali terbatuk hingga terbungkuk-bungkuk. Istri tetangganya menatap penuh iba.
Surut ke belakang, seminggu sebelum dijemput malaikat ajal, janda setengah tua itu meminta tetangganya menjual dua kambing yang dipelihara sejak suaminya masih ada. Itu pun setelah ayam-ayam di kandang juga habis terjual.
“Kenapa dijual semua?” tetangganya bertanya sambil menurunkan dua kambing dari tangga kandang.
“Capek mengurusnya,” tersengal batuk sebentar.
Sejak suaminya meninggal, hanya dengan ternak piaraan itulah janda setengah tua itu hidup. Berbagi sepi. Berbagi kasih.
Pada sepasang mata dua kambingnya ia melihat tatapan hangat lelaki yang telah meninggalkan dirinya pergi. Kenyinyiran mulutnya memberi kebahagiaan tersendiri, serasa mendengar omelan sang suami –tentu saat kau mengomel karena secangkir kopi tak segera terhidang, saat sayur keasinan, saat kehilangan korek sehabis makan hingga harus menyulut ujung rokok ke mulut tungku. Kau tahu? Saat mengomel wajahmu terlihat lucu. Lucu sekali!
Pun, keributan anak ayam saat berebut makanan mengingatkan impiannya pada bocah-bocah yang tak pernah ia lahirkan hingga usia pernikahannya terpenggal ajal.
Setelah ayam-ayam dijual, janda setengah tua itu seperti seorang ibu ditinggal anak-putu. Akan tetapi, ia memang tidak mau kematiannya menjadi kepergian yang piatu. Hasil penjualan ayam ia belanjakan barang kebutuhan untuk hari kematian nanti. Termasuk dua kambing betina-jantan yang telah menemani kesendiriannya, akan segera digiring ke pasar dan kepergian keduanya akan menggenapi kesepian.
Setelah diminumi air dedak, dipakani daun pisang hingga kenyang, si tetangga menyeret dua kambing gemuk itu ke pasar hewan. Hasil penjualannya disuruh belikan beras, gula, bawang putih, biji kopi, pada istrinya, atas permintaan si janda setengah tua.
Hari ini, ia telah sempurna merayakan kepergian dengan pesta kematian sebagaimana yang direncanakan. Jenazahnya diantar ke pekuburan dengan ruap aroma kembang seperti keberangkatan mempelai –apakah kau masih ingat aroma pernikahan kita dulu?
Sekembali pengantar jenazah dari pekuburan, tenda-tenda dibangun menyungkupi seluruh halaman, tempat penyambung tahlil nanti malam –dan malam-malam berikutnya- yang jumlahnya mencapai ratusan. Seekor sapi  gemuk disembelih. Para ibu sibuk menyiapkan olah masakan yang sungguh sangat jarang dinikmati oleh si janda setengah tua semasa ruh masih bersemayam di kandung badan. Tentu aku akan merasa bahagia dengan pesta kematian itu....
***
Duda tua itu tidak pernah ingin merencanakan pesta untuk kematian dirinya. Menurutnya, kepergian tidak harus dirayakan dengan penyembelihan seekor hewan dan membuat olah masakan yang beragam. Peran pelayat justru sebagai obat bagi keluarga yang ditinggal mangkat –meskipun aku tidak memiliki keluarga, bukan sekadar penikmat makanan lezat.
Ia memang tidak begitu merumitkan hidup –tentu saja berbeda dengan cara berpikirmu yang rumit itu. Semua dijalani seiring suara hati. Seperti air mengalir, dan tetap meyakini pemberhentian dalam kubangan yang tubirnya tidak akan bisa dipanjat; liang lahat.
Sejak ditinggal istri, hidup bersendiri membuat hari-harinya lebih banyak di habiskan di pasar hewan dan warung yang menyediakan kopi, gorengan serta sundal murahan –istilah yang kaugunakan untuk rokok lintingan noncukai, dengan rasa cemburu.
Duda tua itu ditemukan mati pada pagi hari, di serambi warung kopi. Puntung rokok berserakan di lantai, di antara dahak berdarah yang mulai dikerubung lalat. Orang-orang meyakini sangkaan sendiri; ia mati dengan penyakit paru parah yang tak pernah mencoba mengobati.
Semalam ia memang tidak beranjak pulang hingga semua pengunjung bubar. Batuknya senyinyir kambing lapar. Meskipun begitu, jemari tangannya tetap menjepit sebatang sundal murahan dan kepulan asap kian membuat napasnya sengal –ketika batuk separah itu biasanya kau segera mengambilkan air minum sambil berceramah panjang-lebar, menyuruhku berhenti merokok!
“Warung ini akan ditutup, apa kau tidak akan pulang?” perempuan pemilik warung bertanya dengan mata sipit terserang kantuk.
“Aku akan duduk-duduk di luar. Kau tutup saja!”
Ia pun beranjak meninggalkan bangku panjang dan cangkir kopinya yang tinggal ampas. Memungut korek di atas meja. Duduk di lincak serambi. Sendiri.
Semakin larut, dingin malam kian rapat meringkus badan. Pelepah nyiur di tepi jalan diam tak berkutik. Dadanya terasa sesak seperti ruang sempit dipenuhi gemulung asap. Batuknya tersendat. Suara-suara lesap.
Tiba-tiba ia merasa malam begitu sepi. Begitu sunyi. Sunyi yang mengepungnya dengan angkuh. Ia menjadi begitu rapuh. Luluh. Rubuh. Ingatannya melayang. Jauh ke masa silam. Aku teringat hari pernikahan kita. Tentang sampirmu yang sobek pada malam pertama. Denyit lincak yang terdengar lebih nyaring di sunyi malam dan sering menerbitkan kecemasan di matamu; malu di dengar mertua. Teringat aroma rambutmu yang basah di pagi hari dan membuatmu malu keluar kamar untuk segera membuatkan secangkir kopi.
Entah pada jam dan menit keberapa hidupnya yang seperti air itu berhenti mengalir. Terjebak dalam kubangan curam tanpa dasar. Asing, tak bertuan. Berpusar-pusar.
Pemilik warung menemukan tubuhnya sudah beku dan kaku. Bergelung badan dalam sarung. Perempuan pemilik warung itu berteriak panik. Tetangga berdatangan dan memeriksa tubuh dingin berbau apak. Bau asap rokok, keringat, bau kambing, amis dahak, bersekutu menyengat. Mengaduk isi perut. Daki menempel tebal di ujung lengan dan kerah baju.
Jasad duda tua itu digotong ke rumahnya yang lebih mirip penyimpanan barang tak laik pakai. Baju-baju dan sarung bergelantungan di paku dinding. Sebagian lagi berserak di tempat tidur. Sarung bantal terlempar ke sudut lincak tanpa kasur. Kapuk keluar dari balik lubang guling yang bolong dimakan tikus. Plastik bungkus rokok dan puntung berserakan di lantai. Jaring laba-laba dan wang-sawang bergelayut di atap.
Tidak ada uang di bawah bantal. Tidak ada bahan-bahan masakan di dapur. Tidak ada sapi untuk disembelih sebagaimana adat kematian yang disakralkan. Hanya ada seekor kambing kurus di kandang dan lima anak ayam yang baru disapih. Itu pun harus dijual untuk membeli kain kafan dan melunasi utang tiga cangkir kopi, gorengan dan sundal murahan di warung langganan.
Jasad duda tua itu dimandikan, dikafankan, lalu diusung ke pekuburan dengan ritual paling sederhana, seperti bocah piatu tanpa sanak keluarga. Tidak ada makanan lezat untuk merayakan kepergian. Tidak ada pesta kematian. Kematian piatu seperti itu apakah akan membuatku ingin menjadi pengantin kembali? Entahlah!
***
Sepasang suami-istri duduk di serambi, pada senja hari. Saling berbagi tentang bayang-bayang kematiannya sendiri di hari tua nanti.
***
Madura, Januari 2018




[i] pernikahan
[ii] giwang
[iii] Bibi



Selasa, 30 Januari 2018

Cerpen "Pemesan Batik"

Dimuat Kompas 28 januari 2018
Pemesan Batik
Cerpen Muna Masyari

Kali ini, untuk menggarap batik pesanan lelaki itu, ia memilih saat malam buta, di sebuah kamar berhias sarang laba-laba. Kamar penyimpan langut dan kemelut. Sebelumnya, hampir lima tahun pintu kamar itu dibiarkan terkatup serupa kebisuan mulut disumpal ujung selimut.
Ditemani kompor kecil bertindih wajan berisi cairan malam, perempuan itu menggores kain putih yang serupa kafan dan dihampar di pangkuan dengan cantingnya. Menggambar pola. Dituntun suara yang memantul dari palung paling rahasia. Setiap celupan canting pada cairan malam adalah detak jantung si pemesan yang memantul ke palung dadanya.
Di luar, jerit jangkrik beradu dengan desah gesekan daun pisang.
***
Sebagai pembatik yang biasa menerima pesanan khusus, bagi perempuan itu, corak, warna dan motif batik buatannya merupakan kesatuan rasa dan jiwa pemesan. Salah satu cara untuk bisa menjiwai saat menggarap batik pesanan, perempuan yang baru menginjak kepala empat itu mengajukan beberapa pertanyaan laiknya penjaga warung makan menanyai pelanggan.
Terlebih dahulu, ia bertanya, kain batiknya untuk siapa? Akan dikenakan sendiri? Dalam rangka apa? Acara keluarga, pesta atau dinas?
Atau, akan dihadiahkan pada orang lain? Istri? Suami? Teman? Orangtua? Saudara? Sahabat dekat? Atasan? Anak buah?
Dalam rangka apa? Kado pernikahan? Ulang tahun? Kenaikan pangkat? Hadiah prestasi?
Tak hanya itu. Ketika mengajukan pertanyaan, ia mencuri pandang pada kedalaman matanya. Memancing rasa yang menjalar dari palung dada. Mengaktifkan sinyal di dadanya sendiri seperti tangan seorang ibu ketika menyentuh buah hati.
Tak jarang ia menerima pesanan dari seorang karyawan untuk dihadiahkan di ulang tahun atasannya, dengan harapan gaji dinaikkan karena bahan pangan melambung tak terjangkau. Ia membuatkan batik bermotif padih kepa’ (gabah kosong) bertabur di tanah, serupa beras tumpah. Ditambahi anak-anak burung dengan paruh menganga dan sayap mengepak rendah. Sementara corak warnanya mengambil warna gelap dan gunungan bermotif tanah retak.
Ketika ada seorang guru hendak menghadiahkan kain batik pada anak didiknya karena meraih juara lomba mata pelajaran menjelang hari kemerdekaan, ia membuatkan batik bermotif Tabur Bintang dengan latar biru langit. Dari goresan canting, polesan warna, tercurah harapan masa depan secerlang bintang di gelap malam. Saat menggarapnya, ia pun memilih nuansa pagi ceria di bawah rindang pohon lengkeng tua, tempat di mana sewaktu kecil ia disuapi ibunya sambil melihat anak ayam ribut berebut makanan.
Batik buatannya tidak berkutat pada motif dan corak yang sudah dipatenkan sebagai batik Madura, seperti batik Sagarah, Gentongan, Kembhang Saladri, Kerraban Sape, Mo’-ramo’ dan lainnya. Ia membatik dengan menyatukan imajinasi dan jiwa. Menggurat motif dan corak sesuai perasaan pemesan. Semakin kuat jiwa dan perasaan pemesan, semakin hanyut ia dengan cantingnya, semakin halus noktah dan guratan yang dihasilkan, semakin membutuhkan waktu panjang untuk menyelesaikan. Tak jarang ia melakukan tapapuasa demi menghasilkan karya yang sempurna.
Untuk pemesan batik kali ini, tak sekadar melakukan tapapuasa selama tujuh hari, ia pun terpaksa menyepuh kenangan demi merasakan kemarahan yang sama kentalnya dengan apa yang dirasakan si pemesan. Terpaksa menguak pintu kamar berkarat, penyimpan kisah laknat yang tak pernah lumat dan sempat menimbulkan kiamat.
Di hari ketiga tapapuasa, daun pintu itu dibuka dan menimbulkan denyit parau. Sarang laba-laba dan wang-sawang bersekutu. Ranjang dan seprai berlapis debu. Di kamar itu, langut dan kemelut saling pagut. Ia tak cukup memiliki kekuatan untuk membukanya, sepanjang lima tahun ini. Membiarkan pintunya rapat terkatup sama artinya berdamai dengan kenangan pada malam terkutuk.
Akan tetapi, pemesan batik itu datang suatu senja, ketika matahari tak lagi jelita. Kulitnya legam dan berkumis tebal. Dari mulutnya tercium anyir kemarahan yang begitu kental. Kepulan asap rokok yang disemburkan dengan pedas seolah satu-satunya jalan mengurangi sesak.
Ia memesan batik untuk seseorang yang telah menyulut sulur-sulur api di dadanya. Katanya, sungguh cara paling purna menghadiahkan susuatu yang bisa dijadikan penyampai pesan. Mewakili kemarahan. Bahkan ancaman. Tanpa perlu mengumbar serapah dan cercaan sampah lewat kata-kata yang sudah diracuni amarah.
“Kain batik itu bukan sekadar hadiah pernikahan. Ia berupa surat pesan, jadi harus selesai dalam sebulan! Jangan sampai terlambat!” tegas lelaki itu.
Semula ia menolak begitu mencium anyir kemarahan dan dendam dari mulutnya. Ia tidak mau campur tangan perkara dendam. Akan tetapi, anyir kemarahan kian pekat begitu mendengar dirinya menolak.
“Mungkin kau sama saja dengan perempuan senok(1)[i] itu!” sindir lelaki itu, pedas.
Ia terdiam. Tidak tersinggung. Perkataan yang menyembur dari kemarahan tak lebih dari celoteh anak ayam berebut makanan. Kata ibunya.
 “Samua perempuan sama saja! Tidak tahu diuntung! Dia yang memaksaku bekerja ke Malaysia untuk beli gelang dan kalung. Sepergianku, di belakang malah main serong!” mendengus geram.
Perempuan itu menelan ludah. Sepat. Seperti ada lidah api menjilati sudut hati. Ia melihat kebodohan dan kemarahan yang sama pada wajah lelaki di depannya. Ia tahu bagaimana kerasnya banting tulang di negeri orang. Bekerja tak kenal malam. Dalam 24 jam, tak jarang hanya sempat memejam mata dua jam. Telat bangun, cacimaki majikan seperti semburan air didih dari mulut keran.
Ia pernah merasakan didihnya darah yang mengalir di sekujur tubuh begitu tahu bahwa kekasih yang selama ini dikirimi uang hasil memeras peluh justru berlabuh ke lain tubuh.
“Bajingan itu boleh mengawini biniku, tapi setelah melangkahi mayatku!” lelaki itu menepuk dada tiga kali, “aku menantangnya!”
Amarah berletupan.
“Buatkan batik pesan untuknya! Aku pulang untuk membuat perhitungan! Etembhang pote mata lebbi bhagus pote tolang[ii]!” pungkasnya.
Tanpa diundang, kejadian malam laknat itu terpampang serupa lembar-lembar foto tua dalam album hitam. Setiap lembar terbuka bergantian seperti dihempas angin kencang.
Di bawah langit kelam dan deru angin kencang, saat pulang dari rantau. Merayapi pertengahan malam baru menginjak kampung halaman. Seturun dari ojek, hujan deras yang memberingas ia tebas dengan langkah gegas sambil menjinjing kardus dan tas. Memburu teras demi segera berlindung dari hujan deras.
Rumah sepi bagai tak berpenghuni. Pintu terkunci. Sebentar ia mengintip ke dalam melalui celah jendela. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia pulang tanpa pemberitahuan. Hendak menghadiahkan kejutan.
Tanpa kunci cadangan, ia memilih masuk lewat pintu samping belakang, dekat kamar mandi. Ada pintu kayu yang bisa dibuka dari luar dengan mengulurkan tangan lewat celah lubang di bagian tepi. Dengan sedikit menggeser kunci kayu, pintu lorong penghubung antara kamar mandi dan rumah terkuak. Empat tahun ditinggal, rumah itu tidak ada perubahan, termasuk pintu samping belakang.
Langkahnya dipelankan agar tidak menimbulkan suara. Kardus dan tas besar setengah basah diletakkan hati-hati. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar, tempat menghabiskan malam-malam mesra selama 24 bulan, sebelum pergi meninggalkan kampung halaman.
Pintu didorong agak ragu. Tidak dikunci. Akan tetapi, begitu terbuka, petir di luar serasa menyambar tepat di atas kepala. Betapa sulit untuk percaya. Di atas ranjang, dua tubuh saling labuh.
Dengan kepala sarasa akan pecah ia berlari ke dapur, mencari sebilah pisau, namun hanya menemukan setumpuk cabai di lincak yang dipenuhi perabot kotor.
***
Sebelum dilipat, kain batik berlatar warna kunyit busuk itu dihampar. Masih hangat, karena baru saja diturunkan dari tali jemuran. Matanya nanar memerhatikan hasil batiknya dengan dada berdenyar.
Daun-daun waru bertebaran sebagaimana korban musim kemarau, sebagai simbol cinta yang tak sempurna. Daun-daun itu berwarna hijau layu. Bagian tepi daun bergiligir, bagai bekas dilahap ulat. Pada tepi bawah kain, sulur-sulur api saling jilat, semerah darah. Di atasnya, celurit-celurit berujung lancip saling silang.
Perempuan itu menamainya batik arek lancor.
Sebentar lagi, begitu pemesan batik itu datang sesuai perjanjian, ia akan melipat kain batiknya dengan rapi, dan memasukkan ke dalam peti mungil terbuat dari kayu jati. Ia akan mengajak pemesan batik itu ke pantai Jumiang, dan melarungkan peti kecil berisi segala dendam dan amarah itu ke lautan.
Biarlah pengkhiatan menjadi urusan semesta. Kelak, ia akan menemukan muaranya sendiri. Kembali pada yang memiliki.
Pun demikian yang dilakukan perempuan itu lima tahun silam. Sebuah ajaran yang ibu berikan, sebelum kemarahan yang lebih pitam melumatnya jadi arang.
***
Madura, Oktober 2017



[i] pelacur
[ii] Daripada putih mata lebih baik putih tulang (sebuah pepatah Madura; daripada menanggung malu lebih baik mati berkalang tanah)